Bagi yang suka berlama-lama dalam menggunakan telepon seluler, sebaiknya harus waspada. Pasalnya, sebuah penelitain terungkap, radiasi yang dihasilkan telepon seluler dapat menyebabkan kerusakan memori, sehingga dapat mempercepat penyakit pikun.
Penelitian yang dilakukan Lund University, Swedia, seekor tikus diuji coba dengan diberi radiasi telepon suleler dua jam dalam sepekan selama setahun. Hasilnya, tikus diberi radiasi mengalami ingatan yang jelek, ketimbang tikus yang tidak diberi radiasi.
Saat tikus yang diberi radiasi dilepaskan pada sebuah kotak dengan menaruh empat objek berbeda. Tikus tersebut tidak menunjukan ketertarikannya kepada objek itu. Hal berbeda justru dilakukan oleh tikus yang tidak diberi radiasi.
“Radiasi microwave dari ponsel. Menyebabkan aliran darah ke otak si tikus melambat. Karena, ada sel syarafnya yang rusak,” jelas salah satu peneliti Professor Leif Salford, demikian yang dilaporkan Sciencedaily, Minggu (7/12/2008).
Para peneliti menjelaskan, kerusakan syaraf terjadi kerena kerusakan sel di cerebral cortex dan hippocampus, atau bisa disebut pusat ingatan di otak. Kerusakan syaraf ini terjadi setelah enam pekan setelah diberi radiasi. Peneliti menemukan pengaruh pada sekelompok gen, tidak hanya gen secara individu.
Selain itu, Leif Salford juga juga menemukan albumin, protein yang berfungsi sebagai molekul penting di dalam darah, bocor ke otak saat binatang yang diselidiki di laboratorium terkena radiasi. Untuk kebocoran albumin ini bisa langsung terjadi.
Setelah mengetahui kerusakan pada tikus itu, mereka kini mencoba meneliti bagaimana hal itu bisa sampai terjadi.
“Meski baru sebatas pada tikus. Kami sarankan bagi pengguna, untuk tidak menggunakan ponsel terlalu dekat dengan telinga. Atau bisa menggunakan hands-free,” saran Professor Leif Salford.
Sumber : Susetyo Dwi Prihadi pada http://techno.okezone.com/index.php/ReadStory/2008/12/07/56/171416/radiasi-ponsel-sebabkan-kerusakan-otak
Showing posts with label pikun. Show all posts
Showing posts with label pikun. Show all posts
Thursday, November 3, 2011
Tuesday, November 1, 2011
Jalan Kaki Cegah Pikun
VIVAnews - Penelitian terbaru di Amerika Serikat menunjukkan bahwa berjalan kaki sekitar lima mil atau sekitar tujuh kilometer per minggu mengurangi risiko terserang penyakit daya ingat atau Alzheimer.
Seperti dikutip dari laman Daily Mail, berjalan kaki secara teratur memperkuat kerja memori di otak. Ini efektif membantu seseorang yang mulai mengalami gejala kehilangan daya ingat, termasuk mereka yang sudah terdiagnosis Alzheimer.
Menggunakan teknik pemindaian MRI, tim peneliti mempelajari hubungan antara aktivitas tubuh secara teratur dan pengaruhnya terhadap struktur otak penderita Alzheimer atau penyakit memori lainnya.
Dr Cyrus Raji dari Sekolah Pengobatan Universitas Pittsburgh mengatakan, "Kami menemukan bahwa berjalan kaki lima mil setiap minggu melindungi struktur otak selama 10 tahun pada orang dengan Alzheimer. Kami menemukan bahwa penurunan memori mereka lebih lambat lima tahun."
Tim peneliti menarik kesimpulan itu melalui analisis berkelanjutan selama satu dekade tahun. Mereka melibatkan sedikitnya 426 orang usia antara 70 dan 80 tahun, yang terdiri dari 299 orang sehat, 83 pasien dengan gejala kehilangan daya ingat, dan 44 pasien Alzhaimer.
Mereka mencatat kebiasaan dan intensitas berjalan kaki seluruh responden. Sepuluh tahun kemudian, mereka melakukan pemindaian untuk melihat perubahan volume otak seluruh responden. Hasilnya, responden yang melakukan banyak aktivitas fisik memiliki volume otak yang lebih baik daripada mereka yang kurang gerak.
"Alzheimer adalah penyakit yang merusak otak. Penyakit ini tak bisa disembuhkan dengan berjalan kaki, tapi paling tidak aktivitas itu bisa meningkatkan ketahanan otak sehingga mengurangi efek buruknya," kata Raji.
Seperti dikutip dari laman Daily Mail, berjalan kaki secara teratur memperkuat kerja memori di otak. Ini efektif membantu seseorang yang mulai mengalami gejala kehilangan daya ingat, termasuk mereka yang sudah terdiagnosis Alzheimer.
Menggunakan teknik pemindaian MRI, tim peneliti mempelajari hubungan antara aktivitas tubuh secara teratur dan pengaruhnya terhadap struktur otak penderita Alzheimer atau penyakit memori lainnya.
Dr Cyrus Raji dari Sekolah Pengobatan Universitas Pittsburgh mengatakan, "Kami menemukan bahwa berjalan kaki lima mil setiap minggu melindungi struktur otak selama 10 tahun pada orang dengan Alzheimer. Kami menemukan bahwa penurunan memori mereka lebih lambat lima tahun."
Tim peneliti menarik kesimpulan itu melalui analisis berkelanjutan selama satu dekade tahun. Mereka melibatkan sedikitnya 426 orang usia antara 70 dan 80 tahun, yang terdiri dari 299 orang sehat, 83 pasien dengan gejala kehilangan daya ingat, dan 44 pasien Alzhaimer.
Mereka mencatat kebiasaan dan intensitas berjalan kaki seluruh responden. Sepuluh tahun kemudian, mereka melakukan pemindaian untuk melihat perubahan volume otak seluruh responden. Hasilnya, responden yang melakukan banyak aktivitas fisik memiliki volume otak yang lebih baik daripada mereka yang kurang gerak.
"Alzheimer adalah penyakit yang merusak otak. Penyakit ini tak bisa disembuhkan dengan berjalan kaki, tapi paling tidak aktivitas itu bisa meningkatkan ketahanan otak sehingga mengurangi efek buruknya," kata Raji.
Tuesday, October 25, 2011
Awas, Makin Banyak Orang Pikun!
PENYAKIT demensia atau kepikunan khususnya demensia Alzheimer dipekirakan makin meningkat prevalensinya. Data di kawasan Asia Pasifik memperkirakan, jumlah penderita demensia bakal melonjak dua kali lipat dan lebih cepat pada 2025 di bandingkan negara-negara barat.
Ketua Umum Asosiasi Alzheimer Indonesia (AAzi), Dr Samino, Sp S (K), menyatakan kasus kepikunan Alzheimer dipastikan bakal meningkat di tahun-tahun mendatang seiring bertambahnya jumlah lansia (orang lanjut usia). Organisasi Alzheimer se-Asia Pasifik pada 2005 bahkan telah membuat rekomendasi, salah satunya menyoroti ancaman epidemi demensia di masa mendatang termasuk di Indonesia.
"Kita memang belum punya angka, tetapi prediksi ini akan terjadi di tahun-tahun mendatang. Salah satu rekomendasinya menyatakan akan terjadi epidemi lansia yang mana demensia nantinya pasti akan ikut mengalami peningkatan yang luar biasa," ungkap Dr Samino dalam media edukasi tentang Alzheimer di Jakarta, Senin (20/10).
Demensia yang disebabkan Alzheimer biasanya diderita oleh pasien uisa lanjut di atas 60 tahun. Demensia Alzheimer merupakan salah satu bentuk demensia akibat degenerasi otak yang sering ditemukan dan paling ditakuti. Alzheimer merupakan penyebab demensia terbanyak yaitu sekitar 60 hingga 70 persen dari seluruh kasus demensia.
Organisasi Alzheimer Internasional (ADI), yang mewakili 77 Asosiasi Alzheimer di seluruh dunia termasuk AAzi, mencatat sekitar 4,6 juta kasus demensia baru dilaporkan di dunia saat ini, atau kasus baru muncul setiap tujuh detik. Pada tahun 2050, jumlah penderita demensia atau kini disebut ODD (Orang Dengan Demensia) diproyeksikan mencapai 100 juta orang di seluruh dunia.
Adanya ancaman krisis akibat demensia ini telah membuat ADI mengeluarkan Piagam Global Penyakit Alzheimer bertepatan dengan peringatan Hari Alzheimer Dunia pada 21 September lalu. Piagam Global ini didalamnya memuat 11 action plan yang harus dijalankan oleh pemerintah dan lembaga terkait lainnya guna mengatasi ancaman krisis tersebut.
Salah satu poin di antaranya menekankan pentingnya untuk lebih fokus pada perawatan dengan menitikberatkan pada peningkatan pengetahuan masyarakat tentang penyakit demensia dan cara-cara mendampingi ODD.
Satu juta
Di Indonesia sendiri, prevalensi atau jumlah kasus demensia yang akurat sebenarnya belum ada. Tetapi AAzi memperkirakan kasusnya sudah mencapai sekitar satu juta. Angka ini menurut DR. Dr Martina Wiwie Setiawan Sp.KJ (K), salah satu pengurus AAzi, tidak dapat dianggap enteng karena meski sedikit demensia menimbulkan beban yang sangat besar bagi masyarakat.
"Mengenai jumlah kasus demensia, bisa saya katakan bahwa proyeksinya sekitar satu juta orang. Tetapi buat kita ini mungkin tidak banyak, tetapi beban yang ditimbulkannya sangat luar biasa baik dari segi ekonomi maupun sosial. Menghadapi satu atau dua orang pengidap demensia saja kita bisa kelimpungan," ujarnya.
Ketua Umum Asosiasi Alzheimer Indonesia (AAzi), Dr Samino, Sp S (K), menyatakan kasus kepikunan Alzheimer dipastikan bakal meningkat di tahun-tahun mendatang seiring bertambahnya jumlah lansia (orang lanjut usia). Organisasi Alzheimer se-Asia Pasifik pada 2005 bahkan telah membuat rekomendasi, salah satunya menyoroti ancaman epidemi demensia di masa mendatang termasuk di Indonesia.
"Kita memang belum punya angka, tetapi prediksi ini akan terjadi di tahun-tahun mendatang. Salah satu rekomendasinya menyatakan akan terjadi epidemi lansia yang mana demensia nantinya pasti akan ikut mengalami peningkatan yang luar biasa," ungkap Dr Samino dalam media edukasi tentang Alzheimer di Jakarta, Senin (20/10).
Demensia yang disebabkan Alzheimer biasanya diderita oleh pasien uisa lanjut di atas 60 tahun. Demensia Alzheimer merupakan salah satu bentuk demensia akibat degenerasi otak yang sering ditemukan dan paling ditakuti. Alzheimer merupakan penyebab demensia terbanyak yaitu sekitar 60 hingga 70 persen dari seluruh kasus demensia.
Organisasi Alzheimer Internasional (ADI), yang mewakili 77 Asosiasi Alzheimer di seluruh dunia termasuk AAzi, mencatat sekitar 4,6 juta kasus demensia baru dilaporkan di dunia saat ini, atau kasus baru muncul setiap tujuh detik. Pada tahun 2050, jumlah penderita demensia atau kini disebut ODD (Orang Dengan Demensia) diproyeksikan mencapai 100 juta orang di seluruh dunia.
Adanya ancaman krisis akibat demensia ini telah membuat ADI mengeluarkan Piagam Global Penyakit Alzheimer bertepatan dengan peringatan Hari Alzheimer Dunia pada 21 September lalu. Piagam Global ini didalamnya memuat 11 action plan yang harus dijalankan oleh pemerintah dan lembaga terkait lainnya guna mengatasi ancaman krisis tersebut.
Salah satu poin di antaranya menekankan pentingnya untuk lebih fokus pada perawatan dengan menitikberatkan pada peningkatan pengetahuan masyarakat tentang penyakit demensia dan cara-cara mendampingi ODD.
Satu juta
Di Indonesia sendiri, prevalensi atau jumlah kasus demensia yang akurat sebenarnya belum ada. Tetapi AAzi memperkirakan kasusnya sudah mencapai sekitar satu juta. Angka ini menurut DR. Dr Martina Wiwie Setiawan Sp.KJ (K), salah satu pengurus AAzi, tidak dapat dianggap enteng karena meski sedikit demensia menimbulkan beban yang sangat besar bagi masyarakat.
"Mengenai jumlah kasus demensia, bisa saya katakan bahwa proyeksinya sekitar satu juta orang. Tetapi buat kita ini mungkin tidak banyak, tetapi beban yang ditimbulkannya sangat luar biasa baik dari segi ekonomi maupun sosial. Menghadapi satu atau dua orang pengidap demensia saja kita bisa kelimpungan," ujarnya.
Berpikir Aktif Hindari Kepikunan
KEPIKUNAN atau demensia adalah kondisi yang lumrah dialami mereka yang sudah berusia lanjut biasanya 65 tahun ke atas. Kondisi ini biasanya ditandai dengan gejala mulai menurunnya daya ingat atau kemampuan berpikir yang kerap mengganggu aktivitas kehidupan sehari-hari.
Secara medis, demensia dapat disebabkan oleh proses penuaan atau degenerasi sel-sel neuron (syaraf) otak, seiring dengan bertambahnya usia. Meski proses penuaan ini tidak dapat dihindari, namun ada upaya yang dilakukan supaya kepikunan ini dapat dihindari atau setidaknya ditunda.
Menurut Dr.H.Samino Sp.S (k), dari Asosiasi Alzheimer Indonesia, kepikunan dapat dihindari dengan membiasakan gaya hidup sehat dan melakukan stimulasi kognitif agar sel-sel otak terus aktif. Dengan upaya ini, sel-sel saraf akan terus menghasilkan zat neurotransmitter yang dibutuhkan otak.
"Istilahnya use it atau lose it. Kita harus terus menggunakan sel-sel saraf di otak kalau kita tak mau kehilangannya. Kalau kita diam, berarti sel-sel saraf pun diam tidak melakukan aktivitas," ujarnya di Jakarta, Rabu (6/8).
Salah satu gaya hidup yang disarankan Dr Samino adalah menjaga kebutuhan nutrisi untuk otak melalui makanan bergizi. "Gaya hidup dibentuk oleh otak dan salah satu gaya hidup adalah kebiasaan makan. Makanan yang mengandung omega 3 dan kandungan antioksidan dalam sayur mayur serta buah-buahan itu direkomendasi untuk kesehatan sel-sel otak," ungkapnya.
Hal lain yang perlu diupayakan, lanjut Dr Samino adalah olahraga secara teratur mengingat gerakan fisik tidak terlepas dari fungsi mental seseorang.
"Gerakan yang terencana dan bersifat fisiologis akan memberi stimulasi atau merangsang fungsi sel. Itu berarti sel-sel saraf termanfaatkan," terangnya.
Sementara itu, bentuk stimulasi kognitif yang sederhana adalah membaca. Kegiatan mendengar musik juga merupakan stimulasi karena dapat mengaktifkan otak pusat persepsi pendengaran dan juga memori apa yang kita dengar.
Hal lain yang penting dalam menghindari kepikunan adalah mengurangi paparan terhadap zat-zat toksik. Sejumlah zat atau logam beracun seperti merkuri, timbal dan alumunium, tegas Dr.H.Samino dapat memberi dampak negatif terhadap sel-sel otak meski efeknya bersifat jangka panjang.
Zat timbal misalnya dapat terpapar melalui polusi dari asap kendaraan bila bahan bakarnya belum bebas dari logam berat tersebut. Paparan merkuri kemungkinan besar didapat dari penambangan emas atau bidang kedoketeran gigi.
"Sedangkan paparan alumunium berpotensi berasal dari pasta gigi atau obat-obat maag yang mengandung aluminum silikat. Kalau pemakaiannya bersifat jangka panjang dan sering, tentu akan menambah risiko terjadinya penurunan kualitas daya ingat dan fungsi kognitif," tandasnya.
Secara medis, demensia dapat disebabkan oleh proses penuaan atau degenerasi sel-sel neuron (syaraf) otak, seiring dengan bertambahnya usia. Meski proses penuaan ini tidak dapat dihindari, namun ada upaya yang dilakukan supaya kepikunan ini dapat dihindari atau setidaknya ditunda.
Menurut Dr.H.Samino Sp.S (k), dari Asosiasi Alzheimer Indonesia, kepikunan dapat dihindari dengan membiasakan gaya hidup sehat dan melakukan stimulasi kognitif agar sel-sel otak terus aktif. Dengan upaya ini, sel-sel saraf akan terus menghasilkan zat neurotransmitter yang dibutuhkan otak.
"Istilahnya use it atau lose it. Kita harus terus menggunakan sel-sel saraf di otak kalau kita tak mau kehilangannya. Kalau kita diam, berarti sel-sel saraf pun diam tidak melakukan aktivitas," ujarnya di Jakarta, Rabu (6/8).
Salah satu gaya hidup yang disarankan Dr Samino adalah menjaga kebutuhan nutrisi untuk otak melalui makanan bergizi. "Gaya hidup dibentuk oleh otak dan salah satu gaya hidup adalah kebiasaan makan. Makanan yang mengandung omega 3 dan kandungan antioksidan dalam sayur mayur serta buah-buahan itu direkomendasi untuk kesehatan sel-sel otak," ungkapnya.
Hal lain yang perlu diupayakan, lanjut Dr Samino adalah olahraga secara teratur mengingat gerakan fisik tidak terlepas dari fungsi mental seseorang.
"Gerakan yang terencana dan bersifat fisiologis akan memberi stimulasi atau merangsang fungsi sel. Itu berarti sel-sel saraf termanfaatkan," terangnya.
Sementara itu, bentuk stimulasi kognitif yang sederhana adalah membaca. Kegiatan mendengar musik juga merupakan stimulasi karena dapat mengaktifkan otak pusat persepsi pendengaran dan juga memori apa yang kita dengar.
Hal lain yang penting dalam menghindari kepikunan adalah mengurangi paparan terhadap zat-zat toksik. Sejumlah zat atau logam beracun seperti merkuri, timbal dan alumunium, tegas Dr.H.Samino dapat memberi dampak negatif terhadap sel-sel otak meski efeknya bersifat jangka panjang.
Zat timbal misalnya dapat terpapar melalui polusi dari asap kendaraan bila bahan bakarnya belum bebas dari logam berat tersebut. Paparan merkuri kemungkinan besar didapat dari penambangan emas atau bidang kedoketeran gigi.
"Sedangkan paparan alumunium berpotensi berasal dari pasta gigi atau obat-obat maag yang mengandung aluminum silikat. Kalau pemakaiannya bersifat jangka panjang dan sering, tentu akan menambah risiko terjadinya penurunan kualitas daya ingat dan fungsi kognitif," tandasnya.
Awas, Kebanyakan Junk Food Bisa Pikun!
PENELITIAN terbaru pada tikus di laboratorium menunjukkan, konsumsi junk food dapat memicu terjadinya kerusakan sel syaraf otak mirip penyakit kepikunan Alzheimer.
Tikus yang diberikan makanan junk food selama sembilan bulan menunjukkan tanda-tanda abnormalitas pada otak berupa rangkaian kusut neurofibrillary yang berisi protein tau mengidikasikan adanya Alzheimer, demikian dilaporkan para ilmuwan dari Karolinska Institutet, Swedia.
Temuan ini mengindikasikan betapa kebiasaan gaya hidup moderan seperti diet kaya lemak, gula dan kolesterol akan memperbesar risiko terjadinya jenis kepikunan yang paling banyak ditemukan ini.
"Dari hasil pemeriksaan pada otak-otak tikus, kami menemukan perubahan kimiawi yan tidak jauh berbeda pada otak yang terserang Alzheimer," ungkap Susanne Akterin, ahli dari Alzheimer's Disease Research Center, di Karolinska Institutet.
"Kami sekarang curiga bahwa tingginya asupan lemak dan kolesterol yang dikombinasikan dengan faktor genetik dapat merugikan sejumlah substansi dalam otak, yang dapat memberikan kontribusi dalam perkembangan Alzheimer," tambahnya.
Alzheimer adalah penyakit yang belum ada obatnya. Hampir enam puluh persen kasus kepikunan atau demensia pada orang lanjut usia disebabkan oleh penyakit ini.
Dalam risetnya, Akterin meneliti varian gen atau protein apoE4, yang biasanya ditemukan pada 15 hingga 20 persen mereka yang memiliki faktor risiko mengidap Alzheimer. Gen ini berperan dalam sistem transportasi kolesterol pada tubuh.
Akterin memantau tikus yang direkayasa secara genetis memiliki varian gen tersebut. Tikus-tikus diberi makanan yang mengandung banyak lemak, gula dan kolesterol selama sembilan bulan. Jenis makanan ini merepresentasikan kandungan nutrisi yang biasa dijadikan di gerai fast food.
Tikus-tikus secara perlahan menunjukkan perubahan kimia dalam otaknya , yang mengidikasikan pembentukan abnormal protein tau yang merupakan penanda hadirnya Alzheimer, selain juga tanda bahwa kolesterol dalam makanan menurunkan kadar protein lain yang disebut Arc yang berperan dalam kemampuan daya ingat.
Sumber :Reuters
Tikus yang diberikan makanan junk food selama sembilan bulan menunjukkan tanda-tanda abnormalitas pada otak berupa rangkaian kusut neurofibrillary yang berisi protein tau mengidikasikan adanya Alzheimer, demikian dilaporkan para ilmuwan dari Karolinska Institutet, Swedia.
Temuan ini mengindikasikan betapa kebiasaan gaya hidup moderan seperti diet kaya lemak, gula dan kolesterol akan memperbesar risiko terjadinya jenis kepikunan yang paling banyak ditemukan ini.
"Dari hasil pemeriksaan pada otak-otak tikus, kami menemukan perubahan kimiawi yan tidak jauh berbeda pada otak yang terserang Alzheimer," ungkap Susanne Akterin, ahli dari Alzheimer's Disease Research Center, di Karolinska Institutet.
"Kami sekarang curiga bahwa tingginya asupan lemak dan kolesterol yang dikombinasikan dengan faktor genetik dapat merugikan sejumlah substansi dalam otak, yang dapat memberikan kontribusi dalam perkembangan Alzheimer," tambahnya.
Alzheimer adalah penyakit yang belum ada obatnya. Hampir enam puluh persen kasus kepikunan atau demensia pada orang lanjut usia disebabkan oleh penyakit ini.
Dalam risetnya, Akterin meneliti varian gen atau protein apoE4, yang biasanya ditemukan pada 15 hingga 20 persen mereka yang memiliki faktor risiko mengidap Alzheimer. Gen ini berperan dalam sistem transportasi kolesterol pada tubuh.
Akterin memantau tikus yang direkayasa secara genetis memiliki varian gen tersebut. Tikus-tikus diberi makanan yang mengandung banyak lemak, gula dan kolesterol selama sembilan bulan. Jenis makanan ini merepresentasikan kandungan nutrisi yang biasa dijadikan di gerai fast food.
Tikus-tikus secara perlahan menunjukkan perubahan kimia dalam otaknya , yang mengidikasikan pembentukan abnormal protein tau yang merupakan penanda hadirnya Alzheimer, selain juga tanda bahwa kolesterol dalam makanan menurunkan kadar protein lain yang disebut Arc yang berperan dalam kemampuan daya ingat.
Sumber :Reuters
Subscribe to:
Posts (Atom)