Tuesday, November 15, 2011

benarkah bulan merupakan sebuah pesawat? bag 23

Nini Anteh, antara dongeng dan astronomi

nini anteh ini hebat loh, dia udah punya theme song sendiri :

Bagi masyarakat Sunda, bulan dijadikan tempat curhat melalui Nini Anteh yang tinggal dan menenun di atas sana, ditemani sang kucing bernama Candramawat. Nini Anteh merupakan legenda atau kisah seorang nenek renta yang selalu melakukan dialog dengan bulan saat sedang bermasalah, baik masalah sosial, budaya maupun masalah kehidupan manusia pada umumnya terutama budi pekerti. Bulan menjadi tumpuan harapan bagi terangnya kembali pikiran dan hati manusia. Saat manusia berpikiran sumpek, saat hati buta, Nini Anteh melaporkannya pada bulan dalam bentuk dialog.
Saat bulan purnama adalah saat terbaik bermain di malam hari di bawah terangnya purnama, sambil bernyanyi-nyanyi.

cing cangkeling
manuk cingkleung cindeten
plos ka kolong
bapa satar buleneng
cing cangkeling
ucing hideung nyireukem
pung ka bulan
nini anteh keur anteng
yu urang ulin
meungpeung bulan ngagateung
pray duh siang
urang ulin diburuan
wajah rembulan
bulan tok, bulan tok
bulanna sagede batok
bulan pak, bulan pak
bulanna sagede opak
bulan ruk, bulan ruk
bulanna sagede jeruk
bulan pir, bulan pir
bulanna sagede tampir
Memanggil Nini Anteh untuk turun ke bumi
ieu nini ucing nyusul
sorangan indit di langit
kadieu ninggalkeun bulan
meureun hayang milu ulin
ucing teh liwar kacida
cik urang sintreuk sing tarik
eta nini ulah kitu
masing karunya ka ucing
keun bae hayangeun incah
heunteu beda kawas nini
lah enya nini karunya
hayu ucing urang ulin
Dan mengusir naga yang mencaplok bulan saat gerhana
trang-trang kolentrang
si londok paeh nundutan
tikusruk kana durukan
mesat gobang kabuyutan
trang-trang kolentrang
si naga nyingkah sing anggang
jeung gancang ngutahkeun bulan
caang bulan di buruan
trang-trang kolentrang
si nini urang tulungan
imahna teh kapoekan
bulan ngempur ngabrak siang

ahahaha, emang si nini itu dimana sih?
si nini itu menurut dongeng dia itu ada di bulan, dia adalah wanita (nenek nenek sih ) yang sampai di bulan jauh jauh hari sebelum Amerika dan Rusia datang ke bulan. s nini ada di bulan bareng sama kucingnya yang namanya Candramawat. di Dongeng disebutin kalau si nini itu mengisi hari di bulan dengan menenun kain, banyak yang bilng kalau kita liat permukaan bulan dari bumi, ska terlihat sosok nini anteh dan kucingnya

sisanya, agan agan bisa cari sendiri gimana bentuk nini anteh di bayangan bulan.
nah, bagaimana bisa nini anteh bisa ada di bulan? dahulu, diceritakan nini anteh pergi menaiki MEGA putih dengan menggunakan selendang ajaib. menurut Erick von Danicken, asap yang dinaiki oleh nni anteh tidak lain adalah asap roket, dan selendang ajaib itu adalah selendang/baju yang tahan terhadap cuaca luar angkasa, dengan kata lain baju astronot (antrakusumah/antruka/antruma).
berarti nini anteh udah ada di bulan selama ribuan tahun Kehebatan budaya sunda, budaya negeri kita. juga disebutkan bahwa nini anteh itu adalah penghuni bulan dan bulan itu sendiri, yang digambarkan keriput, bopeng, jauh dari kecantikan yang dikatakan negeri negeri lain yang mengatakan kalau bulan itu adalah seorang puteri, dan dibuktikan kalau permukaan bulan itu, tidak mulus, melainkan RUSAK.

Siapa naga yang mencoba menyerang sang nini? sehingga aki mau menolong sang nini.
apakah aki dan nini ini merupakan suatu bangsa tertentu? hingga akhirnya mereka saling tolong-menoong dari serangan naga?

lagi, sebelumnya orang orang banyak berasumsi bulan itu bentuknya lingkaran, namun urang sunda juga menyanyikan lagu tentang bulan bulan tok bulan tok aya bulan sagede batok. yap, bulan seperti batok kelapa, bundar, tidak lingkaran
masih banyak lagi budaya kita sendiri yang lebih maju dari budaya orang lain, ada baiknya kita memajukan dan membanggakan budaya kita sendiri.







Bahasa Version

Pada jaman dahulu kala di Jawa Barat ada sebuah kerajaan bernama kerajaan Pakuan. Pakuan adalah kerajaan yang sangat subur dan memiliki panorama alam yang sangat indah. Rakyatnya pun hidup damai di bawah pimpinan raja yang bijaksana.

Di dalam istana ada dua gadis remaja yang sama-sama jelita dan selalu kelihatan sangat rukun. Yang satu bernama Endahwarni dan yang satu lagi bernama Anteh. Raja dan Ratu sangat menyayangi keduanya, meski sebenarnya kedua gadis itu memiliki status sosial yang berbeda.

Putri Endahwarni adalah calon pewaris kerajaan Pakuan, sedangkan Nyai Anteh adalah hanya anak seorang dayang kesayangan sang ratu. Karena Nyai Dasti, ibu Nyai Anteh sudah meninggal saat melahirkan Anteh, maka sejak saat itu Nyai Anteh dibesarkan bersama putri Endahwarni yang kebetulan juga baru lahir. Kini setelah Nyai Anteh menginjak remaja, dia pun diangkat menjadi dayang pribadi putri Endahwarni.

"Kau jangan memanggilku Gusti Putri kalau sedang berdua denganku," kata Putri.

"Bagiku kau tetap adik tercintaku. Tidak perduli statusmu yang hanya seorang dayang. Ingat sejak bayi kita dibesarkan bersama, maka sampai kapan pun kita akan tetap bersaudara. Awas ya! Kalau lupa lagi kamu akan aku hukum!"

"Baik Gust…..eh Kakak!" jawab Nyai Anteh.

"Anteh, sebenarnya aku iri padamu," kata putri.

"Ah, iri kenapa, Kak. Saya tidak punya sesuatu yang bisa membuat orang lain iri," kata Anteh heran.

"Apa kau tidak tahu bahwa kamu lebih cantik dariku. Jika kamu seorang putri, pasti sudah banyak pangeran yang meminangmu," ujar Putri sambil tersenyum.

"Ha ha ha.. Kakak bisa saja. Mana bisa wajah jelek seperti ini dibilang cantik. Yang cantik tuh Kak Endah, kemarin saja waktu pangeran dari kerajaan sebrang datang, dia sampai terpesona melihat Kakak. Iya kan, Kak?" jawab Anteh dengan semangat.

"Ah kamu bisa saja. Itu karena waktu itu kau memilihkan baju yang cocok untukku. O ya kau buat di penjahit mana baju itu?" tanya putri.

"Eeee…itu…itu…saya yang jahit sendiri, Kak." jawab Anteh.

"Benarkah? Wah aku tidak menyangka kau pandai menjahit. Kalau begitu lain kali kau harus membuatkan baju untukku lagi ya. Hmmmm…mungkin baju pengantinku?" seru Putri.

"Aduh, mana berani saya membuat baju untuk pernikahan Kakak. Kalau jelek, saya pasti akan dimarahi rakyat," kata Anteh ketakutan.

"Tidak akan gagal! Kemarin baju pesta saja bisa… jadi baju pengantin pun pasti bisa," kata Putri tegas.

Suatu malam Ratu memanggil putri Endahwarni dan Anteh ke kamarnya. "Endah putriku, ada sesuatu yang ingin Ibu bicarakan," kata Ratu.

"Ya, Ibu," jawab Putri.

"Endah, kau adalah anakku satu-satunya. Kelak kau akan menjadi ratu menggantikan ayahmu memimpin rakyat Pakuan," ujar ratu. "Sesuai ketentuan keraton kau harus memiliki pendamping hidup sebelum bisa diangkat menjadi ratu."

"Maksud ibu, Endah harus segera menikah?" tanya putri.

"Ya, Nak, dan ibu juga ayahmu sudah berunding dan sepakat bahwa calon pendamping yang cocok untukmu adalah Anantakusuma, anak Adipati dari Kadipaten Wetan. Dia pemuda yang baik dan terlebih lagi dia gagah dan tampan. Kau pasti akan bahagia bersamanya," kata Ratu. "Dan kau Anteh, tugasmu adalah menjaga dan menyediakan keperluan kakakmu supaya tidak terjadi apa-apa padanya."

"Baik, Gusti Ratu," jawab Anteh.

Malam itu putri Endahwarni meminta Nyai Anteh untuk menemaninya.

"Aku takut sekali Anteh," kata putri dengan sedih. "Bagaimana aku bisa menikah dengan orang yang sama sekali tidak aku kenal. Bagaimana kalau dia tidak mencintaiku?"

"Kakak jangan berpikiran buruk dulu," hibur Anteh. "Saya yakin Gusti Raja dan Ratu tidak akan sembarangan memilih jodoh buat Kakak. Dan pemuda mana yang tidak akan jatuh hati melihat kecantikan Kakak. Ah sudahlah, Kakak tenang dan berdoa saja. Semoga semuanya berjalan lancar."

Suatu pagi yang cerah, Anteh sedang mengumpulkan bunga melati untuk menghias sanggul putri Endahwarni. Anteh senang menyaksikan bunga-bunga yang bermekaran dan kupu-kupu saling berebut bunga. Dia mulai bersenandung dengan gembira. Suara Anteh yang merdu terbang tertiup angin melewati tembok istana. Saat itu seorang pemuda tampan sedang melintas di balik tembok taman istana. Dia tepesona mendengar suara yang begitu merdu. Ternyata pemuda itu adalah Anantakusuma. Dia sangat sakti, maka tembok istana yang begitu tinggi dengan mudah dilompatinya. Dia bersembunyi di balik gerumbulan bunga, dan tampaklah olehnya seorang gadis yang sangat cantik. Anantakusuma merasakan dadanya bergetar,

"Alangkah cantiknya dia, apakah dia putri Endahwarni calon istriku?" batinnya.

Anantakusuma keluar dari persembunyiannya. Anteh terkejut ketika tiba-tiba di hadapannya muncul pemuda yang tidak dikenalnya.

"Siapa tuan?" tanya Anteh.

"Aku Anantakusuma. Apakah kau….."

Belum sempat Anantakusuma bertanya seseorang memanggil Anteh.

"Anteh!!! Cepat!!! Putri memanggilmu!" kata seorang dayang.

"Ya. Saya segera datang. Maaf tuan saya harus pergi," kata Anteh yang langsung lari meninggalkan Anantakusuma.

"Dia ternyata bukan Endahwarni," pikir Anantakusuma. "Dan aku jatuh cinta padanya. Aku ingin dialah yang jadi istriku."

Beberapa hari kemudian, di istana terlihat kesibukan yang lain daripada biasanya. Hari ini Adipati Wetan akan datang bersama anaknya, Anantakusuma, untuk melamar putri Endahwarni secara resmi. Raja dan Ratu menjamu tamunya dengan sukacita. Putri Endahwarni juga tampak senang melihat calon suaminya yang sangat gagah dan tampan. Lain halnya dengan Anantakusuma yang terlihat tidak semangat. Dia kecewa karena ternyata bukan gadis impiannya yang akan dinikahinya.

Tibalah saat perjamuan. Anteh dan beberapa dayang istana lainnya masuk ke ruangan dengan membawa nampan-nampan berisi makanan.

"Silakan mencicipi makanan istimewa istana ini," kata Anteh dengan hormat.

"Terima kasih Anteh, silakan langsung dicicipi," kata Raja kepada para tamunya.

Anantakusuma tertegun melihat gadis impiannya kini ada di hadapannya. Kerongkongannya terasa kering dan matanya tak mau lepas dari Nyai Anteh yang saat itu sibuk mengatur hidangan. Kejadian itu tidak luput dari perhatian putri Endahwarni. Pahamlah ia bahwa calon suaminya telah menaruh hati pada gadis lain, dan gadis itu adalah Anteh. Putri Endahwarni merasa cemburu, kecewa, dan sakit hati. Timbul dendam di hatinya pada Anteh. Dia merasa Antehlah yang bersalah sehinggga Anantakusuma tidak mencintainya.

Setelah perjamuan selesai dan Putri kembali ke kamarnya, Anteh menemui Sang Putri.

"Bagaimana, Kak? Kakak senang kan sudah melihat calon suami Kakak? Wah ternyata dia sangat tampan ya?" kata Anteh.

Hati putri Endahwarni terasa terbakar mendengar kata-kata Anteh. Dia teringat kembali bagaimana Anantakusuma memandang Anteh dengan penuh cinta.

"Anteh, mulai saat ini kau tidak usah melayaniku. Aku juga tidak mau kau ada di dekatku. Aku tidak mau melihat wajahmu," kata Putri Endahwarni.

"A..apa kesalahanku, Kak? Kenapa Kakak tiba-tiba marah begitu?" tanya Anteh kaget.

"Pokoknya aku sebal melihat mukamu!" bentak Putri. "Aku tidak mau kau dekat-dekat denganku lagi…Tidak! Aku tidak mau kau ada di istana ini. Kau harus pergi dari sini hari ini juga!"

"Tapi kenapa, Kak? Setidaknya katakanlah apa kesalahanku?" tangis Anteh.

"Ah jangan banyak tanya. Kau sudah mengkianatiku. Karena kau Anantakusuma tidak mencintaiku. Dia mencintaimu. Aku tahu itu. Dan itu karena dia melihat kau yang lebih cantik dariku. Kau harus pergi dari sini Anteh, biar Anantakusuma bisa melupakanmu!" kata Putri.

"Baiklah, Kak, aku akan pergi dari sini. Tapi Kak, sungguh saya tidak pernah sedikitpun ingin mengkhianati Kakak. Tolong sampaikan permohonan maaf dan terima kasih saya pada Gusti Raja dan Ratu."

Anteh beranjak pergi dari kamar Putri Endahwarni menuju kamarnya, lalu mulai mengemasi barang-barangnya. Kepada dayang lainnya dia berpesan untuk menjaga Putri Endahwarni dengan baik.

Nyai Anteh berjalan keluar dari gerbang istana tanpa tahu apa yang harus dilakukannya di luar istana. Tapi dia memutuskan untuk pergi ke kampung halaman ibunya. Anteh belum pernah pergi ke sana, tapi waktu itu beberapa dayang senior pernah menceritakannya.

Ketika hari sudah hampir malam, Anteh tiba di kampung tempat ibunya dilahirkan. Ketika dia sedang termenung memikirkan apa yang harus dilakukan, tiba-tiba seorang laki-laki yang sudah berumur menegurnya.

"Maaf Nak, apakah anak bukan orang sini?" tanyanya.

"Iya Paman, saya baru datang!" kata Anteh ketakutan.

"Oh maaf, bukan maksudku menakutimu, tapi wajahmu mengingatkanku pada seseorang. Wajahmu mirip sekali dengan kakakku Dasti,"

"Dasti? Nama ibuku juga Dasti. Apakah kakak Paman bekerja di istana sebagai dayang?" tanya Anteh.

"Ya….! Apakah….kau anaknya Dasti?" tanya Paman itu.

"Betul, Paman!" jawab Anteh.

"Oh, kalau begitu kau adalah keponakanku. Aku pamanmu Dasta, adik ibumu," kata Paman Dasta dengan mata berkaca-kaca.

Benarkah? Oh Paman, akhirnya aku menemukan keluarga ibuku!" kata Anteh dengan gembira.

"Sedang apakah kau disini? Bukankah kau juga seorang dayang?" tanya Paman Dasta.

"Ceritanya panjang, Paman. Tapi bolehkah saya minta ijin untuk tinggal di rumah Paman. Saya tidak tahu harus kemana," pinta Anteh.

"Tentu saja, Nak, kau adalah anakku juga. Tentu kau boleh tinggal di rumahku. Ayo kita pergi!" kata Paman Dasta.

Sejak saat itu Anteh tinggal di rumah Pamannya di desa. Untuk membantu pamannya, Anteh menerima pesanan menjahit baju. Mula-mula Anteh menjahitkan baju-baju tetangga, lama-lama karena jahitannya bagus, orang-orang dari desa yang jauh pun ikut menjahitkan baju mereka kepada Anteh, sehingga ia dan keluarga pamannya bisa hidup cukup dari hasilnya menjahit.

Bertahun-tahun telah berlalu. Anteh kini sudah bersuami dan memiliki dua orang anak. Suatu hari di depan rumahnya berhenti sebuah kereta kencana dan banyak sekali pengawal yang menunggang kuda. Begitu pemilik kereta kencana itu melongokkan kepalanya, Anteh menjerit. Ternyata itu adalah putri Endahwarni. Putri Endahwarni turun dari kereta dan langsung menangis memeluk Anteh.

"Oh Anteh, sudah lama aku mecarimu! Kemana saja kau selama ini? Kenapa tidak sekalipun kau menghubungiku? Apakah aku benar-benar menyakiti hatimu? Maafkan aku Anteh. Waktu itu aku kalap, sehingga aku mengusirmu, padahal kau tidak bersalah. Maafkan aku…" tangis Putri.

"Gusti…jangan begitu. Seharusnya aku yang minta maaf karena telah membuatmu gusar," kata Anteh.

"Tidak. Akulah yang bersalah. Untuk itu Anteh, kau harus ikut denganku kembali ke istana!" pinta Putri.

"Tapi Putri, aku sekarang punya suami dan anak. Saya juga bekerja sebagai penjahit. Jika saya pergi, mereka akan kehilangan," jawab Anteh.

"Suami dan anak-anakmu tentu saja harus kau bawa juga ke istana," kata putri sambil tertawa. "Mengenai pekerjaanmu, kau akan kuangkat sebagai penjahit istana. Bagaimana? Kau tidak boleh menolak, ini perintah!"

Akhirnya Anteh dan keluarganya pindah ke istana. Putri Endahwarni telah membuatkan sebuah rumah di pinggir taman untuk mereka tinggal. Namun Anteh selalu merasa tidak enak setiap bertemu dengan pangeran Anantakusuma, suami putri Endahwarni.

Pangeran Anantakusuma ternyata tidak pernah melupakan gadis impiannya. Kembalinya Anteh telah membuat cintanya yang terkubur bangkit kembali. Mulanya Pangeran Anantakusuma mencoba bertahan dengan tidak memperdulikan kehadiran Anteh. Namun semakin lama cintanya semakin menggelora, hingga suatu malam Pangeran Anantakusuma nekat pergi ke taman istana, siapa tahu dia bisa bertemu dengan Anteh.

Pangeran Kerajaan

Benar saja. Dilihatnya Anteh sedang berada di beranda rumahnya, sedang bercanda dengan Candramawat, kucing kesayangannya, sambil menikmati indahnya sinar bulan purnama. Meski kini sudah berumur, namun bagi pangeran Anantakusuma, Anteh masih secantik dulu saat pertama mereka bertemu. Perlahan-lahan didekatinya Anteh.

"Anteh!" tegurnya.  Anteh terkejut. Dilihatnya pangeran Antakusuma berdiri di hadapannya.

"Pa … Pangeran? Kenapa Pangeran kemari? Bagaimana kalau ada orang yang melihat?" tanya Anteh ketakutan.

"Aku tidak perduli. Yang penting aku bisa bersamamu. Anteh, tahukah kau bahwa aku sangat mencintaimu. Sejak kita bertemu di taman hingga hari ini, aku tetap mencintaimu," kata Pangeran.

"Pangeran, kau tidak boleh berkata seperti itu. Kau adalah suami putri Endahwarni. Dia adalah kakak yang sangat kucintai. Jika kau menyakitinya, itu sama saja kau menyakitiku," kata Anteh sambil memeluk Candramawat.

"Aku tidak bisa… Aku tidak bisa melupakanmu! Kau harus menjadi milikku Anteh! Kemarilah, biarkan aku memelukmu!" kata Pangeran sambil berusaha memegang tangan Anteh. Anteh mundur dengan ketakutan.

"Sadarlah Pangeran! Kau tidak boleh mengkhianati Gusti Putri."

Namun pangeran Ananta kusuma tetap mendekati Anteh.Anteh yang ketakutan berusaha melarikan diri. Namun Pangeran Anantakusuma tetap mengejarnya.

"Oh Tuhan, tolonglah hambaMu ini!" doa Anteh,

"Berilah hamba kekuatan untuk bisa lepas dari pangeran Anantakusuma. Hamba tahu dia sangat sakti. Karena itu tolonglah hamba. Jangan biarkan dia menyakiti hamba dan kakak hamba!"

Tiba-tiba Anteh merasa ada kekuatan yang menarik tubuhnya ke atas. Dia mendongak, dan dilihatnya sinar bulan menyelimutinya dan menariknya. Pangeran Anantakusuma hanya bisa terpana menyaksikan kepergian Anteh yang semakin lama semakin tinggi dan akhirnya hilang bersama sinar bulan yang tertutup awan.

Sejak saat itu Nyai Anteh yang sudah nenek-nenek, hingga orang-orang menyebutnya Nini (Nenek) tinggal di bulan, sendirian, hanya ditemani kucing kesayangannya. Dia tidak bisa kembali ke bumi karena takut Pangeran Anantakusuma akan mengejarnya.


Jika kerinduannya pada keluarganya sudah tak dapat ditahan, dia menenun kain untuk dijadikan tangga. Tapi sayang tenunannya tidak pernah selesai karena si kucing selalu merusaknya. Kini jika bulan purnama kita bisa melihat bayangan Nyai Anteh duduk menenun ditemani Candramawat, kucing kesayangannya. Begitulah kisah Nini Anteh Sang Penunggu Bulan. Lihatlah di bulan ketika purnama, tampak tubuh Nini Anteh yang sudah tua itu sedang menenun ditemani Candramawat, kucingnya.

English Version
NINI ANTEH AND HER CAT

Dongeng lain tentang Nini Anteh (Nenek Penenun) Penulis temukan dalam The Mythology of All Races, online. Isi ceriteranya sungguh sanat berbeda. Tulisan itu (buku tersebut), ditulis abd XIX. Jadi, mungkin dongeng ini memang asli dongeng Sunda buhun.

Dongengnya begini (diterjemahkan per alinea agar yang tidak bisa bahasa Inggris juga bisa mengikuti), dan sudah dilakukan editing susunan alineanya.

Once upon a time there was a hunter who had a beautiful white cat to whom he one day happened to give food out of coco-nut-shell which he had used for house-hold purpose, the result being that the cat later gave birth to a beautiful girl-child.

[Pada jaman dahulu ada seorang pemburu yang mempunyai seekor kucing yang cantik dan berbulu putih. Pada suatu hari tanpa sadar pemburu tersebut memberi makan kucingnya menggunakan tempurung kelapa yang biasanya ia gunakan sendiri. Akibatnya kucing itu hamil dan melahirkan seorang bayi perempuan yang cantik jelita.]

White cat

The hunter adopted the infant as his own, but later, when she was seven years old, he took to himself a wife, who was very jealous with the girl and did not know that the cat was her mother.

[Pemburu itu lalu merawat dan mengasuh bayi perempuan itu seolah-olah anaknya sendiri. Akan tetapi, setelah anak perempuan itu berumur tujuh tahun, si pemburu itu kawin dengan seorang perempuan yang ternyata sangat iri hati dengan kecantikan si gadis, dan ia pun tidak tahu bahwa kucing yang selalu bersamanya itu ibunya.]

Girl and her white cat

When he went off to the field, the husband always told her wife to take good care of the girl and the cat and to give them plenty to eat; but the woman did nothing of the kind, for she starved them both, and then clapping the empty rice-basket on the girl's head, filled her hair with crumbs.

[Apabila si pemburu pergi keluar untuk berburu, pemburu itu selalu mengingatkan isterinya agar mengasuh dengan baik si gadis dan kucingnya, dan memberi mereka makanan yang cukup. Akan tetapi, si ibu tiri itu tidak pernah melakukan seperti yang dipesan suaminyaitu. Ia membiarkan saja anak gadis dan kucingnya itu kelaparan. Dengan jahatnya ia bahkan menengkurupkan bakul nasi kosong ke kepala anak gadis itu sehingga kepalanya dipenuhi remah-remah nasi.]

When the father came back home and asked, "Did the child had enough food to eat?" his wife would reply, "Just see! She has even got rice all over her hair," but she ever gave the girl and the cat anything to eat, it was old rice mixed with ashes.

[Ketika si ayah pulang ke rumah dan bertanya, "Apakah Si Nyai makan banyak?" isterinya menjawab, "Lihat saja sendiri! Tuh saking gembulknya makan sampai-sampai kepalanya pun dipenuhi remah-remah nasi." Sebenarnya si ibu tiri itu tidak pernah memberinya makan. Kalau toh memberi makan pun yang diberikan nasi aking bercampur tanah.]

One day, when the man had gone off to his fields, the girl went down to the edge of the stream, and standing near a tall noenoek-tree, whose ripe fruits fell into the stream and were carried away, she held the cat in her arms, and the latter sang:
"The noenoek fruits are sweet; Better than the rice and ashes; That the step-mother gives."

[Suatu hari, ketika si pemburu pergi keluar berburu, si gadis dan kucingnya pergi menuju tepi sebuah air terjun yang agak jauh dari rumahnya. Ia berdiri di bawah sebuah pohon "nunuk" (beringin--Pen.) yang buahnya yang sudah matang berjatuhan ke dalam air terjun dan terbawa hanyut. Gadis itu membopong kucingnya, dan kucing itu bersenandung:

"Buah nunuk rasanya lebih manis; daripada nasi aking bercampur tanah amis; yang selalu diberikan ibu tiri yang bengis."]
"White cat" near waterfall

By and by the man came home, and finding his child absent, asked where she was, to which his wife replied, "She has gone to the river."

[Ketika si pemburu pulang ke rumah dan mendapatkan anak gadisnya tidak ada, ia lalu bertanya pada istrinya, "Ke mana Si Nyai?" Istrinya acuh tak acuh menjawab, "Pergi ke sungai."]
Nibung palm

After a while the man followed her thither and heard the song which the cat singing; but when he reached the place, he saw his daughter sitting on the top of a niboeng palm, holding the cat in her lap.

[Si pemburu pun lalu mencari anaknya ke sana ke mari. Ia lalu mendengar senandung kucing itu, lalu mencari asal sumbernya. Ketika ia sampai di tempat itu, dilihatnya anak gadisnya sedang duduk di puncak pohon  nibung--"liwung; handiwung; erang (Sunda) seperti pohon kelapa-- dengan kucing di pangkuannya.]

Though the tree was very tall, the man tried to climb up, weeping and beseeching his daughter to come down; but she refused, and as he climbed, the tree became taller and taller, until at last, when it had grown almost up to the moon, a golden ladder was let down, and the girl with her cat climbed up into the moon.

Nibung palm

[Walau pohon itu sangat tinggi, apalagi tidak punya cabang-cabang, si pemburu berusaha naik dan membujuk anaknya agar mau turun. Akan tetapi si gadis menolak, tidak mau lagi dijahatiterus oleh ibu tirinya. Ketika si pemburu berusaha naik mendekati pucuk pohon tempat anak gadisnya berada, pohon nibung itu bertambah tingi terus, sehingga ia sangat susah sampai ke tempat anaknya. Akhirnya pohon nibung itu sudah sedemikian tinggi, sehingga sudah mendekati bulan. Tiba-tiba dari bulan itu terjulur tangga emas. Si gadis dan kucingnya pun lalu memanjat tangga tersebut dan masuk ke bulan.]


White cat is going to the moon

The father tried to follow her, but no ladder was lowered down for him, and trying to reach the moon without one, he slipped, fell, and was killed.

[Si ayah berusaha mengikuti anak gadisnya. Ketika ia sampai ke puncak pohon, tangga emas itu sudah ditarik masuk ke bulan. Ia mencoba meraihnya. Akan tetapi tangannya tak sampai bisa meraihnya, dan ia pun terjatuh dan mati.]
Old mama and spinning wheel

To this day, when the moon is full, one can easily see Nini-Anteh, as she is called, sitting beside a spinning wheel with the cat beside her.

[Sekarang ini, pada ketika bulan sedang purnama, orang dapat melihat si gadis yang sudah nenek-nenek itu sedang duduk dekat alat-anteh (alat tenun) asyik menenun ditemani oleh kucingnya. Itulah sebabnya ia disebut Nini Anteh, Nenek Penenun di bulan.]

Spinning Nini Anteh and her white cat

0 comments:

Post a Comment

sabar ya, komentar anda akan kami moderasi terlebih dahulu. laporkan kepada kami apabila ada post yang masih berbentuk kiri ke kanan. nuhun