Thursday, October 21, 2010

Riset: Dokter "Berkonspirasi" Dengan Perusahaan Farmasi

Singapura (ANTARA/Reuters) - Para dokter cenderung memberi resep obat produksi perusahaan farmasi yang mempromosikan produknya ke dokter bersangkutan namun pasienlah yang membayar lebih biaya obat tersebut.

Hasil riset tim peneliti pimpinan Geoffrey Spurling dari Universitas Queensland, Brisbane, Australia, ini juga mendapati fakta bahwa pasien yang menerima obat-obatan non-generik dari para dokter itu tidak selalu tepat bagi dirinya.

Laporan hasil penelitian itu yang dipublikasikan Rabu didasarkan pada 58 studi di sejumlah negara.

Hasil riset tersebut mendapati informasi perusahaan farmasi mempengaruhi para dokter dalam menetapkan resep obat kepada pasiennya.

"Anda tidak bisa mengatakan bahwa informasi dari perusahaan-perusahaan farmasi itu membantu peresepan obat para dokter seperti diklaim perusahaan-perusahaan farmasi itu," kata Spurling.

Klaim para dokter bahwa mereka sama sekali tidak terpengaruh oleh informasi perusahaan farmasi saat memutuskan resep obat pasiennya juga tidak terbukti dalam hasil studi itu.

"Anda patut mengatakan bahwa setidaknya pada saat tertentu, para dokter itu terpengaruh," katanya kepada Reuters.

Beberapa peneliti yang terlibat dalam riset pimpinan Spurling ini merupakan anggota "Healthy Skepticism", organisasi riset, pendidikan, bantuan hukum nirlaba internasional yang dibentuk untuk membantu mengurangi bahaya informasi kesehatan yang menyesatkan bagi publik.

Laporan penelitian itu menyebutkan bahwa para dokter yang menerima penjelasan maupun informasi dari perusahaan farmasi lebih mungkin memberi resep obat produksi perusahaan farmasi bersankutan kepada pasiennya.

Hasil 38 studi yang dilakukan juga menunjukkan adanya kecenderungan keterkaitan langsung antara informasi perusahaan farmasi itu dan peresepan obat.

Namun hasil 13 studi lainnya tidak menunjukkan adanya keterkaitan itu, kata Suprling dan anggota tim riset pimpinannya dalam laporan penelitian yang dipublikasi jurnal "Public Library of Science PLoS Medicine" Amerika di http://www.plosmedicine.org/article/info%3Adoi%2F10.1371%2Fjournal.pmed.1000352 itu.

Tidak satu pun hasil studi itu mendapati para dokter menjadi kurang sering memberi resep obat karena bahan promosi maupun informasi perusahaan farmasi.

Menanggapi hasil riset itu yang dilakukan di sejumlah negara, seperti Amerika Serikat, Inggris, Kanada, Denmark, Prancis, Estonia, Turki dan Australia, Dr.Sid Wolfe dari kelompok advokasi, Public Citizen, mengatakan bahwa industri farmasi tidak mengeluarkan dananya berikut staf penjualan obat kalau tingkat keberhasilannya nol.

"Mayoritas dokter mendapatkan informasi tentang obat-obatan dari industri farmasi ini," katanya.

Para staf penjualan obat perusahaan farmasi ini bahkan sering membawakan makan siang ke kantor seorang dokter praktik maupun mengundang mereka ke acara-acara olah raga dan hiburan lainnya saat mereka memberikan penjelasan.

Menurut Spurling, hasil studi di Inggris terhadap lebih dari seribu orang dokter umum mendapati bahwa mereka yang lebih sering bertemu staf penjualan obat cenderung lebih sering memberikan resep-resep obat mahal.

Namun, tidak ada jaminan bahwa pasien mendapatikan obat-obatan yang tepat bagi penyakitnya.

Mengutip hasil-hasil studi yang ada, Spurling mengatakan, mutu resep obat yang diberikan para dokter kepada pasiennya itu berada di bawah standar pedoman maupun rekomendasi para ahli.

Sebagai contoh, pedoman resmi di Amerika Serikat sudah meminta para dokter menggunakan obat-obatan generik yang terlama dan termurah bagi para penderita tekanan darah tinggi dan diabetes sebelum beralih ke obat-obat paten yang lebih baru dan biasanya masuk kategori resep obat-obatan berbahaya.

Temuan empiris ini mendorong para peneliti mengusulkan adanya pengaturan terhadap besaran uang yang boleh dialokasikan industri farmasi untuk kepentingan promosi produk mereka.

Pada 2004 saja, perusahaan-perusahaan obat Amerika menghabiskan dana sebesar 57,5 miliar dolar AS untuk kegiatan promosi.

"Kita perlu regulasi yang lebih atas promosi obat. Kita tidak mendapati adanya manfaat apapun," katanya.

Selain itu, para dokter juga perlu mendapat informasi tentang obat dari sumber yang beragam seperti universitas dan organisasi-organisasi kredibel lainnya, katanya.

"Seorang dokter yang lain tentu mengikuti informasi terkini soal obat dari kebiasaan membaca literatur dan jurnal-jurnal ilmiah," kata Wolfe.

Kalau para dokter itu tidak punya waktu mendapatkan informasi obat dari kebiasaan membaca melainkan bergantung pada penjelasan staf penjualan perusahaan farmasi, mereka berarti bukanlah dokter yang baik, katanya.

Berkaitan dengan masalah ini, ProPublica, pendukung jurnalisme investigatif, dan sejumlah organisasi lainnya di AS membeberkan fakta bahwa tujuh perusahaan farmasi di negara adidaya itu membayar ribuan dolar AS kepada sedikitnya 17 ribu orang dokter untuk berbicara dengan sejawatnya tentang produk-produk obat perusahaan farmasi yang bermitra dengannya.

Tuesday, October 19, 2010

Langsing Sehat dengan Jalan Kaki


VIVAnews – Jalan kaki itu sehat, segar, fun, dan cocok untuk semua umur. Keuntungan lain berjalan kaki adalah bisa menurunkan berat badan. Jika ingin mengurangi bobot tubuh atau menjaga berat badan ideal aktivitas murah ini bisa Anda praktikkan secara teratur.

Agar tidak cepat bosan, Anda juga bisa mencoba bermacam gaya berjalan kaki. Selingi dengan variasi berjalan kaki untuk membantu Anda tetap fokus dan untuk meningkatkan kebugaran tubuh.

Berjalan interval

Latihan ini merupakan kombinasi antara latihan berat dengan latihan ringan secara intens. Anda dapat melakukan ini dengan berjalan cepat. Lalu, Anda menormalkan lagi dengan berjalan lambat. Variasi gerakan dan intensitas ini dapat membuat jantung Anda sehat dan membakar lemak lebih banyak.

10.000 langkah

Para ahli mengungkapkan, orang dewasa membutuhkan 10 ribu langkah per hari agar tetap aktif dan sehat. Untuk mengetahui apakah Anda sudah mencapai angka itu, mungkin ada baiknya Anda menggunakan alat ukur.

Senam berjalan

Sementara Anda berjalan, tambahkan beberapa gerakan dalam aktivitas jalan kaki untuk meningkatkan massa otot. Sebagai contoh, setelah lima menit pemanasan, lakukan 20 kali gerakan menekuk lutut. Kemudian hentikan gerakan itu sambil tetap jalan selama sekitar tiga menit. Lalu, berhenti dan kemudian melakukan 20 squats. Setelah selesai, teruskan langkah kaki Anda.

Hiking

Olahraga hiking merupakan olahraga yang menggunakan kaki. Berjalan kaki sambil mendaki gunung, akan memberikan tantangan pada otot-otot kaki Anda. Medan yang sulit Anda lewati, seperti naik turun bukit, akan membuat otot-otot bekerja lebih optimal. Hasilnya pun akan lebih optimal. Plus, Anda bisa keluar dari rutinitas dan dapat menikmati pemandangan indah daerah tersebut.

Berjalan mundur

Berjalan mundur mengharuskan Anda untuk menggunakan otot berbeda, yang dapat membantu Anda untuk meningkatkan otot dan membakar kalori lebih banyak. Jika Anda tidak ingin menghabiskan seluruh latihan dengan berjalan mundur, kombinasikan dengan gerakan lain untuk memberikan diri Anda tantangan.

By Siswanto

Monday, October 18, 2010

masalah obesitas

Dikutip dari Mayo Clinic, Senin (7/6/2010), masalah lebih serius yang dihadapi penderita obesitas (IMT > 30) antara lain sebagai berikut:

Gangguan komposisi lemak tubuh, termasuk kolesterol tinggi
Ketidaksuburan, impotensi dan gangguan menstruasi
Penyakit jantung dan pembuluh darah (stroke, serangan jantung, tekanan darah tinggi)
Sindrom metabolik
Penyakit kulit seperti intertrigo (radang di lipatan tubuh) dan luka yang sukar sembuh
Diabetes tipe-2
Gangguan tidur (sleep apnea)

Bahan Kimia Berbahaya bagi Ibu Hamil dalam Kosmetik

Terkait dengan kehamilan, menurut ahli dermatologi, semua yang dikonsumsi dan digunakan ibu hamil tidak hanya berpengaruh bagi si ibu, tapi juga kepada janin.

Wanita seperti kita ketahui identik dengan menjaga kecantikan, terutama penampilan. Mereka sibuk dengan fashion dan kosmetik.

Terkait dengan kehamilan, ternyata bahan-bahan kosmetika beberapa diantaranya bisa terserap masuk ke dalam aliran darah dan ikut berpengaruh terhadap janin. Kemudian, yang perlu diingat, semakin berkhasiat sebuah produk kecantikan, maka semakin kuat pula bahan aktifnya, dan kemungkinan berbahaya pula akibatnya terhadap janin karena bisa dipastikan ia mengandung bahan aktif yang besar.

Bahan-bahan aktif apa saja sih yang harus dihindari:

1. Retinoids

Bahan aktif ini termasuk tipe dari vitamin A yang berfungsi meningkatkan proses regenerasi sel kulit. Biasanya banyak terkandung di produk kecantikan muka yang berfungsi sebagai anti aging, menyamarkan kerut atau obat jerawat. Untuk obat jerawat biasanya mengandung turunan dari retinoid yaitu isoretinoin atau accutane. Beberapa studi menunjukkan bahwa vitamin A dosis tinggi bisa menyebabkan cacat pada janin seperti lahir tanpa kepala, cacat sumsum tulang belakang, bibir sumbing, atau ginjal membalon (hydronephrosis).

Di keterangan bahan aktif, biasanya nama retinoid bisa bermacam-macam seperti:differin (adapelene), retin-A, renova (tretinoin), retinoic acid, retinol, retinyl linoleate, retinyl palmitate, tazorac and avage (Tazarotene)


2. Salicylic acid

Bahan aktif ini juga biasa terdapat di obat jerawat dan kosmetik untuk perawatan kulit seperti clenser dan toner. Fungsinya memang mengangkat minyak yang tertinggal di sela pori-pori kulit dan mengangkat sel kulit mati. Salicylic acid ini juga masuk dalam "keluarga" aspirin, jadi manfaatnya bisa mengurangi bengkak atau radang.

BHA atau beta hydroxy acid adalah turunan dari salicylic acid yang kerap digunakan sebagai bahan baku exfoliant. Dosis tinggi dari obat ini bisa menyebabkan pendarahan pada janin, toksisitas atau keracunan pada ginjal, bayi lahir dengan kondisi bisu tuli. Penggunaan berlebih pada produk ini sama saja dengan efek dari minum tablet aspirin dua kali sehari.

Tapi jangan khawatir, dosis rendah seperti penggunaan sekali sehari pada kulit masih terbilang aman menurut para ahli. Penggunaan kosmetik yang mengandung AHA atau lactic acid/glycolic acid juga masih diperbolehkan. Jadi untuk moms yang biasa peeling atau facial untuk perawatan muka, sebaiknya mulai lebih berhati-hati. Jangan segan bertanya kepada kapster perihal ada tidaknya kandungan bahan aktif tersebut. Penggunaan bahan alami seperti buah-buahan untuk masker juga bisa jadi alternatif sehat dan murah.


3. Kedelai

Kedelai? Mungkin anda langsung berteriak seperti itu. Ini bukan kedelai yang dimakan, mom. Tapi kedelai yang digunakan sebagai bahan campuran kosmetik.

Istilah yang biasa dicantumkan dalam produk adalah Lethicin, Phosphatidylcholine, Soy atau Textured vegetable protein (TVP). Selama kehamilan, kosmetik dengan campuran ini malah bisa menyebabkan bercak hitam di wajah. Gejala ini juga bisa dialami untuk penggunaan kosmetik dengan bahan alami lain seperti minyak bergamot. Jadi kalau selama hamil muncul bercak hitam di kulit atau wajah, jangan buru-buru menyalahkan hormon sebagai penyebabnya. Teliti dulu satu per satu bahan kosmetik yang Anda gunakan.


4. Produk penghilang jerawat

Peningkatan hormon estrogen di trisemester pertama kehamilan kadang memunculkan efek samping seperti munculnya jerawat. Jika konsultasi ke dokter, biasanya akan diberi resep antibiotik. Tapi kalau ingin mengobati sendiri, usahakan untuk memakai produk pembersih wajah dengan kandungan salicylic acid tidak lebih dari 2%. Usahakan tidak memilih produk jerawat berupa lotion, gel, krim atau peeling yang mengandung bahan salicylic acid.

Kandungan aktif dalam produk penghilang jerawat:

- Beta hydroxy acid
- BHA
- Differin (adapelene)
- Retin-A, Renova (tretinoin)
- Retinoic acid
- Retinol
- Retinyl linoleate
- Retinyl palmitate
- Salicylic acid
- Tazorac and avage (Tazarotene)
- Tretinoin


5. Produk penghilang bulu

Salah satu kelemahan dari produk penghilang bulu kimia adalah alergi. Alergi bisa menjadi masalah yang menyebalkan di saat hamil. Karena itu berhati-hati saja dengan produk penghilang bulu yang mengandung: Potassium Thioglycolate, Calcium Thioglycolate, Sodium Hydroxide, Sanguisorba Officinalis Root Extract, Hydrolyzed Soy Protein.

Pastikan Anda mengecek kadar alergi terlebih dahulu dengan mengoleskannya di kulit selama beberapa menit, dan tunggu reaksinya 1×24 jam. Jika tidak ada ruam atau bengkak, berarti produk tersebut aman digunakan. Oh iya, terkadang ada beberapa kosmetik yang baik-baik saja digunakan sebelum hamil, namun menimbulkan alergi setelah digunakan saat hamil. Ini terjadi karena terkadang kulit menjadi lebih sensitif selama masa kehamilan. Solusinya, cari produk lain yang lebih aman dan tidak menimbulkan alergi.


6. Tabir surya

Titanium dioxide dan zinc dioxide masih termasuk bahan aktif tabir surya yang aman digunakan. Tapi ada beberapa kasus yang memunculkan reaksi alergi dan bercak hitam. Saran terbaik bagi masalah ini adalah hindari paparan matahari langsung di siang hari. Payung atau topi bisa menjadi alternatif.

Kandungan aktif dalam tabir surya:

- Titanium dioxide
- Zinc oxide
- Avobenzone (Parsol 1789)
- Oxybenzone
- Dioxybenzone
- Benzophenone
- Octyl methoxycinnamate (OMC)
- Para-aminobenzoic acid (PABA)
- Octocrylene.

Tuesday, October 12, 2010

Punya Gen Malas Lebih Bahaya Daripada Punya Gen Gemuk


Los Angeles, Beberapa orang terlahir dengan gen gemuk sehingga rentan mengalami obesitas. Meski risiko tersebut bisa ditekan dengan olahraga teratur, namun kenyataannya tak mudah sebab faktor genetik juga membuat seseorang malas berolahraga.

Sebuah penelitian terbaru di University of California, Los Angeles (UCLA) mengungkap adanya variasi genetik yang dapat mempengaruhi aktivitas fisik seseorang. Variasi tersebut membuat beberapa orang sangat terobsesi untuk berolahraga, sementara sebagian lainnya lebih suka menghabiskan waktunya untuk duduk santai sepanjang hari.

Dikutip dari Telegraph, Minggu (5/9/2010), variasi tersebut juga teramati ketika peneliti membandingkan intensitas gerakan fisik pada hasil penangkaran sekelompok tikus. Tikus yang aktif secara fisik ternyata lebih banyak dihasilkan dari induk yang secara naluriah cenderung lebih banyak bergerak.

"Pada manusia, pengaruh faktor genetik semacam itu tampak lebih nyata variasinya. Ada yang lebih senang duduk, membaca dan menonton televisi sementara yang lain sangat terobsesi untuk berolahraga," ungkap Prof Theodore Garland Jr, ahli biologi dari UCLA yang memimpin penelitian tersebut.

Prof Garland menambahkan, temuan ini bisa menjadi acuan baru dalam menentukan target pencegahan risiko obesitas. Dengan membidik gen malas, ahli farmasi sangat dimungkinkan untuk mengembangkan obat yang bisa membuat seseorang merasa tidak nyaman jika duduk terlalu lama.

Dalam penelitian terdahulu, pada ahli dari Medical Research Council di Cambridge mengungkap bahwa pengaruh gen gemuk bisa ditekan seminimal mungkin. Meski secara genetik punya bakat untuk mengalami obesitas, seseorang masih bisa menurunkan berat badan hingga 40 persen dengan olahraga secara teratur.

Pencapaian tersebut tidak selalu harus melalui olahraga berat seperti lari marathon. Bahkan dengan sekedar berjalan kaki atau berkebun setiap hari, seseorang sudah bisa menekan risiko kegemukan yang erat kaitannya dengan berbagai masalah kesehatan mulai dari diabetes hingga masalah jantung dan pembuluh darah.

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth