Monday, November 1, 2010

Kelainan Otak Bisa Bikin Kegemukan


New York, Masalah kegemukan dan juga obesitas ternyata bukan hanya seputar ukuran tubuh melainkan berhubungan juga dengan ukuran otak. Jika ukuran otak tidak normal, makin besar risiko untuk memiliki ukuran tubuh yang tidak proporsional.

Perbedaan ukuran otak pada orang-orang yang bersiko tinggi mengalami obesitas terletak di bagian frontal lobe yang mengatur impuls dan perencanaan. Ukuran frontal lobe yang lebih kecil kebanyakan menjadi obesitas.

Ketidaknormalan di bagian itu dapat memicu perilaku impulsif (keinginan yang menggebu-gebu) dan gangguan kontrol diri sehingga nafsu makan tidak terkendali.

Dr Antonio Convit dari New York University mengungkap hal itu ketika mengamati 91 remaja berusia rata-rata 17 tahun. Sebanyak 54 persen di antaranya mengalami obesitas, dengan berat badan rata-rata 136,1 kg dan indeks massa tubuh rata-rata 39.

Uji kognitif yang diberikan pada kelompok tersebut menunjukkan adanya perilaku impulsif dalam kaitannya dengan pola makan. Dr Antonio mengungkap ukuran frontal lobe pada partisipan di kelompok ini relatif lebih kecil, khususnya di bagian orbitofrontal cortex.

"Remaja yang mengalami kegemukan belum tentu karena malas. Ada kelainan di otak yang menyebabkan seseorang lebih berisiko mengalaminya," ungkap Dr Antonio seperti dikutip dari AOL Health, Senin (1/11/2010).

Tidak diketahui pasti mana yang benar, ukuran otak mempengaruhi risiko obesitas atau sebaliknya ukuran tubuh yang mempengaruhi otak.

Sebelumnya memang diketahui, obesitas bisa mempengaruhi sistem kekebalan tubuh sehingga meningkatkan risiko peradangan termasuk di otak.

Douglas Husbands, seorang pakar niutrisi di California memilih untuk berhati-hati menyimpulkan hal itu. Menurutnya tidak ada bukti yang cukup untuk mengatakan ukuran otak bsia mempengaruhi risiko obesitas.

"Sejujurnya kemungkinan bahwa kedua hal itu saling berhubungan memang ada. Namun saya pikir masih perlu penelitian yang lebih banyak dan mendalam mengenai hal itu," ungkap Douglas.

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth

Dongeng Berperan Dalam Pendidikan

WAYKANAN, LAMPUNG, KOMPAS.com--Motivator pengembangan kecakapan belajar, Khrisna Pabichara mengatakan dongeng memiliki posisi strategis dalam mengembangkan kecerdasan berbahasa bagi anak didik sehingga tidak bisa dipisahkan dari pendidikan.

"Melalui dongeng, seorang pendidik juga dapat merangsang kecerdasan intelegensia, kemampuan berpikir secara logis sistematis, kemampuan beriteraksi dengan sesama anak, maupun selera berbahasa dan nilai seni," ujarnya di Blambanganumpu, Minggu.

Oleh sebab itu, lanjut dia, dongeng jangan dikesampingkan begitu saja dari pendidikan, karena kecerdasan hati yang meliputi kecerdasan emosional dan spiritual ada pada dongeng.

"Jika selama ini asupan pendidikan lebih ditekankan pada pengembangan kecerdasan intelegensia anak didik, lewat dongeng anak juga bisa mengasah kecerdasan hati, karena banyak dongeng baik yang berasal dari nusantara maupun dari mancanegara mengusung nilai moral dasar," jelasnya.

Selain itu juga, lanjut dia, dongeng juga mampu merangsang imajinasi dan kreativitas anak.

"Dongeng jenis petualangan akan membantu perkembangan kecerdasan estetika dan kemampuan menganalisa masalah pada anak yang kelak akan berguna bagi diri peserta didik itu sendiri dan bagi lingkungannya," tegasnya.

Ia juga menambahkan, kesadaran berdisiplin dapat ditanamkan melalui dongeng-dongeng yang mengandung nilai-nilai kedisiplinan.

"Dongeng juga perlu memiliki unsur jawaban terhadap beberapa hal yang ingin diketahui anak didik, namun, untuk dongeng seperti ini, dibutuhkan kreativitas pendongeng dalam mengemas dan mengembangkan cerita," paparnya.

Anak usia dini, sambung dia, terutama di bawah usia lima tahun memiliki aktivitas yang spontan, alami, dan sangat bersemangat untuk mengetahui hal-hal yang baru ditemui atau dialaminya.

"Oleh sebab itu, setiap pendongeng perlu memahami kondisi anak didik, terutama proses tumbuh-kembang kreativitasnya. Karena itu, dongeng yang diceritakan harus dipilah secara bijak dan tepat dan jangan asal," katanya.

Ia pun mengharapkan, para guru pendidikan usia dini (PAUD) di daerah itu memiliki minat tinggi dalam hal membaca dan mengasah ketrampilan berkomunikasi sebagai bekal mendongeng.

"Seorang pendongeng dituntut mempunyai kemampuan bercerita. Ia mesti piawai memainkan intonasi suara, ekspresi, dan bahasa tubuh," pungkasnya.

Sumber :ANT