PENELITIAN terbaru pada tikus di laboratorium menunjukkan, konsumsi junk food dapat memicu terjadinya kerusakan sel syaraf otak mirip penyakit kepikunan Alzheimer.
Tikus yang diberikan makanan junk food selama sembilan bulan menunjukkan tanda-tanda abnormalitas pada otak berupa rangkaian kusut neurofibrillary yang berisi protein tau mengidikasikan adanya Alzheimer, demikian dilaporkan para ilmuwan dari Karolinska Institutet, Swedia.
Temuan ini mengindikasikan betapa kebiasaan gaya hidup moderan seperti diet kaya lemak, gula dan kolesterol akan memperbesar risiko terjadinya jenis kepikunan yang paling banyak ditemukan ini.
"Dari hasil pemeriksaan pada otak-otak tikus, kami menemukan perubahan kimiawi yan tidak jauh berbeda pada otak yang terserang Alzheimer," ungkap Susanne Akterin, ahli dari Alzheimer's Disease Research Center, di Karolinska Institutet.
"Kami sekarang curiga bahwa tingginya asupan lemak dan kolesterol yang dikombinasikan dengan faktor genetik dapat merugikan sejumlah substansi dalam otak, yang dapat memberikan kontribusi dalam perkembangan Alzheimer," tambahnya.
Alzheimer adalah penyakit yang belum ada obatnya. Hampir enam puluh persen kasus kepikunan atau demensia pada orang lanjut usia disebabkan oleh penyakit ini.
Dalam risetnya, Akterin meneliti varian gen atau protein apoE4, yang biasanya ditemukan pada 15 hingga 20 persen mereka yang memiliki faktor risiko mengidap Alzheimer. Gen ini berperan dalam sistem transportasi kolesterol pada tubuh.
Akterin memantau tikus yang direkayasa secara genetis memiliki varian gen tersebut. Tikus-tikus diberi makanan yang mengandung banyak lemak, gula dan kolesterol selama sembilan bulan. Jenis makanan ini merepresentasikan kandungan nutrisi yang biasa dijadikan di gerai fast food.
Tikus-tikus secara perlahan menunjukkan perubahan kimia dalam otaknya , yang mengidikasikan pembentukan abnormal protein tau yang merupakan penanda hadirnya Alzheimer, selain juga tanda bahwa kolesterol dalam makanan menurunkan kadar protein lain yang disebut Arc yang berperan dalam kemampuan daya ingat.
Sumber :Reuters
Showing posts with label junkfood. Show all posts
Showing posts with label junkfood. Show all posts
Tuesday, October 25, 2011
Wednesday, September 14, 2011
Junk Food Bikin Anda Depresi?
KOMPAS.com - Mudah-mudahan Anda tidak stres jika membaca artikel ini. Sebuah penelitian baru menyebutkan bahwa mengonsumsi makanan berlemak atau makanan yang sudah diproses akan mengakibatkan depresi dan kecemasan.
Fakta ini diperoleh dari hasil penelitian tim dari University of Melbourne, Australia. Mereka mensurvei 1.046 perempuan usia 20-93 tahun secara acak, selama lebih dari 10 tahun. Mereka lantas membuat suatu evaluasi psikiatri dan menilai pola makan wanita secara teratur. Dari situ didapati bahwa wanita yang menerapkan pola makan ala barat -seperti burger, pizza, roti putih, keripik kentang, dan minuman yang tinggi kadar gulanya- lebih cenderung mengalami mood disorder ketimbang mereka yang menerapkan pola makan Australia, yaitu sayuran, buah-buahan, daging merah, ikan, dan gandum utuh.
Kemungkinan ini tetap berlaku, terlepas dari usia wanita, berat badan, status ekonomi dan sosial, pendidikan, aktivitas fisik, kebiasaan merokok, dan minum-minuman keras. Hal ini tentu mengejutkan, karena faktor-faktor tersebut biasanya saling berkaitan. Misalnya, orang yang menerapkan pola makan yang buruk, berat badannya terus bertambah, dan hal ini menyebabkan depresi. Atau, orang yang sedang depresi bisa melarikan diri ke makanan, dan hal ini bisa membuat berat badan naik. Mengapa hanya karena mengonsumsi junk food lalu jadi depresi?
Sayangnya, tim peneliti hanya menyimpulkan bahwa pembalikan penyebab tidak dapat dijadikan perkecualian oleh studi mereka. Namun terlihat bukti-bukti kuat bahwa pola makan dan kesehatan mental memang saling terkait. Dan hal ini memang cukup mengkhawatirkan.
Menurut National Institute of Mental Health, lebih dari 26 persen orang Amerika berusia di atas 18 tahun (atau 1 dari 4 orang) mengalami mood disorder seperti depresi dan kecemasan. Depresi juga terlihat lebih banyak dialami wanita daripada pria. Mungkinkah karena lebih banyak wanita yang melarikan diri ke makanan saat sedang stres?
Sumber :Bon Appetit
Fakta ini diperoleh dari hasil penelitian tim dari University of Melbourne, Australia. Mereka mensurvei 1.046 perempuan usia 20-93 tahun secara acak, selama lebih dari 10 tahun. Mereka lantas membuat suatu evaluasi psikiatri dan menilai pola makan wanita secara teratur. Dari situ didapati bahwa wanita yang menerapkan pola makan ala barat -seperti burger, pizza, roti putih, keripik kentang, dan minuman yang tinggi kadar gulanya- lebih cenderung mengalami mood disorder ketimbang mereka yang menerapkan pola makan Australia, yaitu sayuran, buah-buahan, daging merah, ikan, dan gandum utuh.
Kemungkinan ini tetap berlaku, terlepas dari usia wanita, berat badan, status ekonomi dan sosial, pendidikan, aktivitas fisik, kebiasaan merokok, dan minum-minuman keras. Hal ini tentu mengejutkan, karena faktor-faktor tersebut biasanya saling berkaitan. Misalnya, orang yang menerapkan pola makan yang buruk, berat badannya terus bertambah, dan hal ini menyebabkan depresi. Atau, orang yang sedang depresi bisa melarikan diri ke makanan, dan hal ini bisa membuat berat badan naik. Mengapa hanya karena mengonsumsi junk food lalu jadi depresi?
Sayangnya, tim peneliti hanya menyimpulkan bahwa pembalikan penyebab tidak dapat dijadikan perkecualian oleh studi mereka. Namun terlihat bukti-bukti kuat bahwa pola makan dan kesehatan mental memang saling terkait. Dan hal ini memang cukup mengkhawatirkan.
Menurut National Institute of Mental Health, lebih dari 26 persen orang Amerika berusia di atas 18 tahun (atau 1 dari 4 orang) mengalami mood disorder seperti depresi dan kecemasan. Depresi juga terlihat lebih banyak dialami wanita daripada pria. Mungkinkah karena lebih banyak wanita yang melarikan diri ke makanan saat sedang stres?
Sumber :Bon Appetit
Friday, June 24, 2011
Strategi Jitu Atasi Ketagihan "Junk Food"
JAKARTA, KOMPAS.com — Di atas meja terhidang sajian makanan yang begitu menggoda. Ada keripik kentang yang gurih sekali. Di sebelahnya ada biskuit. Ada juga sepiring bakwan dan tahu goreng.
Anda tak bisa menahan diri untuk mencomot satu per satu, hingga semua yang tersaji habis? Anda mungkin sudah masuk kategori ketagihan makan makanan tak sehat. Jangan khawatir, Anda dapat menghentikannya. Berikut ini caranya:
1. Sarapan dengan benar
Mulailah hari dengan sarapan sehat, seperti jus buah, susu rendah lemak, yogurt, sereal tinggi serat, dan buah. Orang yang pola makannya tinggi serat mencerna makanan dengan lambat. Akibatnya, rasa lapar jadi tertunda dan keinginan untuk mengasup makanan berlemak juga berkurang.
2. Potong porsi dan ukuran
Jangan sekalipun mencoba berpantang makanan tak sehat karena akibatnya Anda justru makin tergoda untuk mencomotnya. Jika ingin, belilah dalam porsi kecil lalu bagilah dengan rekan di sebelah Anda.
3. Pilih kualitas
Seumpama Anda suka cokelat, pilihlah cokelat berkualitas tinggi yang pasti mahal. Karena mahal, Anda jadi tidak sering membeli.
4. Mulai olahraga
Olahraga akan memompa endorfin, yaitu morfin alami dalam tubuh, untuk beredar ke seluruh tubuh. Dengan berolahraga, Anda jadi punya waktu sedikit untuk makan. Untuk mengurangi keinginan makan cokelat atau makanan manis setelah makan besar, coba jalan-jalan sejenak di sekitar rumah.
5. Makan teratur
Melewati waktu makan akan menyebabkan kadar gula darah jadi turun. Akibatnya, Anda akan menyambar apa pun makanan manis di dekat Anda agar kadar gula bisa normal. Jaga kadar gula agar tetap normal dengan makan tiga kali sehari dengan gizi seimbang dan porsi yang sesuai untuk Anda. Ingat, jangan berlebihan.
6. Cari alternatif lain
Keinginan mencari makanan berlemak bisa jadi merupakan tanda dari tubuh butuh asupan lemak. Sebaiknya penuhi kebutuhan lemak tubuh itu dengan lemak yang sehat, seperti alpukat dan menggunakan dressing salad dari minyak zaitun. Menyantap yogurt buah segar, sorbet, atau es krim rendah lemak juga bisa untuk memenuhi kebutuhan tubuh akan makanan manis dan berlemak.
7. Pertimbangkan menggunakan suplemen
Banyak orang tak sadar dirinya kekurangan mineral zinc, zat yang terdapat dalam kerang dan daging sapi. Kekurangan mineral inilah yang menyebabkan lidah kita jadi kehilangan kepekaan. Akibatnya, kita jadi butuh lebih banyak garam dan gula untuk menikmati makanan. @diy
Anda tak bisa menahan diri untuk mencomot satu per satu, hingga semua yang tersaji habis? Anda mungkin sudah masuk kategori ketagihan makan makanan tak sehat. Jangan khawatir, Anda dapat menghentikannya. Berikut ini caranya:
1. Sarapan dengan benar
Mulailah hari dengan sarapan sehat, seperti jus buah, susu rendah lemak, yogurt, sereal tinggi serat, dan buah. Orang yang pola makannya tinggi serat mencerna makanan dengan lambat. Akibatnya, rasa lapar jadi tertunda dan keinginan untuk mengasup makanan berlemak juga berkurang.
2. Potong porsi dan ukuran
Jangan sekalipun mencoba berpantang makanan tak sehat karena akibatnya Anda justru makin tergoda untuk mencomotnya. Jika ingin, belilah dalam porsi kecil lalu bagilah dengan rekan di sebelah Anda.
3. Pilih kualitas
Seumpama Anda suka cokelat, pilihlah cokelat berkualitas tinggi yang pasti mahal. Karena mahal, Anda jadi tidak sering membeli.
4. Mulai olahraga
Olahraga akan memompa endorfin, yaitu morfin alami dalam tubuh, untuk beredar ke seluruh tubuh. Dengan berolahraga, Anda jadi punya waktu sedikit untuk makan. Untuk mengurangi keinginan makan cokelat atau makanan manis setelah makan besar, coba jalan-jalan sejenak di sekitar rumah.
5. Makan teratur
Melewati waktu makan akan menyebabkan kadar gula darah jadi turun. Akibatnya, Anda akan menyambar apa pun makanan manis di dekat Anda agar kadar gula bisa normal. Jaga kadar gula agar tetap normal dengan makan tiga kali sehari dengan gizi seimbang dan porsi yang sesuai untuk Anda. Ingat, jangan berlebihan.
6. Cari alternatif lain
Keinginan mencari makanan berlemak bisa jadi merupakan tanda dari tubuh butuh asupan lemak. Sebaiknya penuhi kebutuhan lemak tubuh itu dengan lemak yang sehat, seperti alpukat dan menggunakan dressing salad dari minyak zaitun. Menyantap yogurt buah segar, sorbet, atau es krim rendah lemak juga bisa untuk memenuhi kebutuhan tubuh akan makanan manis dan berlemak.
7. Pertimbangkan menggunakan suplemen
Banyak orang tak sadar dirinya kekurangan mineral zinc, zat yang terdapat dalam kerang dan daging sapi. Kekurangan mineral inilah yang menyebabkan lidah kita jadi kehilangan kepekaan. Akibatnya, kita jadi butuh lebih banyak garam dan gula untuk menikmati makanan. @diy
"Junk Food" Juga Bikin Kecanduan
JAKARTA, KOMPAS.com — Keseringan mengonsumsi makanan yang tergolong junk food ternyata punya efek kecanduan seperti halnya pada kokain atau nikotin, dan menyebabkan timbulnya dorongan makan secara berlebihan yang berakhir pada kegemukan.
Meski penelitian pada hewan percobaan tidak bisa secara langsung diaplikasikan pada manusia, sebuah studi pada mencit menunjukkan konsumsi berlebihan pada makanan yang tinggi kalori bisa memicu respons ketagihan di otak. Konsumsi makanan yang tinggi kalori juga membuat mencit di laboratorium makan secara kompulsif.
Para peneliti juga menemukan menurunnya kadar reseptor dopamine, hormon di otak yang memberikan sensasi rasa enak dan senang, pada mencit yang kegemukan, serupa dengan respons di otak pada manusia yang kecanduan narkoba. Ini berarti, respons otak orang yang kecanduan narkoba sama dengan orang yang hobi menyantap junk food.
"Kegemukan merupakan bentuk dari respons dorongan makan berlebihan. Oleh sebab itu, terapi pada bentuk kecanduan lain, misalnya kecanduan narkoba, mungkin bisa memberi efek yang positif pada pencandu junk food," kata Paul Kenny, peneliti dari Amerika Serikat.
Makanan yang tergolong junk food umumnya mengandung kalori, lemak, dan garam yang tinggi, melebihi dari yang dibutuhkan. Sementara itu, minuman yang menyertai makanan tersebut mengandung gula dengan kadar yang tinggi.
Meski penelitian pada hewan percobaan tidak bisa secara langsung diaplikasikan pada manusia, sebuah studi pada mencit menunjukkan konsumsi berlebihan pada makanan yang tinggi kalori bisa memicu respons ketagihan di otak. Konsumsi makanan yang tinggi kalori juga membuat mencit di laboratorium makan secara kompulsif.
Para peneliti juga menemukan menurunnya kadar reseptor dopamine, hormon di otak yang memberikan sensasi rasa enak dan senang, pada mencit yang kegemukan, serupa dengan respons di otak pada manusia yang kecanduan narkoba. Ini berarti, respons otak orang yang kecanduan narkoba sama dengan orang yang hobi menyantap junk food.
"Kegemukan merupakan bentuk dari respons dorongan makan berlebihan. Oleh sebab itu, terapi pada bentuk kecanduan lain, misalnya kecanduan narkoba, mungkin bisa memberi efek yang positif pada pencandu junk food," kata Paul Kenny, peneliti dari Amerika Serikat.
Makanan yang tergolong junk food umumnya mengandung kalori, lemak, dan garam yang tinggi, melebihi dari yang dibutuhkan. Sementara itu, minuman yang menyertai makanan tersebut mengandung gula dengan kadar yang tinggi.
"Junk Food" Memicu Depresi
WASHINGTON, KOMPAS.com - Mengonsumsi makanan yang mengandung lemak trans yang tinggi bukan hanya membuat seseorang terancam sakit jantung, namun juga meningkatkan risiko mengidap depresi, demikian hasil kajian ilmuwan di Spanyol.
Lemak trans (trans fat) adalah jenis lemak yang dapat ditemukan pada bentuk artifisial dalam produk-produk pastri dan makanan cepat saji. Sebagian besar lemak trans disintesiskan secara artifisial melewati proses kimia yang menambahkan hidrogen ke dalam minyak sayur. Dalam bahasa sederhana, itu artinya mengubah minyak cair menjadi lemak padat.
Peneliti dari Universities of Navarra and Las Palmas de Gran Canaria dalam riset terbarunya menyatakan lemak trans dapat memicu depresi. Hasil penelitian ini mendukung hasil beberapa kajian sebelumnya yang mengungkap dampak buruk jenis lemak ini bagi tubuh.
Dalam risetnya, para peneliti memantau dan menganalisa pola diet dan gaya hidup sekitar 12 ribu partisipan selama 6 tahun. Di awal penelitian, tak ada satu pun yang didiagnosa mengidap depresi, tetapi di akhir riset, sebanyak 657 relawan tercatat menjadi pengidap baru.
"Partisipan yang konsumsi lemak transnya naik mengalami peningkatan hingga 48 persen risiko depresi dibanding mereka yang tidak mengonsumsi makanan mengandung lemak jenis ini," ungkap riset tersebut.
Almudena Sanchez-Villegas pakar pengobatan preventif dari University of Las Palmas de Gran Canaria menyatakan, semakin banyak saat lemak trans dikonsumsi, semakin besar dampak buruk yang timbul bagi para partisipan.
Penelitian, yang dipublikasikan dalam jurnal PLoS ONE versi online, juga mencatat bahwa penelitian ini dilakukan terhadap populasi Eropa yang mengasup lemak trans relatif rendah yakni hanya 0,4 persen dari total kebutuhan energi yang dibutuhkan partisipan.
"Walaupun begitu, kami menemukan adanya peningkatan risiko mengidap depresi hingga 50 persen," ujar salah seorang peneliti Miguel Martinez.
"Berdasarkan temuan ini, kami mendorong pentingnya memperhitungkan dampaknya pada negera-negara seperti AS yang tingkat prosentasi asupan dari jenis lemak ini mencapai sekitar 2,5 persen," tambahnya.
Masih menurut laporan riset itu, jumlah pengidap depresi di seluruh dunia saat ini mencapai 150 juta orang dan angka ini meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Peningkatan ini, kata peneliti, diakibatkan oleh perubahan radikal dari sumber lemak yang diasup dalam pola diet barat, di mana sejumlah jenis lemak tertentu yang bermanfaat yakni lemak tak jenuh ganda (polyunsaturated) dan lemak tak jenuh tunggal (monounsaturated) pada kacang-kacangan, minyak ikan dan minyak sayur - digantikan dengan jenis lemak jenuh dan trans-fat yang ditemukan dalam daging, mentega dan jenis produk lainnya seperti pastri dan fast food.
Lemak trans (trans fat) adalah jenis lemak yang dapat ditemukan pada bentuk artifisial dalam produk-produk pastri dan makanan cepat saji. Sebagian besar lemak trans disintesiskan secara artifisial melewati proses kimia yang menambahkan hidrogen ke dalam minyak sayur. Dalam bahasa sederhana, itu artinya mengubah minyak cair menjadi lemak padat.
Peneliti dari Universities of Navarra and Las Palmas de Gran Canaria dalam riset terbarunya menyatakan lemak trans dapat memicu depresi. Hasil penelitian ini mendukung hasil beberapa kajian sebelumnya yang mengungkap dampak buruk jenis lemak ini bagi tubuh.
Dalam risetnya, para peneliti memantau dan menganalisa pola diet dan gaya hidup sekitar 12 ribu partisipan selama 6 tahun. Di awal penelitian, tak ada satu pun yang didiagnosa mengidap depresi, tetapi di akhir riset, sebanyak 657 relawan tercatat menjadi pengidap baru.
"Partisipan yang konsumsi lemak transnya naik mengalami peningkatan hingga 48 persen risiko depresi dibanding mereka yang tidak mengonsumsi makanan mengandung lemak jenis ini," ungkap riset tersebut.
Almudena Sanchez-Villegas pakar pengobatan preventif dari University of Las Palmas de Gran Canaria menyatakan, semakin banyak saat lemak trans dikonsumsi, semakin besar dampak buruk yang timbul bagi para partisipan.
Penelitian, yang dipublikasikan dalam jurnal PLoS ONE versi online, juga mencatat bahwa penelitian ini dilakukan terhadap populasi Eropa yang mengasup lemak trans relatif rendah yakni hanya 0,4 persen dari total kebutuhan energi yang dibutuhkan partisipan.
"Walaupun begitu, kami menemukan adanya peningkatan risiko mengidap depresi hingga 50 persen," ujar salah seorang peneliti Miguel Martinez.
"Berdasarkan temuan ini, kami mendorong pentingnya memperhitungkan dampaknya pada negera-negara seperti AS yang tingkat prosentasi asupan dari jenis lemak ini mencapai sekitar 2,5 persen," tambahnya.
Masih menurut laporan riset itu, jumlah pengidap depresi di seluruh dunia saat ini mencapai 150 juta orang dan angka ini meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Peningkatan ini, kata peneliti, diakibatkan oleh perubahan radikal dari sumber lemak yang diasup dalam pola diet barat, di mana sejumlah jenis lemak tertentu yang bermanfaat yakni lemak tak jenuh ganda (polyunsaturated) dan lemak tak jenuh tunggal (monounsaturated) pada kacang-kacangan, minyak ikan dan minyak sayur - digantikan dengan jenis lemak jenuh dan trans-fat yang ditemukan dalam daging, mentega dan jenis produk lainnya seperti pastri dan fast food.
Junk Food, Serba Cepat tapi Tak Lengkap
Kompas.com - Makanan junk food adalah makanan yang memiliki sedikit kandungan gizi, atau makanan yang sebetulnya kandungan nutrisinya cukup tapi mengandung zat-zat yang tidak sehat kalau dikonsumsi terus-menerus.
“Yang pertama, makanan yang kandungan nutrisinya sedikit. Misalnya, makanan mengandung kalori, tetapi kandungan gizi lainnya sedikit atau tidak lengkap,” jelas spesialis gizi dari RS Pondok Indah , Jakarta, Dr. David Fajar P., MS, Sp.GK.
Sebagai contoh, sebuah apel dan makanan junk food yang sama-sama mengandung kalori sebesar 50 kalori. Meski sama-sama mempunyai kandungan 50 kalori, sebutir apel juga mengandung serat, vitamin, mineral, dan sebagainya. Sementara makanan junk food yang sama-sama mengandung 50 kalori, tidak mempunyai kandungan gizi lain (empty calorie ).
Yang kedua, junk food adalah makanan yang sebetulnya mempunyai kandungan nutrisi, tetapi kalau dikonsumsi secara terus-menerus dan dalam jangka waktu lama menjadi tidak sehat. Contohnya burger , french fries , dan sebagainya.
Di dalam makanan-makanan tersebut terkandung karbohidrat, protein, lemak, dan sebagainya, tetapi kalau setiap hari kita konsumsi, jadinya tidak sehat. Misalnya, karena mengandung lemak tidak baik atau lemak jenuh (saturated fat ), mengandung terlalu banyak garam, atau selalu disertai banyak gula. Atau dari minuman dalam bentuk soft drink , teh botol, dan sebagainya. Yang juga termasuk makanan junk food adalah makanan olah siap saji, seperti chicken nugget .
Serba Deep Fried
Selain kandungan yang dimiliki, makanan disebut junk food juga karena cara pengolahannya. “Cara pengolahan tentu berpengaruh. Junk food biasanya diolah dengan cara digoreng, terutama cara menggoreng deep fried ,” jelas David.
Cara penggorengan deep fried ini akan menyebabkan timbulnya lemak jenuh yang tidak sehat. Makanan junk food biasanya juga ready to eat (siap santap). Misalnya, pizza yang banyak ditemui dijual di supermarket. “Masaknya tinggal masukin ke microwave saja. Pasti, makanan-makanan ini mengandung zat-zat pengawet.”
Fast food atau makanan siap saji juga sama. Cara pengolahannya cepat dan umumnya diolah dengan cara digoreng. “Tidak mungkin makanan siap saji diolah dengan cara dikukus, karena pasti memakan waktu lama (slow food ) dan butuh teknik yang cukup. Cara paling cepat adalah digoreng,” lanjut David.
Risiko Diabetes Lantas, apa saja risiko mengonsumsi junk food ? Yang jelas, kalau kebanyakan gula, ujung-ujungnya bisa terkena diabetes. Diabetes merupakan penyakit paling jahat dengan segala komplikasinya, yang berisiko penyakit jantung, stroke, ginjal, dan sebagainya.
Konsumsi garam dalam jumlah besar dan lama juga bisa menimbulkan berbagai penyakit, seperti hipertensi, jantung, stroke, dan beberapa jenis kanker. Belum lagi zat-zat pengawet yang juga bisa memicu kanker. “Konsumsi minyak jenuh juga berhubungan dengan penyempitan pembuluh darah (aterosklerosis), yang ujung-ujungnya stroke dan jantung juga,” kata David.
“Yang pertama, makanan yang kandungan nutrisinya sedikit. Misalnya, makanan mengandung kalori, tetapi kandungan gizi lainnya sedikit atau tidak lengkap,” jelas spesialis gizi dari RS Pondok Indah , Jakarta, Dr. David Fajar P., MS, Sp.GK.
Sebagai contoh, sebuah apel dan makanan junk food yang sama-sama mengandung kalori sebesar 50 kalori. Meski sama-sama mempunyai kandungan 50 kalori, sebutir apel juga mengandung serat, vitamin, mineral, dan sebagainya. Sementara makanan junk food yang sama-sama mengandung 50 kalori, tidak mempunyai kandungan gizi lain (empty calorie ).
Yang kedua, junk food adalah makanan yang sebetulnya mempunyai kandungan nutrisi, tetapi kalau dikonsumsi secara terus-menerus dan dalam jangka waktu lama menjadi tidak sehat. Contohnya burger , french fries , dan sebagainya.
Di dalam makanan-makanan tersebut terkandung karbohidrat, protein, lemak, dan sebagainya, tetapi kalau setiap hari kita konsumsi, jadinya tidak sehat. Misalnya, karena mengandung lemak tidak baik atau lemak jenuh (saturated fat ), mengandung terlalu banyak garam, atau selalu disertai banyak gula. Atau dari minuman dalam bentuk soft drink , teh botol, dan sebagainya. Yang juga termasuk makanan junk food adalah makanan olah siap saji, seperti chicken nugget .
Serba Deep Fried
Selain kandungan yang dimiliki, makanan disebut junk food juga karena cara pengolahannya. “Cara pengolahan tentu berpengaruh. Junk food biasanya diolah dengan cara digoreng, terutama cara menggoreng deep fried ,” jelas David.
Cara penggorengan deep fried ini akan menyebabkan timbulnya lemak jenuh yang tidak sehat. Makanan junk food biasanya juga ready to eat (siap santap). Misalnya, pizza yang banyak ditemui dijual di supermarket. “Masaknya tinggal masukin ke microwave saja. Pasti, makanan-makanan ini mengandung zat-zat pengawet.”
Fast food atau makanan siap saji juga sama. Cara pengolahannya cepat dan umumnya diolah dengan cara digoreng. “Tidak mungkin makanan siap saji diolah dengan cara dikukus, karena pasti memakan waktu lama (slow food ) dan butuh teknik yang cukup. Cara paling cepat adalah digoreng,” lanjut David.
Risiko Diabetes Lantas, apa saja risiko mengonsumsi junk food ? Yang jelas, kalau kebanyakan gula, ujung-ujungnya bisa terkena diabetes. Diabetes merupakan penyakit paling jahat dengan segala komplikasinya, yang berisiko penyakit jantung, stroke, ginjal, dan sebagainya.
Konsumsi garam dalam jumlah besar dan lama juga bisa menimbulkan berbagai penyakit, seperti hipertensi, jantung, stroke, dan beberapa jenis kanker. Belum lagi zat-zat pengawet yang juga bisa memicu kanker. “Konsumsi minyak jenuh juga berhubungan dengan penyempitan pembuluh darah (aterosklerosis), yang ujung-ujungnya stroke dan jantung juga,” kata David.
Junk Food Merusak Sel-sel Otak
KOMPAS.com — Para ahli di Amerika Serikat kembali memperingatkan bahaya kebiasaan rutin menyantap makanan sampah atau junk food.
Menurut riset terbaru, makanan dengan kandungan lemak tinggi, tetapi nilai gizi nol ini dapat merusak sel-sel dalam otak yang mengendalikan berat badan, dan memicu siklus obesitas. Temuan ini juga memberikan penjelasan mengapa orang yang kegemukan begitu sulit menurunkan berat badan.
Dalam penelitiannya, para ahli dari Universitas Washington memberikan tikus-tikus di laboratorium dengan jenis makanan yang mereka sebut dengan "diet lemak tinggi orang American". Hanya berselang tiga hari, tikus-tikus ini semakin rakus dan meningkatkan asupan kalorinya hingga dua kali lipat.
Pemeriksaan lanjutan menunjukkan bahwa tikus-tikus ini juga mengalami inflamasi atau peradangan pada hipothalamus, bagian otak yang terdiri dari sel-sel saraf yang mengendalikan berat badan. Peradangan ini sempat berhenti dalam beberapa hari, tetapi kemudian "kambuh" lagi setelah empat pekan kemudian.
Dr Joshua Thaler, pakar sekaligus peneliti dari Diabetes and Obesity Centre of Excellence di Universitas Washington di Seattle, menyatakan, para ahli juga mendeteksi adanya suatu respons pemulihan cedera otak yang disebut dengan gliosis.
"Gliosis dipertimbangkan sama dengan pemulihan luka pada otak dan secara khusus tampak pada kondisi cedera saraf, seperti stroke dan multiple sclerosis. Kami berspekulasi bahwa gliosis yang kami lihat mungkin sebagai respons proteksi yang gagal. Kami juga mendeteksi adanya kerusakan dan kehilangan yang nyata dari sel-sel saraf yang penting dalam mengendalikan berat badan," papar Thaler yang mempresentasikan risetnya dalam pertemuan tahunan The Endocrine Society's ke-93 di Boston.
Ia menambahkan, cedera pada otak pada tikus-tikus kemungkinan merupakan konsekuensi dari konsumsi junk food berlebihan dan fakta ini memberi penjelasan mengapa menurunkan berat badan menjadi sangat sulit bagi sebagian besar mereka yang obesitas.
Menurut riset terbaru, makanan dengan kandungan lemak tinggi, tetapi nilai gizi nol ini dapat merusak sel-sel dalam otak yang mengendalikan berat badan, dan memicu siklus obesitas. Temuan ini juga memberikan penjelasan mengapa orang yang kegemukan begitu sulit menurunkan berat badan.
Dalam penelitiannya, para ahli dari Universitas Washington memberikan tikus-tikus di laboratorium dengan jenis makanan yang mereka sebut dengan "diet lemak tinggi orang American". Hanya berselang tiga hari, tikus-tikus ini semakin rakus dan meningkatkan asupan kalorinya hingga dua kali lipat.
Pemeriksaan lanjutan menunjukkan bahwa tikus-tikus ini juga mengalami inflamasi atau peradangan pada hipothalamus, bagian otak yang terdiri dari sel-sel saraf yang mengendalikan berat badan. Peradangan ini sempat berhenti dalam beberapa hari, tetapi kemudian "kambuh" lagi setelah empat pekan kemudian.
Dr Joshua Thaler, pakar sekaligus peneliti dari Diabetes and Obesity Centre of Excellence di Universitas Washington di Seattle, menyatakan, para ahli juga mendeteksi adanya suatu respons pemulihan cedera otak yang disebut dengan gliosis.
"Gliosis dipertimbangkan sama dengan pemulihan luka pada otak dan secara khusus tampak pada kondisi cedera saraf, seperti stroke dan multiple sclerosis. Kami berspekulasi bahwa gliosis yang kami lihat mungkin sebagai respons proteksi yang gagal. Kami juga mendeteksi adanya kerusakan dan kehilangan yang nyata dari sel-sel saraf yang penting dalam mengendalikan berat badan," papar Thaler yang mempresentasikan risetnya dalam pertemuan tahunan The Endocrine Society's ke-93 di Boston.
Ia menambahkan, cedera pada otak pada tikus-tikus kemungkinan merupakan konsekuensi dari konsumsi junk food berlebihan dan fakta ini memberi penjelasan mengapa menurunkan berat badan menjadi sangat sulit bagi sebagian besar mereka yang obesitas.
Monday, June 13, 2011
Junk Food Bikin Otak Menyusut Lebih Cepat
Vera Farah Bararah - detikHealth
Jakarta, Junk food dikenal sebagai jenis makanan yang tinggi kalori tapi tidak ada nilai gizinya. Ternyata makanan ini tidak hanya bisa memicu penyakit, namun juga bisa membuat otak menyusut.
Seseorang yang sering mengonsumsi junk food akan menyebabkan kelebihan berat badan bahkan hingga obesitas karena tingginya kadar lemak. Dan lemak berlebih ini diketahui bisa membuat otak jadi menciut.
Makanan ini tidak hanya bisa mengubah struktur fisik otak, tapi juga memicu masalah memori dan peningkatan risiko demensia serta membuat usia bagian abu-abu otak menjadi lebih cepat tua, yaitu kira-kira 16 tahun lebih cepat.
Daerah abu-abu merupakan bagian berpikir di otak dan terdiri dari sel-sel otak yang terlibat dalam pengendalian otot, melihat, mendengar, memori, emosi dan berbicara, sedangkan daerah putih di otak merupakan material yang menghubungkan sel-sel satu sama lain.
Peneliti menemukan bahwa otak dari orang yang kelebihan berat badan dan obesitas rata-rata memiliki ukuran 4-8 persen lebih kecil dibanding orang yang sehat. Hal ini karena darah tidak mudah untuk masuk pembuluh darah sehingga sulit mencapai otak yang memicu terjadinya kekurangan oksigen dan sel-sel otak akhirnya mati.
"Kita tahu bahwa makanan berlemak bisa menyumbat arteri sehingga buruk bagi jantung, dan kondisi ini juga persis sama dengan yang terjadi di pembuluh darah di otak," ujar Paul Thompson, profesor neurologi dari University of Los Angeles, seperti dikutip dari Dailymail, Rabu (25/6/2011).
Thompson menuturkan rata-rata orang kehilangan 0,5 persen bagian otaknya dalam waktu setahun. Tapi bagi orang yang gemuk akan kehilangan 4 persen dari otaknya sehingga ia mengalami penuaan otak lebih cepat.
Daerah yang mengalami penyusutan ini paling banyak terjadi di bagian penalaran, penilaian dan pengolahan kenangan jangka panjang. Karenanya kelebihan berat badan bisa mengubah cara berpikir seseorang.
Sementara itu Dr Toby Goldstone, seorang endokrinologi dari Imperial College Healthcare NHS Trust menuturkan saat ini pola makan telah berevolusi dengan melihat makanan bergula dan berlemak sebagai sesuatu yang menarik, dan makanan-makanan ini sangat mudah ditemui.
Untuk itu jika ingin bagian otak Anda tidak mengalami penuaan dan penyusutan lebih cepat, maka hindari makanan yang mengandung kalori tinggi seperti junk food sehingga aliran darah ke otak tidak terganggu.
Jakarta, Junk food dikenal sebagai jenis makanan yang tinggi kalori tapi tidak ada nilai gizinya. Ternyata makanan ini tidak hanya bisa memicu penyakit, namun juga bisa membuat otak menyusut.
Seseorang yang sering mengonsumsi junk food akan menyebabkan kelebihan berat badan bahkan hingga obesitas karena tingginya kadar lemak. Dan lemak berlebih ini diketahui bisa membuat otak jadi menciut.
Makanan ini tidak hanya bisa mengubah struktur fisik otak, tapi juga memicu masalah memori dan peningkatan risiko demensia serta membuat usia bagian abu-abu otak menjadi lebih cepat tua, yaitu kira-kira 16 tahun lebih cepat.
Daerah abu-abu merupakan bagian berpikir di otak dan terdiri dari sel-sel otak yang terlibat dalam pengendalian otot, melihat, mendengar, memori, emosi dan berbicara, sedangkan daerah putih di otak merupakan material yang menghubungkan sel-sel satu sama lain.
Peneliti menemukan bahwa otak dari orang yang kelebihan berat badan dan obesitas rata-rata memiliki ukuran 4-8 persen lebih kecil dibanding orang yang sehat. Hal ini karena darah tidak mudah untuk masuk pembuluh darah sehingga sulit mencapai otak yang memicu terjadinya kekurangan oksigen dan sel-sel otak akhirnya mati.
"Kita tahu bahwa makanan berlemak bisa menyumbat arteri sehingga buruk bagi jantung, dan kondisi ini juga persis sama dengan yang terjadi di pembuluh darah di otak," ujar Paul Thompson, profesor neurologi dari University of Los Angeles, seperti dikutip dari Dailymail, Rabu (25/6/2011).
Thompson menuturkan rata-rata orang kehilangan 0,5 persen bagian otaknya dalam waktu setahun. Tapi bagi orang yang gemuk akan kehilangan 4 persen dari otaknya sehingga ia mengalami penuaan otak lebih cepat.
Daerah yang mengalami penyusutan ini paling banyak terjadi di bagian penalaran, penilaian dan pengolahan kenangan jangka panjang. Karenanya kelebihan berat badan bisa mengubah cara berpikir seseorang.
Sementara itu Dr Toby Goldstone, seorang endokrinologi dari Imperial College Healthcare NHS Trust menuturkan saat ini pola makan telah berevolusi dengan melihat makanan bergula dan berlemak sebagai sesuatu yang menarik, dan makanan-makanan ini sangat mudah ditemui.
Untuk itu jika ingin bagian otak Anda tidak mengalami penuaan dan penyusutan lebih cepat, maka hindari makanan yang mengandung kalori tinggi seperti junk food sehingga aliran darah ke otak tidak terganggu.
Wednesday, February 9, 2011
Cegah IQ Jongkok Hindarkan Si Kecil dari Junk Food
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Bayi yang diberi banyak makanan olahan mungkin akan memiliki IQ yang lebih rendah dalam hidup mereka kemudian, demikian satu studi Inggris yang digambarkan sebagai penelitian terbesar dalam jenisnya.
Kesimpulan tersebut, disiarkan Senin (7/2), berasal dari observasi jangka panjang terhadap 14.000 orang yang dilahirkan di Inggris barat pada 1991 dan 1992. Kesehatan dan kebugaran mereka dipantau pada usia tiga, empat, tujuh dan delapan-setengah tahun.
Orang tua dari anak-anak tersebut diminta mengisi daftar pertanyaan antara lain, merinci jenis makanan dan minuman yang dikonsumsi anak mereka. Dari daftar tersebut muncul tiga pola makanan, pertama memiliki kandungan tinggi gula dan lemak olahan, tipe makanan "tradisional" yang banyak mengandung daging dan sayuran, terakhir adalah makanan "sadar-kesehatan" dengan banyak selada, buah dan sayuran, pasta dan beras.
Ketika anak-anak itu berusia delapan-setengah tahun, IQ mereka diukur dengan menggunakan alat standard yang disebut Wechsler Intelligence Scale. Dari sebanyak 4.000 anak dengan data yang lengkap, ada perbedaan mencolok pada IQ di kalangan mereka yang telah mengkonsumsi makanan "olahan" dibandingkan dengan anak yang mengkonsumsi makanan "sadar-kesehatan" saat mereka lebih kecil.
Sejumlah 20 persen anak yang terbiasa menyantap makanan olahan memiliki IQ rata-rata 101 poin, sementara 20 persen anak yang sehari-hari banyak mengonsumsi makanan "sadar-kesehatan" memiliki IQ 106 poin.
"Perbedaannya memang kecil, sih, itu bukan perbedaan yang besar," kata seorang penulis studi tersebut, Pauline Emmett dari School of Social and Community Medicine di University of Bristol, sebagaimana dilaporkan kantor berita Prancis, AFP.
"Tapi itu jelas membuat mereka kurang mampu menghadapi pendidikan, kurang mampu untuk menghadapi sebagian kondisi dalam kehidupan," kata Pauline Emmet.
Hubungan antara IQ dan gizi menjadi masih yang diperdebatkan dengan sengit sebab itu dapat dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk latar-belakang ekonomi dan sosial.
Satu keluarga kelas menengah misal, barangkali lebih mampu secara keuangan untuk meletakkan makanan yang lebih sehat di meja makan, atau memiliki dorongan lebih kuat untuk merangsang nafsu makan anak mereka, dibandingkan dengan keluarga dari rumah tangga miskin.
Mengapa "junk food" memiliki berdampak pada kecerdasan? Emmet menyatakan makanan yang diolah secara berlebih dapat kekurangan unsur dan vitamin penting bagi perkembangan otak besar pada tahap penting masa awal kanak-kanak.
"Makanan 'junk food' tidak bagus buat perkembangan otak," katanya.
Studi itu disiarkan di Journal of Epidemiology and Community Health, yang disiarkan oleh British Medical Association (BMA).
"Junk food" juga berbahaya bagi orang dewasa, sebab makanan semacam itu memiliki resiko yang merugikan kesehatan diakibatkan kandungan tertentu di dalamnya, seperti kandungan lemak yang tinggi, bahan pengawet.
Kesimpulan tersebut, disiarkan Senin (7/2), berasal dari observasi jangka panjang terhadap 14.000 orang yang dilahirkan di Inggris barat pada 1991 dan 1992. Kesehatan dan kebugaran mereka dipantau pada usia tiga, empat, tujuh dan delapan-setengah tahun.
Orang tua dari anak-anak tersebut diminta mengisi daftar pertanyaan antara lain, merinci jenis makanan dan minuman yang dikonsumsi anak mereka. Dari daftar tersebut muncul tiga pola makanan, pertama memiliki kandungan tinggi gula dan lemak olahan, tipe makanan "tradisional" yang banyak mengandung daging dan sayuran, terakhir adalah makanan "sadar-kesehatan" dengan banyak selada, buah dan sayuran, pasta dan beras.
Ketika anak-anak itu berusia delapan-setengah tahun, IQ mereka diukur dengan menggunakan alat standard yang disebut Wechsler Intelligence Scale. Dari sebanyak 4.000 anak dengan data yang lengkap, ada perbedaan mencolok pada IQ di kalangan mereka yang telah mengkonsumsi makanan "olahan" dibandingkan dengan anak yang mengkonsumsi makanan "sadar-kesehatan" saat mereka lebih kecil.
Sejumlah 20 persen anak yang terbiasa menyantap makanan olahan memiliki IQ rata-rata 101 poin, sementara 20 persen anak yang sehari-hari banyak mengonsumsi makanan "sadar-kesehatan" memiliki IQ 106 poin.
"Perbedaannya memang kecil, sih, itu bukan perbedaan yang besar," kata seorang penulis studi tersebut, Pauline Emmett dari School of Social and Community Medicine di University of Bristol, sebagaimana dilaporkan kantor berita Prancis, AFP.
"Tapi itu jelas membuat mereka kurang mampu menghadapi pendidikan, kurang mampu untuk menghadapi sebagian kondisi dalam kehidupan," kata Pauline Emmet.
Hubungan antara IQ dan gizi menjadi masih yang diperdebatkan dengan sengit sebab itu dapat dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk latar-belakang ekonomi dan sosial.
Satu keluarga kelas menengah misal, barangkali lebih mampu secara keuangan untuk meletakkan makanan yang lebih sehat di meja makan, atau memiliki dorongan lebih kuat untuk merangsang nafsu makan anak mereka, dibandingkan dengan keluarga dari rumah tangga miskin.
Mengapa "junk food" memiliki berdampak pada kecerdasan? Emmet menyatakan makanan yang diolah secara berlebih dapat kekurangan unsur dan vitamin penting bagi perkembangan otak besar pada tahap penting masa awal kanak-kanak.
"Makanan 'junk food' tidak bagus buat perkembangan otak," katanya.
Studi itu disiarkan di Journal of Epidemiology and Community Health, yang disiarkan oleh British Medical Association (BMA).
"Junk food" juga berbahaya bagi orang dewasa, sebab makanan semacam itu memiliki resiko yang merugikan kesehatan diakibatkan kandungan tertentu di dalamnya, seperti kandungan lemak yang tinggi, bahan pengawet.
Subscribe to:
Posts (Atom)