Showing posts with label asi. Show all posts
Showing posts with label asi. Show all posts

Thursday, December 8, 2011

Ibu Menyusui Dilarang Makan Makanan Pedas?

KOMPAS.com — Saat ibu menyusui, biasanya muncul aneka nasihat yang berbau anjuran dan larangan. Tidak boleh ini, harus itu, dan sebagainya. Padahal sering kali hal itu hanya mitos, lho. Nah, apalagi mitos dan fakta seputar menyusui?

Mitos: Sebelum menyusui, ASI yang keluar pertama harus dibuang dulu.
Fakta: Tidak perlu dibuang. ASI pertama yang keluar adalah kolostrum yang mengandung banyak zat antibodi untuk kekebalan tubuh. Sebelum menyusui, ibu boleh mengoleskan ASI kepada puting susu dan sekitarnya untuk mematikan kuman.

Mitos: ASI basi.
Fakta: Tidak ada istilah ASI basi selama ASI ada di payudara ibu. ASI selalu dalam keadaan terlindungi dalam payudara sehingga tak mungkin basi atau dingin karena selalu sesuai dengan suhu tubuh. ASI dianjurkan untuk tidak diberikan lagi bila dibiarkan dalam suhu ruang lebih dari 8 jam. Namun bila disimpan di kulkas bisa bertahan 2 minggu, bila di suhu freezer, bisa bertahan 2 bulan.

Mitos: Makanan pedas dan bersantan yang dikonsumsi ibu dapat menyebabkan bayi diare.
Fakta: Tak pernah terjadi bayi diare hanya karena makanan yang dikonsumsi ibunya. Meski begitu, sebaiknya ibu jangan mengonsumsi makanan yang terlalu merangsang karena ada juga bayi yang menjadi kembung.

Mitos: Ibu menyusui tak boleh minum es karena menyebabkan bayi pilek.
Fakta: Hal itu tak berhubungan sama sekali. Suhu ASI dalam payudara tetap hangat 37 derajat celsius. Apa pun yang dikonsumsi ibu akan diserap darah dan akan diproduksi menjadi ASI.

Mitos: Semasa menyusui, ibu harus makan dua porsi lebih banyak.
Fakta: Sebetulnya tidak demikian. Yang penting adalah konsumsi menu seimbang. Bila ibu merasa lapar silakan makan, tetapi berhenti bila sudah kenyang. Perhatikan keseimbangan dan kecukupan gizinya. Sebaiknya ibu tidak diet karena memengaruhi komposisi ASI dan produksinya juga akan berkurang.

Mitos: Payudara besar berarti ASI berlimpah.
Fakta: Tidak benar. Payudara besar menandakan banyaknya lemak yang menunjang. Banyak sedikitnya produksi ASI bergantung pada gudang ASI yang di situ terdapat kelenjar-kelenjar susu yang menghasilkan ASI. Setiap ibu mempunyai kelenjar yang banyaknya kurang lebih sama.

Mitos: Payudara jadi kendur bila menyusui.
Fakta: Justru proses menyusui menyebabkan payudara jadi kencang. Hal ini terjadi karena adanya kontraksi dari otot-otot dan kelenjar payudara.

Mitos: Bayi dengan ASI eksklusif akan susah diberi makanan pendamping.
Fakta: Justru bayi yang mendapat ASI eksklusif nantinya lebih mudah menerima variasi rasa makanan pendamping. Pasalnya, bayi sudah terbiasa memperoleh rasa ASI yang variatif.

Mitos: Setelah ibu bekerja, produksi ASI akan berkurang.
Fakta: Tidak selalu. Caranya, sebelum dan setelah bekerja, ibu tetap memberikan ASI langsung kepada bayinya, sementara selama ibu bekerja, ASI tetap dikeluarkan dengan cara diperah setiap 3 jam sekali. Kalau hanya diperah saja tanpa disusukan langsung, produksinya pun akan berkurang karena isapan bayi dapat merangsang kerja otak untuk menghasilkan hormon prolaktin.

Menyusui Tak Membuat Payudara Kendur

Payudara boleh jadi merupakan 'aset' penting bagi seorang wanita. Tak heran sedikit perubahan bentuk saja sudah menjadi masalah. Salah satu hal yang membuat wanita takut adalah payudara yang kendur dan lembek. Sayangnya, masih banyak yang berpendapat menyusui merupakan penyebab kendurnya payudara.

Menyusui merupakan hadiah terbaik yang bisa diberikan seorang ibu kepada bayi dan dirinya sendiri. Namun, tak sedikit wanita yang enggan menyusui karena khawatir payudaranya kendur. Padahal, pendapat ini salah.

Berdasarkan studi yang dilakukan di tahun 2007 dan dipresentasikan dalam pertemuan "American Society of Plastic Surgeons", para ahli sepakat bahwa menyusui tidak menyebabkan payudara kendur. Kekencangan payudara berubah karena membesarnya ukuran payudara dan kenaikan berat badan selama kehamilan, usia yang menua, dan rokok yang bisa membuat elastisitas kulit menurun.

Seiring bertambahnya usia, kelenjar di payudara pun berkurang, dan digantikan oleh jaringan lemak sehingga tak sekencang dulu lagi. Makin lama jaringan serabut di payudara yang disebut cooper's ligament pun mengendur. "Ini adalah jaringan yang membuat payudara kencang," kata Leona Downey, dari Universitas of Arizona Health Science Center. Selain itu, saat kita muda, kadar hormon estrogen yang tinggi akan menjaga payudara tetap kencang.

Pada dasarnya payudara tidak memiliki otot, melainkan terdiri dari jaringan serat, lemak, dan kelenjar yang memproduksi air susu. Karena tidak disangga tulang dan otot ini pula, payudara sangat mudah terpengaruh oleh gaya grativasi.

Sayangnya, menurut para ahli kita tak bisa mencegah kekenduran. "Karena payudara tidak terdiri dari otot maka tak ada jenis olahraga yang bisa mengencangkan bagian dada," kata Downey.

Meski begitu, pemakaian bra yang tepat tetap disarankan. Selain untuk melawan gravitasi bumi, ukuran bra yang pas juga akan membantu perbaikan anatomi payudara. "Menggunakan bra yang kencang agar payudara tak kendur, tak akan banyak berpengaruh," kata Downey. Namun, ia menyarankan agar kita menggunakan sport bra saat melakukan aktivitas yang membuat payudara terguncang, misalnya jogging atau berolahraga. *

Sumber: WebMD

Ibu yang Sedang Menyusui Pun Butuh Susu!

KOMPAS.com - Ada berbagai faktor yang bisa memengaruhi masa perkembangan awal otak, antara lain; kasih sayang, nutrisi, gen, stimulasi, feedback, tantangan, dan seni. Pertumbuhan otak sendiri dimulai sejak masa pra-natal (sebelum dilahirkan), sejak trimester pertama, lalu berlanjut hingga masa pasca-natal (setelah dilahirkan).

Nutrisi yang bisa didapatkan bayi dari ASI, khususnya ketika ia mendapatkan ASI dari IMD (Inisiasi Menyusu Dini) bisa membantunya berkembang secara optimal. ASI merupakan makanan tunggal dan terbaik yang bisa memenuhi semua kebutuhan tumbuh kembang bayi. Apalagi ketika ia diberikan ASI eksklusif selama 6 bulan. ASI mengandung banyak kandungan gizi dan nutrisi yang penting untuk kesehatan dan kecerdasan si buah hati.

ASI sendiri memiliki berbagai macam kandungan yang bervariasi di tiap ibu, tergantung menu makanan si ibu, tingkat nutrisi si ibu, dan saat diberikannya ASI kepada bayi. Diterangkan oleh Dr. Jeanne Ross Tikoalu SpA jumlah produksi susu ASI ibu bergantung kepada jumlah frekuensi menyusui bayi. Semakin banyak ibu menyusui si bayi, makin banyak pula produksi ASI si ibu yang dihasilkan. Ini merupakan rantai yang berlangsung alamiah di dalam tubuh si ibu, ketika ASI yang ada di dalam payudara ibu sudah berkurang, secara otomatis akan mengirim sinyal ke otak untuk memproduksi lebih banyak. Di samping itu, jumlah asupan cairan si ibu pun turut menentukan volume ASI si ibu.

Di saat menyusui, si ibu pun perlu asupan nutrisi yang cukup dan berkualitas. Terkadang, saking fokusnya untuk memberikan yang terbaik untuk si bayi, orangtua cenderung berkonsentrasi terhadap jumlah, padahal kualitas pun penting. Ibu yang kekurangan gizi tidak bisa memberikan ASI dengan kualitas terbaik. Maka, demi si anak, penting untuk ibu memerhatikan gizinya dan apa yang ia makan.

Adapun nutrisi yang diperlukan oleh seorang ibu yang sedang menyusui adalah kalsium, zinc, magnesium, vitamin B6, dan folat. Kandungan ini penting untuk perkembangan si bayi, juga sebagai zat yang membantu pemulihan si ibu setelah melahirkan. Nutrisi-nutrisi ini bisa didapatkan dari asupan makanan padat sehari-hari, juga dibantu dengan bantuan mikronutrisi yang bisa juga didapat dalam bentuk susu khusus ibu yang sedang menyusui.

Mau Kasih ASI? Jangan Malu... Tanya "Saya"!

JAKARTA, KAMIS - Kampanye pemberian Air Susu Ibu (ASI) sudah marak dilakukan. Nyatanya, informasi mengenai ASI kepada ibu menyusui tetap saja dirasa belum cukup, karena para ibu masih saja mengalami kebingungan dan tidak mendapatkan informasi yang benar tentang ASI.

Nah, bagi Anda ibu menyusui atau siapa saja yang berada dalam lingkaran ibu menyusui, kampanye yang baru saja diluncurkan oleh Pemda DKI Jakarta didukung oleh USAID, Pemerintah Kep. Faroese, Vitol Charitable Foundation dan Mercy Corps pasti akan menjadi informasi yang sangat penting diketahui. Pada Kamis (30/10) sore, diluncurkan kampanye "Kasih ASI? Tanya Saya!".

Siapa yang dimaksud "saya"? "Saya" disini adalah para konselor dan motivator ibu menyusui. Keberadaannya, bisa ditemui di belantara Jakarta. Bagaimana menandainya? Para konselor dan motivator menyusui bisa ditandai dengan pin perpaduan warna abu-abu dan oranye yang bertuliskan "Kasih ASI, Tanya Saya". Jika menemui orang-orang yang menggunakan pin ini (lihat foto), silahkan saja tanya apapun tentang menyusui, dan...jangan malu bertanya!

"Melalui kampanye ini, kami ingin mempromosikan keberadaan konselor dan motivator menyusui yang sudah tersebar di Jakarta, khususnya yang banyak di Jakarta Utara. Selama ini ada informasi yang salah atau tidak tepat seputar ASI dan menyusui, sehingga para konselor dan motivator ini diharapkan bisa membantu dan mendukung ibu menyusui. Tinggal mencari para konselor dan motivator, lalu bisa bertanya apa saja tentang menyusui," kata Program Manager Mercy Corps, Fransiska E. Mardiananingsih dalam jumpa pers di Jakarta.

Fransiska menambahkan, inti dari kampanye ini adalah membangkitkan rasa ingin bertanya dan mendapatkan solusi mengenai masalah menyusui bagi seluruh komponen masyarakat. Kepala Suku Dinas Kesehatan Jakarta Utara, dr. Paripurna mengatakan, di kawasan Jakarta Utara pihaknya telah melatih pada konselor dan motivator menyusui untuk membantu terciptanya Kelompok Pendukung Ibu Menyusui guna meningkatkan keberadaan advisor di tingkat fasilitas kesehatan dan masyarakat. Kampenye ini akan berlangsung selama satu tahun ke depan. Selain mengenalkan keberadaan konselor dan motivator, disebarkan juga berbagai poster yang menyosialisasikan informasi seputar menyusui.

Inggried Dwi Wedhaswary

Setelah Bayi Lahir, Segera Lakukan IMD

JAKARTA, KOMPAS.com - Inisiasi menyusui dini (IMD) merupakan langkah awal tumbuh kembang anak yang optimal. Oleh karena itu, bayi yang baru lahir harus segera diberikan kesempatan untuk mulai insiasi menyusu sendiri.

Dr. Utami Roesli, SpA, spesialis anak dari RS. St Carolus menerangkan cara melatih bayi untuk melakukan IMD adalah dengan membiarkan kontak kulit bayi dengan kulit ibu setidaknya satu jam atau lebih sampai menyusui awal selesai.

"Bayi yang lahir normal diletakan di perut ibu segera setelah lahir. Dengan kulit ibu melekat pada kulit bayi selama setidaknya 1 jam, dalam usia 20 menit bayi merangkak kearah payudara, dan pada 50 menit bayi tersebut akan menyusu," terang dr. Utami, di Hotel Borobudur, Jakarta, Minggu ( 21/6 ).

Jangan khawatir bayi akan kedinginan, karena kulit ibu mempunyai kemampuan untuk menyesuaikan suhunya dengan suhu yang dibutuhkan bayi.

Terdapat lima tahapan perilaku bayi sebelum menyusui. Dalam 30 menit pertama adalah istirahat siaga, bayi sesekali melihat ibunya dan menyesuaikan dengan lingkungan. Tahap kedua, 30 hingga 40 menit bayi akan mengeluarkan suara gerakan menghisap, memasukan tangan ke mulut. Selanjutnya, bayi akan mengeluarkan air liur. Setelah itu, kaki bayi akan menekan-nekan perut ibu untuk bergerak ke arah payudara.

Lalu, pada tahap akhir, bayi akan menjilat-jilat ibu, menyentuh puting dengan tangannya, menghentakan kepala ke dada ibu menoleh ke kanan dan ke kiri. "Setelah itu bayi akan menemukan puting, menjilat, mengulum puting susu, membuka mulut dan melekat dengan baik," terangnya.

Bila dalam satu jam menyusu awal belum juga terjadi, dekatkan bayi ke puting ibu. Namun jangan memasukan puting ke mulut bayi, beri waktu 30 menit atau 1 jam lagi. "Rawat juga ibu dan bayinya dalam satu ruangan, dalam jangkauan ibu selama 24 jam. Berikan ASI saja tanpa makanan lain tidak diberi dot atau empeng," kata dia.

Ia mengungkapkan, bayi yang lahir normal dan dipisahkan dari ibunya, 50 persen tidak bisa menyusu. Sementara bayi yang lahir dengan tindakan dan dipisahkan dari ibunya, 100 persen tidak bisa menyusu.

Meski IMD sangat dibutuhkan, lanjut dia, kondisi ibu dan bayi juga harus dalam keadaan stabil. "Jika terjadi pendarahan pada ibu, baik karena operasi atau apapun, segera hentikan IMD, karena hasilnya justru tidak akan maksimal," terangnya.

Kenali Anatomi Payudara Sebelum Menyusui

KOMPAS.com - Masa menyusui akan lebih menyenangkan jika ibu memiliki pemahaman menyeluruh tentang produksi ASI, termasuk gudang ASI, yakni payudara. Anatomi payudara menjadi penting agar ibu tak mempermasalahkan bentuk atau ukuran payudara, saat ASI dirasa tak keluar. Catatan pentingnya adalah bahwa semua payudara ibu bisa mengeluarkan ASI.

Farahdiba Tenrilemba Jafar, Sekretaris Jenderal Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) mengungkapkan, gudang ASI, volume yang dikeluarkan, serta penyalurannya (deras-tidaknya saat keluar) bervariasi bagi setiap perempuan. Karenanya setiap ibu perlu memahami anatomi payudara masing-masing. Apalagi saat memutuskan untuk menggunakan posisi menyusui tertentu, atau menggunakan tangan untuk menyangga atau memegang payudara ketika sedang memerah ASI.

Berikut berapa catatan penting seputar payudara, seperti disampaikan Diba saat workshop "Breastfeeding Tips For Working Moms" beberapa waktu lalu.

Bentuk payudara mulai berubah saat hamil
Bentuk payudara mulai berubah saat usia kehamilan 13 minggu hingga satu bulan setelah persalinan. Payudara akan terus berubah hingga ibu melahirkan dan menyusui anak kedua hingga ketujuh, misalnya.

"ASI sudah mulai diproduksi sebelum bayi lahir. Saat saluran ASI sudah bekerja ukuran payudara mulai berubah. Dan yang membuat payudara berubah bukan karena menyusui namun pengaruh dari kehamilan," tegas Diba, menambahkan seringkali ibu khawatir payudara berubah karena menyusui. Kekhawatiran inilah yang akhirnya menghambat penyaluran ASI.

Payudara perlu dirangsang
Produksi ASI akan lancar jika payudara sebagai gudang ASI terus-menerus dirangsang. Caranya, tingkatkan frekuensi bayi menyusui selama 72 jam pertama atau dengan memerah ASI. Semakin sering penyaluran ASI dengan isapan bayi, produksi ASI akan meningkat secara alamiah.

Tiga hari paska melahirkan, jika ibu secara kosisten menstimulasi payudaranya (dengan isapan bayi), maka ASI akan berubah dari ASI transisi menjadi ASI matur (putih, bukan bening), ditambah lagi volume juga semakin meningkat.

"ASI tidak akan habis kecuali frekuensi menyusui memang berkurang," tegas Diba.

Bagian payudara
Payudara memiliki tujuh bagian, mulai pangkal payudara hingga puting. Pabrik ASI lebih mendominasi payudara daripada lemak, perbandingannya 2:1. Sebanyak 65 persen pabrik ASI terletak dalam radius 30 milimeter dari dasar puting.

Bagian paling atas (pangkal payudara) adalah penyangga lemak dan pabrik ASI. Sedangkan lemak terletak pada dinding dada atau bagian belakang payudara. Lemak juga terdapat di sekitar area pabrik ASI bagian tengah. Terdapat juga lemak di bawah kulit, namun komposisinya masih lebih banyak pabrik ASI daripada lemak di payudara. Bagian dasar puting merupakan saluran ASI utama, dan puting menjadi saluran ASI dengan jumlah bervariasi bagi setiap perempuan, antara empat hingga 18 titik saluran ASI pada puting.

"Jika puting hanya memiliki empat titik, ASI akan keluar sedikit. Berbeda dengan ASI yang keluar deras dari 18 titik saluran ASI. Untuk empat titik, artinya harus lebih sering menyusui dan lebih lama waktunya," jelas Diba.

Saluran ASI bukan sebagai ruang penyimpanan
Fungsi utama saluran ASI adalah untuk mengalirkan dan membawa ASI dari pabriknya, bukan untuk menyimpan. Jadi, ASI yang sudah diproduksi di pabrik ASI (payudara) sebaiknya langsung dialirkan melalui saluran ASI (puting) dengan menikmati waktu menyusui. Isapan bayi akan mengosongkan maksimal 70 persen ASI dari payudara, untuk kemudian berproduksi kembali secara alamiah.

Ayah ASI, Bagaimana Perannya?

KOMPAS.com - Pilihan untuk memberikan ASI eksklusif perlu disepakati bersama, terutama dengan suami. Dukungan keluarga, terlebih suami, memberikan motivasi yang akan menumbuhkan emosi positif bagi istri.

Ketua Umum Sentra Laktasi Indonesia, dr Utami Roesli SpA IBCLC FABM mengungkapkan produksi ASI ditentukan oleh pikiran istri. Di sinilah ayah memainkan perannya, sebagai ayah ASI atau breastfeeding father.

"Pikiran negatif istri mempengaruhi produksi ASI," ujar dr Utami dalam talkshow "Sehat dan Produktif berkat Menyusui" di AIMI Breastfeeding Fair, FX Plaza, Sabtu (15/5/2010).

dr Utami menyebutkan sejumlah penelitian menunjukkan peran ayah menentukan keberhasilan menyusui. Bahkan Michigan States University, disebutkan dr Utami, merekomendasikan pendidikan ASI bagi ayah.

Lantas bagaimana ayah memainkan perannya saat menyusui? dr Utami menyebutkan:

1. Pastikan istri tidak sedih
Peran ayah dimulai dengan menciptakan suasana positif yang nyaman untuk ibu. Memberikan motivasi dan memastikan istri tidak sedih, menjadi tugas penting suami. Karenanya perhatian khusus perlu diberikan saat masa menyusui. Gangguan dari luar atau lingkungan bisa saja membuat istri stres. Suami perlu memberikan dukungan penuh dengan komunikasi yang baik sebagai kuncinya.

2. Membekali diri dengan informasi
Internet membuka banyak informasi yang bisa membekali ayah untuk menyiapkan dirinya. Buku referensi seputar laktasi dan ASI eksklusif juga bisa menjadi pilihan lainnya. Ayah ASI perlu berinisiatif mempelajari ilmu tentang menyusui ini. Bergabung dengan komunitas atau forum ibu menyusui juga positif dilakukan ayah ASI. Dengan begitu ayah bisa belajar dari pengalaman orangtua lainnya, dan saling memotivasi.

3. Konsultasi laktasi
Ketidaktahuan dan minim pengalaman umumnya dialami ayah baru. Jika merasa belum yakin dengan berbagai informasi yang diterima, sebaiknya lakukan konsultasi ke klinik laktasi misalnya.

4. Shopping rumah sakit
ASI eksklusif di mulai dari inisiasi menyusui dini (IMD), saat ibu melahirkan. Ayah ASI yang komitmen mendukung ibu menyusui, sebaiknya memulai mencari informasi rumah sakit yang tepat sejak masa kehamilan istri. Shopping rumah sakit ini penting, untuk mengetahui RS mana yang sayang bayi terutama mendukung ASI dan IMD. Melakukan konsultasi dengan manajemen rumah sakit menjadi hak Anda. Jadi, jangan ragu bertanya tentang IMD atau pelayanan rumah sakit sebagai persiapan melahirkan.

5. Konsultasi dokter spesialis
Dokter anak atau dokter spesialis obygn menjadi sumber lain untuk mengumpulkan infomasi seputar ayah ASI. Jangan sungkan bertanya, misalnya melalui berbagai workshop atau seminar. Kegiatan seminar bisa menjadi kesempatan baik memperoleh infomasi yang tepat dan benar. Atau datangi langsung dokter spesialis jika ingin mendapatkan pemahaman lebih rinci.

Posisi Terbaik Saat Menyusui

KOMPAS.com - Banyak-sedikitnya ASI ternyata berhubungan langsung dengan posisi ibu saat menyusui. Posisi yang tepat akan mendorong keluarnya ASI secara maksimal. Apa pun teknik bersalinnya, ibu dapat menyusui bayi sesegera mungkin. Begitu pula jika melahirkan bayi kembar.

Persalinan normal. Anda lebih leluasa dalam memilih posisi menyusui: sambil duduk atau berbaring menyamping pun tak masalah. Jika posisi duduk yang dipilih, gunakan kursi yang nyaman. Upayakan telapak kaki menginjak lantai. Gunakan bangku kecil sebagai pengganjal bila posisi kaki agak menggantung.

Persalinan caesar. Anda disarankan menggunakan football position, dimana tubuh bayi digendong dengan salah satu tangan Anda. Upayakan letak kepala bayi berada tepat di bawah payudara dan membentuk garis lurus dengan badan bayi. Posisi ini aman karena bagian bawah perut Anda yang masih nyeri akibat operasi dapat terlindungi. Posisi ini pun paling nyaman untuk Anda maupun si bayi.

Bayi kembar. Football position juga tepat untuk bayi kembar. Caranya: peluk masing-masing satu kepala bayi dengan kedua tangan, seperti memegang bola. Letakkan tepat di bawah payudara. Posisi kaki bayi boleh dibiarkan menjuntai keluar. Untuk memudahkan, kedua bayi dapat diletakkan pada satu bidang datar yang memiliki ketinggian kurang lebih sepinggang Anda. Dengan demikian Anda cukup menopang kepala kedua bayi kembarnya saja. Cara lain adalah dengan meletakkan bantal di atas pangkuan Anda.

Perlekatan saat menyusui
Selain posisi, hal penting lainnya yang harus diperhatikan adalah perlekatan antara bayi dan ibu saat menyusui. Perlekatan ini penting karena menentukan sedikit-banyaknya ASI yang keluar. Kalau sekadar menempel ke payudara Anda, maka hanya puting yang diisap bayi. Akibatnya meski sudah menyedot sekuat tenaga, ASI hanya keluar sedikit mengingat "gudang" ASI tepat berada di bawah areola. Anda akan merasa nyeri dan puting pun biasanya lecet. Berikut tahapan untuk mendapat perlekatan yang baik:

* Temukan posisi senyaman mungkin. Bila ingin duduk, pilihlah kursi yang tak terlalu tinggi. Upayakan telapak kaki menjejak lantai dengan nyaman. Bila ingin berbaring, perhatikan ketinggian posisi bayi. Usahakan bayi yang mendekatkan diri ke Anda dan bukan sebaliknya. Ini bermanfaat supaya Anda merasa nyaman dan tak cepat lelah. Bila perlu, manfaatkan bantal sebagai penyangga tubuh bayi.

* Perhatikan posisi bayi. Idealnya, kepala dan tubuh bayi haruslah lurus dan sejajar. Posisi payudara lebih tinggi daripada kepala bayi. Jangan sampai kepala bayi lebih tinggi karena bayi pasti sulit menekuk kepalanya sedemikian rupa. Dagu bayi harus menempel pada payudara Anda, sedangkan dadanya menempel pada dada Anda, atau perutnya menempel ke perut Anda.

Upayakan semua bagian areola masuk ke dalam mulut bayi. Jika Anda memiliki areola yang besar, utamakan bagian bawahnya masuk lebih banyak dibanding bagian atas. Sekilas bibir bayi tampak dower bila perlekatannya baik, dan akan terdengar suara bayi menelan susu. Sebaliknya, perlekatan yang salah membuat ASI tak keluar maksimal.

Arahkan puting dan areola ke langit-langit bayi. Gunakan ibu jari dan jari telunjuk seperti posisi menggunting. Setelah areola masuk seluruhnya ke mulut bayi, jari tangan boleh dilepas. Jangan khawatir bayi tak dapat bernafas hanya karena mengisap ASI. Karena kalau tidak bisa bernafas, otomatis bayi akan melepaskan mulutnya dari payudara Anda, kemudian mencari mekanisme senyaman mungkin.

* Lamanya waktu menyusui. Tak perlu khawatir produksi ASI tak mencukupi kebutuhan bayi, sebab dengan kuasa Tuhan kapasitas payudara Anda sudah disesuaikan dengan kebutuhan. Hanya saja, lamanya waktu menyusui berbeda pada setiap bayi, bervariasi antara 15-30 menit. Setelah kenyang, otomatis bayi akan melepaskan isapannya dari payudara Anda. Biarkan saja bayi tertidur meski baru mengisap ASI dari satu payudara. Saat minta disusui kembali, lanjutkan dengan payudara yang satunya. Jadi jangan buru-buru atau memaksa bayi melepaskan isapannya dari satu payudara hanya agar ia berganti dengan payudara lainnya.

* Bila ASI berlimpah. Anda yang beruntung memiliki ASI berlimpah dan alirannya deras, ada posisi khusus untuk menghindari agar bayi tak tersedak. Caranya, tidurlah telentang lurus, lalu letakkan bayi di atas perut Anda dalam posisi berbaring lurus dengan kepala menghadap ke payudara (letdown reflex).

Sumber :Tabloid Nakita

Bekerja tapi Harus Menyusui? Enggak Masalah...

JAKARTA, SABTU - Menyusui terkadang menjadi masalah bagi para wanita bekerja yang memiliki kewajiban menyusui bayinya. Tapi, hal itu tak akan menjadi masalah yang serius jika bisa mengatur manajemen waktunya. Terutama mereka yang masih memberikan air susu ibu (ASI) eksklusif. Setidaknya hal itu diutarakan beberapa ibu muda yang bekerja dan harus menyusui anak mereka.

Ditemui di sela-sela acara Menyusui Serentak Ibu Indonesia di Jakarta, Sabtu (2/8), Nana yang seorang PNS menceritakan pengalamannya. "Saya baru 3 bulan yang lalu melahirkan anak pertama saya. Mulai kerja sih baru satu minggu ini. Tadinya bingung juga, gimana ya menyusui kalau nanti saya bekerja. Akhirnya saya cari tahu dari milis dan saya menggunakan ASI perah," kata Nana.

ASI perah yang dimaksud Nana, pada jam-jam di mana ia harus memberikan ASI, Nana akan memompa ASI-nya. Kemudian ASI tersebut dimasukkan ke dalam cooler bag. "Nanti sampai di rumah saya masukin kulkas buat diminumin besok. ASI itu masih baik untuk diminumin ke bayi 3 sampai 4 hari berikutnya. Kalau dimasukin ke freezer malah bisa sampai 3 bulan. Nanti pas mau diminum dipanasin," ujar ibu dari Bagas ini.

Lain lagi pengalaman Titik. Ia baru saja melahirkan putri keduanya, Chiara, sekitar 5 bulan lalu. Kali ini Titik bertekad ingin memberikan ASI eksklusif. Sebab, anak pertamanya hanya ia susui selama 40 hari. "Waktu itu belum pengalaman sih ya. Jadi susunya sedikit, enggak keluar. Anak pertama saya itu bisa dibilang anak susu formula. Setelah itu, saya aktif cari informasi dan akhirnya yang kedua ini lebih bisa saya perhatikan pemberian ASI-nya. Saya kerja juga enggak masalah," ujar Titik.

Titik menceritakan, dia selalu memompa ASI-nya pada malam hingga dini hari, jam 19.00 hingga jam 02.00. Seperti halnya Nana, ASI tersebut ia simpan di lemari pendingin untuk cadangan persediaan ASI putrinya esok hari. "Jadi, sekarang enggak ada masalah dan alasan untuk ibu-ibu yang bekerja untuk tidak menyusui. Asal tahu bagaimana manajemen pemompaan susu, cara nyimpennya," kata Nana.

Wakil Ketua Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) Nia Umar mengatakan, semakin hari semakin banyak saja ibu-ibu bekerja yang memerhatikan kebutuhan dan pentingnya memberikan ASI eksklusif. Hal itu dilihatnya dari antusiasme para ibu bergabung pada milis AIMI. "Yang banyak di-share terutama soal gimana caranya kerja tapi tetap bisa ngasih ASI eksklusif. Bahkan, ada seorang ibu yang sampai bela-belain nyewa satu kamar kos untuk bayi dan pengasuhnya. Kosnya di dekat kantor. Jadi, kalau mau menyusui, dia tinggal ke kos saja," kata Nia.

Penulis: Inggried Dwi Wedhaswary

Menyusui Saat Puasa Perlu Kedisiplinan

KOMPAS.com - Ibu menyusui boleh saja berpuasa. Dengan catatan, kondisi ibu dan bayi dalam keadaan sehat, tidak memiliki keluhan seperti kekurangan gizi, produksi ASI berkurang, sakit, maupun hal lain yang mengganggu kesehatan ibu dan bayi. Sebaiknya ibu menyusui menjalankan puasa saat usia bayi di atas enam bulan.

"Berpuasa bagi ibu menyusui sangat mungkin dilakukan," kata Farahdiba Tenrilemba Jafar, Sekretaris Jendral Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI), kepada Kompas Female.

AIMI menjelaskan, mendapatkan ASI adalah hak bayi. Jadi, dahulukan kepentingan bayi. Artinya, jika usia bayi di bawah enam bulan, saat bayi dalam tahap mendapatkan ASI eksklusif, dan belum memperoleh makanan tambahan selain ASI, dianjurkan ibu tidak berpuasa.

Selama berpuasa, ibu menyusui perlu lebih disiplin mengatur pola makan dan memastikan asupan makanan yang mengandung gizi yang seimbang. Dengan begitu, produksi ASI lancar dan berkualitas.

Disiplin makan tiga kali sehari
Ibu menyusui memerlukan tambahan kalori, sekitar 700 kalori perhari. Sebanyak 500 kalori diambil dari makanan ibu, dan 200 kalori diambil dari cadangan lemak dalam tubuh ibu. Jadi, pastikan tetap makan tiga kali sehari yakni pada saat sahur, ketika berbuka puasa, dan menjelang tidur sesudah shalat tarawih.

Asupan gizi seimbang
Disiplin tak hanya masalah waktu makan, tetapi juga memastikan asupan gizinya seimbang. Komposisinya, 50 persen karbohidrat, 30 persen protein, dan 10-20 persen lemak. Komposisi makanan dengan gizi berimbang akan menghasilkan sari makanan yang bagus untuk anak.

Memperbanyak konsumsi cairan
Minum air putih sebanyak dua liter sehari perlu diusahakan. Jadi, perbanyak minum air putih mulai saat berbuka hingga sahur dan menjelang imsak. Tambah asupan cairan dengan mengonsumsi jus buah, teh manis hangat, dan susu.

Minum segelas susu setiap sahur bisa mengurangi ancaman anemia (berkurangnya kadar hemoglobin/Hb dalam darah), bagi ibu hamil dan menyusui.

Untuk merangsang kelancaran ASI, minumlah minuman hangat saat berbuka puasa.

Cobalah rileks dan curi waktu istirahat
Badan lemas saat berpuasa adalah normal, apalagi bagi ibu menyusui. Ibu menyusui perlu memanfaatkan waktu jika tubuh mulai terasa lemas dan lelah. Cobalah istirahat dengan tidur atau sekadar merebahkan tubuh dan rileks untuk menenangkan pikiran.

ASI lancar karena ibu rajin menyusui atau memerahnya
Prinsipnya, semakin sering payudara dihisap oleh bayi, maka produksi ASI akan semakin banyak. Jika Anda memilih menyusui dan rajin melakukannya saat puasa, ASI akan tetap lancar.

Begitupun dengan ibu bekerja. Kegiatan memerah ASI sebaiknya dilakukan seperti biasa. Menyusui merujuk pada prinsip demand and supply. Artinya, semakin banyak ASI dikeluarkan maka semakin banyak ASI yang akan diproduksi.

Justru, jika ibu menyusui yang biasa memerah menghentikan kegiatan memerahnya selama bulan puasa, maka ASI yang diproduksi dapat berkurang. Berkurangnya produksi ASI bukan disebabkan oleh kegiatan berpuasa tetapi karena mengurangi kegiatan memerah.

Berpuasa wajib bagi ibu hamil dan menyusui, namun ada kelonggaran
AIMI menuliskan, puasa Ramadhan hukumnya tetap wajib bagi ibu hamil dan menyusui. Namun terdapat kelonggaran bagi ibu hamil dan menyusui untuk tidak berpuasa di bulan Ramadhan, dan menggantinya dengan berpuasa di lain waktu atau membayar fidyah atau memberi makan orang fakir miskin. Kelonggaran ini didasarkan pada kondisi ibu dan bayi, yang tidak memungkinkan baginya untuk tetap menjalankan ibadah puasa Ramadhan.

Keputusan berpuasa bagi ibu menyusui kembali kepada motivasi dan niat, serta tentu saja melihat kondisi kesehatan ibu dan bayi.

Penulis: WAF

Layanan Kesehatan Harus Dukung Pemberian ASI

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih meminta seluruh fasilitas layanan kesehatan milik pemerintah maupun swasta untuk memfasilitasi keberhasilan program pemberian ASI.

"Dewasa ini pemberian ASI masih harus ditingkatkan," kata Menkes dalam peringatan Pekan ASI Dunia 2010 tingkat nasional di Monas, Jakarta, Minggu (8/8/2010) kemarin.

Menkes menyatakan, berdasarkan data Susenas 2004 sampai 2008, cakupan pemberian ASI eksklusif pada seluruh bayi di bawah enam bulan meningkat 58,9 persen pada 2004 menjadi 62,2 persen pada 2007. Namun kemudian menurun menjadi 56,2 persen pada 2008.

Disampaikannya, sejumlah kegiatan yang akan dilakukan adalah meningkatkan pemahaman masyarakat tentang arti pentingnya memberikan ASI kepada bayi, meningkatkan jumlah motivator dan konselor menyusui dan mengembangkan regulasi untuk mendukung keberhasilan menyusui.

Menkes berharap, dengan diterapkannya 10 langkah menuju keberhasilan menyusui tersebut, maka akan ada peningkatan jumlah bayi usia 0 sampai enam bulan yang disusui secara eksklusif di Indonesia yang pada gilirannya akan mewujudkan peningkatan kualitas sumber daya manusia di masa mendatang.

Menurut Endang , ada 10 langkah menuju keberhasilan ASI. Yang Pertama adalah menetapkan kebijakan peningkatan pemberian ASI secara rutin dikomunikasikan pada semua petugas. Yang kedua melakukan pelatihan bagi petugas untuk menerapkan kebijakan tersebut.

Langkah ketiga adalah memberikan penjelasan pada ibu hamil tentang manfaat menyusui dan tatalaksana dimulai sejak kehamilan, masa bayi lahir hingga dua tahun. Langkah keempat membantu ibu mulai menyusui bayinya selama 60 menit setelah melahirkan di ruang bersalin, kelima membantu ibu untuk memahami cara menyusui yang benar dan cara mempertahankan menyusui meski ibu dipisah dari bayi atas indikasi medis.

Langkah keenam tidak memberikan makanan dan minuman apa pun selain ASI kepada bayi baru lahir, ketujuh melaksanakan rawat gabung dengan mengupayakan ibu bersama bayi selama 24 jam sehari. Kedelapan yakni membantu ibu menyusui semau bayi tanpa pembatasan terhadap waktu dan frekuensi menyusui. Kesembilan, tidak memberikan dot atau empeng kepada bayi yang diberi ASI dan terakhir mengupayakan terbentuknya kelompok pendukung ASI di masyarakat dan merujuk ibu kepada kelompok tersebut ketika pulang dari rumah sakit atau rumah bersalin serta sarana pelayanan kesehatan.

Lakukan Bonding Saat Memberikan ASI Perah

KOMPAS.com - Dilema ibu bekerja antara lain adalah kurangnya waktu untuk bersama anak. Tak terkecuali untuk Anda yang baru beberapa bulan melahirkan dan harus menyusui. Seringkali Anda harus memompa ASI dan menyimpannya di lemari es kantor. Sampai di rumah (tak jarang setelah cukup larut) Anda baru bisa memberikannya untuk si kecil.

Namun, muncul kekhawatiran, jika ASI diberikan dalam botol, apakah bonding yang diciptakan bisa sekuat saat Anda menyusui bayi secara langsung?

"ASI yang diberikan dalam botol tentu tetap bermanfaat. Pada saat itu, pelukan dan sentuhan itu juga penting, ngobrolnya juga jangan dilupakan," ujar Najeela Shihab, salah satu pendiri Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia, dalam talk show "ASI: Modal Utama Kesuksesan Pengasuhan" di acara Breastfeeding Fair di fx Plaza, Jakarta, Rabu (12/3/2010) lalu.

Bonding, atau perlekatan dengan bayi, bisa dilakukan dengan cara:

1. Menyentuh dan memeluknya.
2. Melakukan kontak mata, karena komunikasi pun bisa terjadi tanpa kata-kata.
3. Memindah-mindahkan posisi bayi, untuk stimulasi sensorisnya. "Memakai baju atau selimut dengan bahan yang berbeda, itu juga melatih kemampuan sensoris," tutur Najeela.
4. Undivided attention. Menyusui sebaiknya tidak dilakukan sambil melakukan aktivitas lain seperti BlackBerry-an, ngobrol di telepon, nonton TV, dan lain sebagainya.

Ketika Anda tiba di rumah, Anda pasti dalam keadaan lelah. Penting untuk tidak menunjukkan kekesalan Anda mengenai tugas menyusui ini di depan anak, misalnya, bahwa payudara Anda sakit atau kendur karena harus menyusui. Bayi dapat menangkap kekesalan Anda ini, dan hal ini bisa dibuktikan secara ilmiah, lho.

"Emosi itu memang tidak terlihat, namun dari segi psikologi diwujudkan dalam bentuk hormon. Jadi ini sesuatu yang riil, bahwa ada energi positif dan negatif dari diri Anda," tukas Najeela.

Meskipun demikian, bila kekesalan Anda tak berkaitan langsung dengan si bayi, Anda boleh saja mengekspresikannya. Hal ini dilakukan supaya anak belajar mengenai emosi, dan bahwa orangtua pun tidak sempurna. Anda perlu meminta maaf pada si kecil ketika terbawa emosi, supaya anak juga tahu bahwa Anda merasa bersalah dan ingin memperbaikinya.

10 Kesalahan Saat Menyusu

KOMPAS.com - Tidak semua ibu baru bisa langsung mengeluarkan ASI, dan ini bisa membuat si ibu menjadi stres. Ketidakmampuan menyusui akan dianggap sebagai kegagalan menjadi ibu. Padahal, mengingat menyusui adalah hal paling alami di dunia ini, seharusnya semua perempuan bisa menyusui. Mungkin Anda hanya melakukan kesalahan dalam mempelajarinya. Ann Grauer, CD(DONA), LCCE, FACCE, konsultan laktasi di Milwaukee, membeberkan 10 jenis kesalahan yang kerap dilakukan ibu baru saat menyusui.

1. Berpisah dari bayi usai melahirkan
Anda tentu mengenal program inisiasi menyusu dini. Program ini sedang gencar dilakukan untuk meningkatkan ikatan batin antara ibu dan anak. Sayangnya, masih ada dokter atau perawat yang tidak begitu mempedulikan program ini. Mereka akan langsung membawa bayi ke kamar bayi, sehingga si ibu tidak mempunyai kesempatan untuk melakukan bonding dengan bayinya.

Nah, kecuali ada alasan medis sehingga bayi langsung dipisahkan dari ibunya, jagalah agar bayi tetap bersama Anda. Selain memfasilitasi kebiasaan menyusui, program inisiasi menyusui dini ini juga akan meningkatkan kekebalan tubuh bayi, lho.

"Begitu bayi lahir, letakkan di atas dada Anda," kata Grauer. "Hangatkan tubuhnya. Bayi baru melalui suatu proses yang menakjubkan, dan ia membutuhkan detak jantung dan suara Anda untuk merasa aman. Sebelum lahir, bayi kan merasa hangat selama 24 jam sehari. Jika Anda hanya mendekapnya selama 12 jam, berarti jatahnya berkurang separuh. Coba Anda lihat dari sudut pandang bayi."

2. Menempel pada sisi yang salah
Mulut bayi harus terbuka lebar supaya ia tidak hanya mengisap bagian puting, tetapi juga areola payudara Anda. Jika bayi tidak menempel dengan benar, ia tidak akan mendapatkan seluruh air susu yang diperlukannya, sementara Anda juga akan mengeluh puting Anda nyeri. "Gelitik area di antara hidup dan mulut bayi dengan puting Anda," saran Grauer. "Hal ini bisa membuat bayi membuka mulutnya lebih lebar. Kemudian pindahkan dia ke atas payudara dengan cepat. Anda pasti kaget betapa besar perbedaannya."

3. Jadi stres ketika sesi menyusui tidak berjalan lancar
Tidak semua ibu akan langsung mengeluarkan ASI. Sebagian perempuan harus mempelajarinya lebih dulu, begitu pula si bayi. Jika percobaan pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya, ini tidak langsung berhasil, jangan langsung stres.

"Bayi butuh Anda menjadi tenang," kata Grauer. "Ambillah nafas dalam dan perlahan. Ketika bayi menjadi gelisah, Andalah yang harus tenang. Bayi tidak menghadapi masalah, kok. Dia hanya frustrasi. Semakin Anda tenang, semakin mudah untuk menenangkannya juga."

4. Mencari posisi yang benar untuk menyusui
Tak perlu lagi lah, belajar dan mempraktikkan posisi ideal untuk menyusui. Beberapa posisi tertentu mungkin menguntungkan untuk si ibu, namun posisi menyusui sebenarnya tidak perlu dikhawatirkan. "Itulah konsep yang selama ini disodorkan pada kita. Yang penting, Anda merasa nyaman, lalu letakkan bayi di atas dada Anda. Kepalanya di bawah dagu Anda, dan perutnya di atas perut Anda. Bayi akan bergerak sendiri ke arah payudara, kemudian Anda berdua akan menemukan posisi yang pas," ungkap Grauer.

5. Tidak mendapatkan dukungan
Anda mungkin kerap mendengar cerita "horor" mengenai persalinan dan menyusui. Jika Anda selalu dikelilingi oleh pengaruh negatif, carilah dukungan yang positif. Jika Anda tidak memiliki teman dekat atau keluarga yang memiliki pengalaman menyusui yang baik, carilah komunitas ibu baru. AIMI (Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia, www.aimi-asi.org) salah satunya. Dukungan dari ibu ke ibu akan sangat berarti ketika Anda sudah membawa bayi pulang ke rumah.

6. Membuat bayi mengikuti jadwal menyusui
"Bayi punya kebutuhan, bukan keinginan," kata Grauer. Artinya, bayi akan ingin menyusu ketika lapar. Jadi, tawarkan dulu ASI Anda, karena menyusu bukan masalah makanannya. Memberlakukan jadwal menyusu pada bayi yang baru lahir itu seperti mencoba menggiring kucing. Tidak akan sukses, dan hanya akan membuat Anda dan si bayi frustrasi.

7. Memberikan susu botol atau dot terlalu cepat
Entah karena suami ingin merasakan memberikan susu untuk bayi, atau Anda butuh rileks bersama teman-teman Anda, sesekali bayi juga bisa mendapatkan alternatif pengganti payudara Anda. Namun pastikan memberikan ASI sudah berjalan baik sebelum memperkenalkan bayi pada puting buatan seperti dot.

"Jika Anda bisa memberikan tiga atau empat minggu pertama untuk mengenalkan sesi menyusui, Anda akan bisa menawarkan dot atau susu botol kapan saja, asalkan menyusui berjalan lancar," kata Grauer. Bila diperkenalkan terlalu cepat, bayi akan melupakan proses menyusui tadi.

8. Berhenti menyusui karena harus bekerja lagi
Semua ibu pasti berat meninggalkan bayinya, ketika cuti hamil sudah berakhir. Selain itu, Anda juga akan menemukan tantangan baru, seperit menemukan tempat yang bersih dan tenang untuk memompa ASI, dan mengkoordinasikan waktu sepanjang hari. Jangan lekas menyerah dengan tantangan ini.

"Berbicara dengan atasan akan sangat membantu," papar Grauer. "Ia mungkin memiliki solusi dimana Anda bisa memompa ASI. Atasan juga akan lebih mengerti ketika Anda harus meninggalkan rapat sebelum waktunya."

9. Tidak percaya diri
"Kesalahan terbesar saya adalah selalu meragukan diri saya mengenai keputusan menyusui," kata Jennifer M, seorang ibu di Chicago. Hal ini hanya akan menimbulkan pengalaman buruk, seperti ibu baru yang gelisah dan kelelahan, serta bayi yang menangis terus tanpa Anda tahu sebabnya.

10. Terlalu cepat menyapih
Ada ibu yang hanya bisa menyusui selama 2 bulan, ada pula yang menyusui hingga bayinya berusia 3 tahun. Semua itu tergantung pada Anda dan si bayi. Berapapun jumlah ASI, itu memberi manfaat untuk Anda dan bayi. Ketika sudah waktunya menyapih, Anda akan tahu sendiri. "Saya senang karena saya tidak mengacuhkan nasihat orang lain tentang menyapih, dan membiarkan hal itu terjadi secara alami," ujar Jenna G, seorang ibu di Boston, yang baru menyapih ketika anaknya berusia 3 tahun.

IMD, Hak Orangtua dan Bayi

KOMPAS.com - Inisiasi menyusui dini atau IMD, idealnya mengawali ASI eksklusif. Setelah itu dilanjutkan ASI eksklusif selama enam bulan. Jika memungkinkan, dilanjutkan hingga bayi berusia dua tahun. Namun banyak yang belum menyadari bahwa IMD adalah hak ibu, terutama bayi.

Ketua Umum Sentra Laktasi Indonesia—sekaligus dokter spesialis anak—Utami Roesli mengatakan, pemahaman mengenai IMD masih keliru. Memang, IMD masih relatif baru diperkenalkan di Indonesia. Padahal IMD penting, lanjutnya, dan menjadi hak bagi orangtua dan bayi.

"IMD adalah hak ibu dan bayi. Minta tenaga kesehatan untuk menjalankan IMD," tegas dr Utami dalam diskusi bersama Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) beberapa waktu lalu.

Karenanya, dr Utami menyarankan, orangtua perlu mencari informasi tepat mengenai IMD, dan rumah sakit yang mendukung IMD setelah proses melahirkan. IMD ini sendiri dilindungi undang-undang yakni UU No. 36/2009 tentang kesehatan. Disebutkan bahwa setiap bayi berhak mendapatkan ASI eksklusif selama enam bulan, kecuali ada indikasi medis. Tak hanya keluarga yang perlu mendukung, namun juga pemerintah. Setiap orang yang sengaja menghalangi program ASI eksklusif bahkan bisa dipidana, penjara satu tahun dan denda maksimal Rp 100 juta.

Peraturan ini menegaskan begitu pentingnya IMD bagi bayi. Sayangnya realitas yang ada menunjukkan, pemahaman tentang IMD ini masih belum maksimal.

"Penyuluhan tentang IMD, bekerjasama dengan NGO sudah dilakukan, namun belum menjangkau semua tenaga kesehatan dan masyarakat," jelas dr Utami, sambil menambahkan bahwa sikap aktif orangtua untuk memahami IMD menjadi kuncinya.

Sementara mengenai dukungan masyarakat dan pemerintah, sepertinya Indonesia masih perlu belajar dari negara lain seperti Swedia atau Norwegia.

Dr Utami mengatakan, Swedia misalnya, memberikan dukungan bagi orangtua untuk menjalani masa melahirkan dan menyusui lebih baik. Negara ini memberikan cuti bagi ibu bekerja selama 4 bulan pertama, lalu cuti ayah dua bulan kemudian. Cuti orangtua bahkan dibayarkan selama 16 bulan, dan juga cuti tidak dibayar 18 bulan. Pembayaran diberikan sebanyak 80 persen. Dari mana dananya? Perusahaan dan pemerintah bergandengan tangan untuk memberikan kehidupan ibu lebih baik.

Penulis: C1-10

Agar Si Kecil Gampang Menyusu ASI

KOMPAS.com - Banyak ibu mengeluh ASI-nya tak keluar sehingga si bayi akhirnya tak disusui. Padahal, berdasarkan hasil penelitian diketahui, dari 100 ibu yang mengaku tak bisa menyusui ternyata hanya dua orang yang terbukti ASI-nya tak keluar. Sisanya yang 98 orang hanya salah dalam tekniknya saja. Nah, agar ibu dapat menyusui dan si kecil pun bisa menyusu dengan mudah, berikut tipsnya:

* Carilah posisi yang nyaman.
Posisi yang nyaman adalah yang tak membuat Anda merasa tegang dan kaku. Jangan mencondongkan tubuh ke depan agar puting susu bisa masuk ke mulut bayi. Letakkan bantal di pangkuan Anda untuk mendukung lengan yang merangkul bayi dan mendekatkan si bayi ke dada anda.

* Pegangi payudara di antara ibu jari dan telunjuk tepat di atas areola.
Untuk merangsang reflek mengisap si bayi, dekatkan puting ke arah pipinya sehingga menyentuh sudut bibirnya. Ini akan membuat bayi menoleh ke arah sentuhan. Jangan menekan kedua pipi agar mulut bayi terbuka karena hanya membuatnya tak tahu ke mana ia harus menoleh. Saat mulut bayi sudah terbuka, perlahan-lahan masukkan puting ke bagian tengah agar bayi dapat menjepitnya. Bila perlu ulangi urutan ini sampai bayi dapat "memegang" puting di mulutnya. Jangan memaksa, tapi berilah kesempatan. Dengan begitu, akhirnya si bayi dapat mengambil inisiatif sendiri.

* Pastikan mulut bayi masuk sampai ke puting dan ke seluruh areola.
Hanya mengisap puting, selain akan membuat bayi tetap lapar karena kelenjar susu yang mengeluarkan susu tak tertekan, juga akan membuat puting Anda sakit.

* Pastikan bayi tak mengisap bibir bawah atau lidahnya sendiri.
Anda dapat memeriksanya dengan menarik bibir bawah si bayi ke bawah sementara ia menyusui. Jika tampaknya ia mengisap lidah sendiri, hentikan isapan dengan jari anda. Keluarkan puting dan pastikan ia tak mengangkat lidahnya sebelum Anda mulai memasukkan puting kembali.

* Pastikan hidung bayi tak tertutup oleh payudara Anda.
Gunakan jari untuk menekan payudara menjauh dari hidung sehingga tersedia cukup ruang baginya untuk bernafas.

* Perhatikan gerakan pipi bayi.
Gerakan yang kuat, teratur dan berirama pada pipi bayi menandakan pengisapan ASI sedang berlangsung. Ketika ASI sudah mengalir, Anda dapat mendengar suara penelanan yang menjamin isapannya tak sia-sia.

* Peras ASI bila alirannya terlalu kuat.
Bila ASI keluar terlalu cepat bisa membuat bayi tersedak. Hentikan menyusui dan peras keluar sedikit ASI dengan tangan atau pompa untuk mengurangi kelebihan.

* Keringkan puting setelah usai menyusui.
Bila mungkin, biarkan puting berkontak dengan udara selama 10-15 menit. Ini akan membantu menguatkan puting dan tak perlu dilakukan lagi bila proses menyusui sudah berjalan lancar.

(HaniTabloid Nova)

Menyusui, Kontrasepsi Alami

Kompas.com - Pemberian ASI eksklusif tak hanya bermanfaat bagi tumbuh kembang bayi. Bagi ibu, menyusui secara eksklusif bisa mencegah kehamilan atau sebagai alat kontrasepsi alami.

Pada saat menyusui bayi, tubuh ibu tak mampu menghasilkan sel telur yang matang. Jadi meskipun sel sperma berhasil masuk, sel telur yang ada tidak siap untuk dibuahi. Alhasil, kehamilan pun tidak terjadi.

Boleh dibilang, menyusui dengan ASI eksklusif merupakan salah satu metode ber-KB alami. Dalam bahasa medis disebut MAL (metode amenorea laktasi). Menurut dr.Asti Praborini, Sp.A, MAL adalah kontrasepsi yang mengandallkan pemberian ASI pada masa menyusui bayi. "Cara kerja MAL serupa dengan metode kontrasepsi hormonal, yaitu menunda atau menekan ovulasi atau pelepasan sel telur," katanya.

Memang efek kontrasepsi dari menyusui ini berbeda-beda masanya. Ada yang kembali haid setelah satu bulan berhenti menyusui. Ada juga wanita yang harus menunggu berbulan-bulan lamanya sampai akhirnya haid datang lagi. Namun begitu, pada beberapa kasus ada ibu menyusui yang "kecolongan". Jadi haid yang tak kunjung muncul itu bisa saja karena ibu telah hamil lagi.

Menurut dr.Asti, jika seorang ibu ingin menggunakan MAL, ada tiga kriteria utama yang harus dipenuhi agar berjalan efektif. Kriteria itu antara lain, memberikan ASI secara eksklusif, ibu belum mendapatkan menstruasi, dan bayi belum berusia enam bulan.

Jika salah satu dari kriteria ini tidak dipenuhi, maka penggunaan kontrasepsi dengan cara MAL akan gagal. "Oleh karena wanita biasanya mengalami ovulasi sebelum mendapatkan menstruasi, maka terdapat risiko ibu dapat hamil sebelum menstruasi kembali," katanya.

Pada beberapa kasus, kehamilan dapat tetap terjadi meski ibu memberi ASI eksklusif, yang artinya MAL tidak efektif 100 persen. Tetapi memang seorang ibu yang memberikan ASI eksklusif akan menjadi lebih tidak subur selama 6 bulan pertama setelah melahirkan.

Menyusui di Tempat Kerja, Fasilitasi Dong!

JAKARTA, KOMPAS.com - Untuk menyukseskan program ASI eksklusif, setiap perusahaan seyogyanya menyediakan tempat khusus untuk menyusui atau memerah ASI bagi kaum pekerja yang tengah menyusui anaknya. Kementerian Ketenagakerjaan mendukung pemerintah mencanangkan setiap perusahaan menyedikan fasilitas pemberian ASI pada pekerjanya.

"Pekerja perempuan harus mendapatkan hak eksklusif (ruang menyusui) karena wanita memiliki fungsi reproduksi," kata Nur Asiah, Direktur Pengawasan Norma Kerja Perempuan dan Anak, Kementerian Tenaga Kerja, di sela acara Sosialisasi UU Kesehatan No.36 Tahun 2009 Terkait Pasal-pasal Pemberian ASI Ekslusif, Kamis (02/11/10), di Jakarta.

Pernyatan Nur sendiri berdasarkan Pasal 83 UU no.13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan yang menyatakan, 'Salah satu perlindungan pekerja perempuan setelah melahirkan yang anaknya masih menyusui harus diberi kesempatan sepatutnya untuk menyusui bayi, jika hal itu harus dilakukan selama waktu kerja.'

Hal itu semakin diperkuat dengan UU 36 tahun 2009 Pasal 128 ayat (3), yang menyatakan, "Penyediaan fasilitas khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diadakan di tempat kerja dan tempat sarana umum."

Meski begitu, Nur menyatakan tidak selalu setiap ibu bisa menyusui di tempat kerja karena terbentur berbagai macam faktor. Oleh karena itu, ruang menyusui di kantor juga bisa difungsikan untuk memerah ASI.

"Oleh sebab itu sebaiknya perusahaan menyediakan tempat yang nyaman untuk memerah ASI, dilengkapi lemari es untuk menyimpan ASI sehingga ASI bisa dibawa pulang pada saat jam kerja berakhir," kata Nur.

"Atau perusahaan bisa menyediakan mobil boks yang di dalamnya terdapat lemari pendingin, ASI yang diperah dapat dimasukkan ke dalam lemari pendingin untuk di antar ke rumah masing-masing pekerja perempuan agar selama waktu kerja, bayi dapat memperoleh ASI,” tambah Nur.

Akan tetapi Nur mengakui, fasilitas yang diberikan perusahaan dipengaruhi oleh jenis perusahaan itu sendiri, apakah perusahaan kecil, sedang atau besar. Menurutnya, upaya ini harus segera dilakukan karena ruang ASI di tempat kerja sangat diperlukan untuk mendukung program pemberian ASI eksklusif di tempat kerja.

Di saat bersamaan, Direktur Bina Gizi Masyarakat Kementerian Kesehatan DR. Minarto, MPS, menyatakan saat ini Kementerian Kesehatan juga masih menggodok Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) terkait UU Kesehatan No.36 Tahun 2009.

“Saat ini kami masih menyusun PP, karena meskipun sudah ada UU (Kesehatan) nya namun masih bersifat pilihan, yaitu boleh dilakukan atau tidak dilakukan tidak apa-apa. Karena itu, tidak bisa dikatakan sebuah perusahaan dihukum karena tidak menyedikan tempat menyusui karena belum ada PP nya,” ungkap Minarto.

Penulis: M01-10

Apakah Balita Perlu Susu Formula Lanjutan?

JAKARTA, KOMPAS.com — Pemberian air susu ibu (ASI) selama dua tahun merupakan pondasi terbaik untuk kesehatan bayi. Enzim-enzim yang terdapat dalam air susu ibu (ASI) sangat dibutuhkan bayi, khususnya dalam dua tahun pertama perkembangannya.

Namun, setelah si kecil berusia di atas dua tahun, susu apa yang harus diberikan setelah ASI? Saat ini makin banyak pilihan produk dan merek susu formula lanjutan untuk bayi berusia di atas satu tahun. Meski begitu, sebaiknya orangtua harus ekstra hati-hati saat hendak memutuskan memilih susu formula lanjutan.

Menurut dr Asti Purborini, Sp A, dari Perkumpulan Perinatologi Indonesia Pusat, orangtua sebaiknya meneliti faktor keamanan pangan dari produk susu. "Sebaiknya pilih produk aman, misalnya yang tidak mengandung bahan pengawet. Karena itu, kalau untuk susu, pilihannya adalah susu segar atau susu UHT (ultra high temperature) dan pasteurisasi," katanya. Selain bebas pengawet, produk susu segar juga lebih murah.

Belajar dari kasus pencemaran susu, baik oleh bakteri enterobacter sakazaki maupun melamin, penting dipahami oleh para orangtua bahwa susu formula bayi bukanlah produk yang 100 persen steril. Karena itu, dalam penggunaan dan penyimpanannya diperlukan perhatian khusus.

Untuk anak berusia dua tahun, pemenuhan gizi anak sebenarnya bisa dioptimalkan lewat pemberian makanan seimbang. "Berikan anak makanan yang mengandung karbohidrat, vitamin, protein, dan mineral," kata Ida Ruslita Amir, SKM, M Kes, dari Persatuan Gizi Indonesia saat ditemui di acara peluncuran Silaturahmi Ramadhan yang diadakan oleh Frisian Flag, beberapa waktu lalu.

"Dalam piramida makanan yang dikeluarkan oleh WHO, susu adalah penyempurna. Jumlah yang dibutuhkan pun lebih kecil dibanding sayuran atau karbohidrat," papar Rini saat dihubungi Kompas.com. Karena itu, menurut Rini, orangtua tak perlu khawatir bila anak tak mau minum susu selama kebutuhan nutrisinya sudah terpenuhi dari makanan.

"Ibu-ibu zaman sekarang lebih panik bila anaknya tak mau minum susu, tapi tenang-tenang saja kalau anaknya susah makan sayur," kata Rini. Mengenai pemberian makanan kepada anak, Rini menyarankan agar para ibu membuat makanan sendiri. Selain lebih sehat, bergizi, dan higienis, tentu saja harganya lebih murah ketimbang membeli makanan instan buatan pabrik.

Penulis: AN

Donor ASI dari Sudut Pandang Islam

KOMPAS.com — Rasanya tidak ada yang menyangkal bahwa air susu ibu atau ASI merupakan makanan ideal bagi bayi yang tidak tergantikan oleh susu formula. Oleh karena itu, sejak lahir hingga berusia enam bulan, bayi hendaknya hanya mengonsumsi ASI. Komposisi nutrien yang terkandung di dalam ASI sangat tepat dan ideal untuk tumbuh kembang bayi, selain juga memenuhi kebutuhan dasar anak akan kasih sayang dan stimulasi.

Namun, karena satu dan lain hal, tak sedikit para ibu yang tidak dapat menyusui bayinya, terutama bayi prematur, karena produksi ASI belum maksimal. Di lain pihak, banyak para ibu yang memiliki ASI berlimpah sehingga sayang untuk dibuang dan memilih untuk mendonorkannya.

Dari segi kesehatan, sebelum berbagi ASI perlu diperhatikan kemungkinan terjadinya penularan penyakit. Karena itu, sebelum mendonorkan ASI-nya, seseorang perlu melakukan skrining ada tidaknya penyakit, seperti hepatitis, HIV/AIDS, atau TBC. Para ibu yang menderita penyakit tersebut dilarang untuk mendonorkan ASI. Di negara maju, sebelum diberikan, ASI donor secara rutin di- pasteurisasi sehingga relatif aman.

Dalam pandangan Islam, bayi yang mendapat ASI dari ibu lain sebetulnya bukan hal baru. Menurut Ustazah Faizah Ali, Nabi Muhammad SAW pun memiliki ibu susu. Yang perlu diperhatikan adalah terjadinya hubungan anak antara anak yang mendapatkan ASI dan ibu yang memberikan ASI-nya.

"Anak yang mendapat ASI dari donor sama hukumnya dengan anak kandung, yaitu mahrom, tetapi bukan dalam hal ahli waris. Begitu juga anak-anak si ibu susu menjadi saudara sepersusuan anak-anak tersebut sehingga jatuh hukum tahrim atau haram kawin," kata Faizah dalam acara talkshow yang diadakan oleh AIMI dalam acara "Breastfeeding Fair" di Jakarta, Jumat (14/5/2010).

Mengenai hukum pemberian donor ASI ini, ada beberapa mazhab. "Empat mazhab menyebutkan, apa pun cara pemberiannya, baik disusui langsung atau diperah, meski cuma diberikan satu kali, tetap memberi dampak hukum adanya hubungan mahrom," urai salah satu anggota Komisi Fatwa MUI itu.

Namun, beberapa ulama modern memberikan batasan lima kali pemberian susu yang terpisah, mengenyangkan anak sehingga membentuk tulang dan menumbuhkan daging. "Menurut ijtihad tersebut, bila hanya diberikan satu sampai dua kali, tidak menimbulkan hukum mahrom," imbuh Faizah.

Ia mengaskan, keputusan untuk mendonorkan ASI dikembalikan pada individu masing-masing, mau berpegang pada landasan mazhab yang mana saja. "Tetapi untuk amannya, lebih baik dibuat catatan siapa yang kita donorkan ASI dan lebih baik dilanjutkan dengan hubungan silaturahim. Sejak jauh-jauh hari anak juga diberi tahu kalau ia saudara sesusu sehingga terhindar dari kemungkinan adanya haram perkawinan," katanya.

Mengenai cara pemberian, Faizah merekomendasikan agar diberikan langsung atau disusui langsung. "Ikatan batinnya lebih kuat jika anak disusui langsung dari payudara ibunya. Selain itu, komposisi ASI yang diberikan langsung juga mungkin lebih baik daripada yang sudah diperah dan disimpan dalam kulkas," ujarnya.

Penulis: AN

Mendeteksi Kanker Payudara Stadium Nol


Jakarta, Kanker payudara merupakan kanker terbanyak kedua yang menyerang perempuan setelah kanker mulut rahim di Indonesia. Sampai sekarang belum diketahui penyebabnya secara pasti, sehingga dibutuhkan deteksi dini stadium kanker, yaitu stadium nol dengan menggunakan mamografi.

Penderita pasien payudara setiap tahun semakin meningkat. Berdasarkan data dari International Agencies for Research on Cancer (IARC) tahun 2005, kasus baru di Indonesia sekitar 26 per 100.000 perempuan setiap tahun, dan sebagian besar dalam keadaan stadium lanjut.

Deteksi dini stadium nol dibutuhkan untuk menemukan penderita kanker pada stadium rendah (down staging), sehingga presentase kemungkinan untuk dapat disembuhkan tinggi.

Mamografi merupakan modalitas untuk deteksi dini atau skrining kanker payudara dengan menggunakan sinar X. Alat ini mampu memperlihatkan kelainan pada payudara dalam bentuk yang terkecil hingga kurang dari 5 mm (stadium nol).

Pada stadium nol, mamografi dapat memperlihatkan adanya mikrokalsifikasi, yaitu suatu benjolan yang tidak dapat teraba baik oleh perempuan itu sendiri maupun dokter sekalipun, hingga benjolan tersebut berukuran 1 cm atau lebih.

Stadium nol adalah merupakan stadium pre kanker, dimana massa tumor belum keluar dari kelenjar susu maupun saluran susu (LCIS atau DCIS).

"Bila stadium nol dapat segera dideteksi, maka kemungkinan sembuh masih sangat besar," ujar Dr Sariningsih Hikmawati, Sp.Rad, Staf Medik Fungsional Bidang Radiologi RS Kanker Dharmais, dalam acara penyuluhan awam bertajuk 'Manfaat Pemeriksaan Mamografi' di RS Kanker Dharmais, Jakarta, Selasa (11/5/2010).

Menurut data Perhimpunan Dokter Spesialis Bedah Onkologi Indonesia (PERABOI) tahun 2003, prognosis daya tahan hidup penderita kanker payudara (survival rate) per stadium sebagai berikut:

Stadium 0 (massa tumor belum keluar dari kelenjar susu maupun saluran susu): 10 tahun bertahan hidup 98 persen
Stadium 1 (massa tumor masih terbatas pada payudara): 5 tahun bertahan hidup 85 persen
Stadium 2 (telah ada keterlibatan kelenjar getah bening pada ketiak): 5 tahun bertahan hidup 60-70 persen
Stadium 3 (massa tumor telah menyebar pada otot dan dinding dada atau kelenjar getah bening di atas supraklavikula): 5 tahun bertahan hidup 30-50 persen
Stadium 4 (kanker telah menyebar ke organ lain): 5 tahun bertahan hidup 15 persen

Dr Sari mengatakan, perempuan di atas usia 40 tahun dianjurkan melakukan skrining mamografi setiap 1-3 tahun sekali. Hal ini karena perempuan dengan usia diatas 40 tahun sangat berisiko terkena kanker payudara.

Faktor risiko lainnya pada perempuan antara lain:

Mengalami haid pertama pada usia kurang dari 12 tahun
Berhenti haid (menopause) di atas usia 50 tahun
Tidak mempunyai anak
Kehamilan pertama di atas usia 35 tahun
Menjalani terapi hormonal
Memiliki riwayat tumor jinak sebelumnya
Memiliki riwayat keluarga terkena kanker payudara (faktor keturunan)

Tapi Dr Sari tidak menganjurkan melakukan skrining mamografi pada perempuan dibawah usia 35 tahun atau yang belum menikah. Hal ini karena pada usia tersebut payudara masih dalam keadaan kencang, dan bila dilakukan skrining mamografi tidak bisa menampakkan hasil yang maksimal karena masih tertutup hormon.

Namun, skrining masih tetap bisa dilakukan untuk perempuan usia dibawah 35 tahun, yaitu dengan menggunakan Ultrasonografi (USG). Sayangnya, dengan menggunakan USG kita tidak dapat melihat adanya mikrokalsifikasi atau deteksi stadium nol.

Merry Wahyuningsih - detikHealth