Showing posts with label orangtua. Show all posts
Showing posts with label orangtua. Show all posts

Monday, October 31, 2011

Orangtua, Waspadai Mainan Anak Anda!

SEMARANG, SENIN - Maraknya mainan anak-anak buatan China dengan aneka warna yang menarik dan harganya relatif murah dijual di Indonesia perlu diwaspadai oleh masyarakat. Mainan tersebut banyak mengandung unsur timbal yang dapat mengganggu kesehatan anak-anak.

"Pada dasarnya unsur timbal banyak digunakan sebagai bahan pembuatan cat/pewarna pada mainan anak, seperti mobil-mobilan dan robot," kata Dra. Wahyuningsih, M.Si, pengajar Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Senin.

Ia mengatakan, timbal termasuk salah satu bahan logam yang berbahaya bagi kesehatan selain logam Merkuri. Unsur timbal yang terkandung pada mainan anak-anak buatan Cina sangat tinggi dan melewati ambang batas yang diizinkan untuk kesehatan manusia.

Itu sebab utama kenapa mainan anak-anak berbahaya bagi kesehatan, terutama bagi anak-anak. Sedangkan pada sandal produk China tidak begitu berbahaya, karena yang memakai orang dewasa, katanya.

"Kandungan timbal yang tinggi dapat menyebabkan keracunan kronik pada otak dan mengganggu sistem syaraf tubuh. Khususnya pada anak-anak, yang suka mengulum dan mencium mainan, unsur timbal ini dapat menyebabkan penyakit pernafasan dan pencernaan akut. Unsur timbal juga berisiko tinggi merusak kerja sistem metabolisme tubuh (ginjal, hati dll)," katanya.

Belum kuatnya peraturan baku standar kandungan logam pada mainan anak dan lemahnya pemerintah (Bea Cukai) membatasi impor barang tersebut membuat masalah ini semakin memprihatinkan. Padahal dibutuhkan keseriusan dari pemerintah guna meminimalisir peredaran mainan impor yang mengandung racun timbal.

Masuknya mainan, sandal, dan sepatu buatan China ke negeri Indonesia banyak diburu masyarakat karena harganya yang murah.

Menurut Budi, penjual sandal dan sepatu plastik buatan China di pasar Johar, lebih dari sepuluh pasang sandal setiap hari dengan harga Rp15.000,00 sampai Rp25.000,00 per pasang bisa dijualnya.

"Dulu ketika booming lebih laris lagi mas. Bisa sampai tiga puluh pasang tiap hari. Sandal sepatu ini banyak digemari oleh cewek-cewek ABG (anak baru gede) mas," jelasnya.

Penujal mainan yang lain bernama Roni di Pasar Johar juga mengaku untung berjualan mainan buatan China. "Harganya mulai Rp5.000,00 untuk satu unit mobil mainan plastik hingga lebih dari Rp50.000,00 untuk mobil mainan dengan remote control," katanya.

Menurut Mono, seorang importir di Semarang, negara Indonesia tidak bisa menghentikan impor mainan yang mengandung racun timbal dari China. Jika hal itu dilakukan, maka Pemerintah China akan membalas dengan menghentikan ekspor produk makanan dan hasil laut dari Indonesia. Imbasnya, para nelayan di seputar Laut Jawa bisa gulung tikar, katanya.

Sumber :Antara

Tuesday, October 25, 2011

TV Merusak Interaksi Orangtua dan Anak

KOMPAS.com - Beberapa penelitian akhir-akhir ini menunjukkan, menonton TV selama berjam-jam mempunyai efek buruk bagi kesehatan. Namun studi para ilmuwan di Ohio AS mengungkapkan, selain masalah kesehatan, kebiasaan berlama-lama nonton TV pada anak juga bisa mempengaruhi hubungan komunikasi mereka dengan para orang tua.

Penelitian yang diterbitkan dalam Human Communication Research, memperlihatkan bahwa menonton TV dapat menyebabkan berkurangnya interaksi antara orangtua dan anak. Bahkan juga berdampak buruk pada kemampuan menulis, membaca dan bahasa anak.

Studi yang dilakukan oleh Amy Nathanson dan Eric Rasmussen dari Ohio State University, difokuskan untuk melihat 'respon ibu' ketika berkomunikasi dengan anak-anak mereka yang memiliki kebiasaan membaca buku, bermain mainan, dan menonton TV.

Para penulis mengeksplorasi interaksi 73 pasang ibu dan anak. Sebagian para ibu diketahui berusia 30-an dan memiliki gelar sarjana, sementara setengahnya sebagai ibu rumah tangga. Usia anak-anak berkisar antara 16 bulan sampai 6 tahun.

Dalam penelitian tersebut, baik ibu dan anak secara acak diberikan satu dari tiga kegiatan selama sepuluh menit. Setelah itu, orang tua diminta untuk mengisi kuesioner terkait perkembangan bahasa dan kemampuan membaca serta menulis anak mereka.
Hasil penelitian menunjukkan, pada kelompok ibu dan anak yang membaca buku bersama-sama, secara signifikan mempunyai komunikasi yang lebih baik dibandingkan pasangan ibu dan anak yang menonton TV.

Walaupun jumlah komunikasi saat membaca buku tidak secara signifikan lebih tinggi daripada kelompok ibu dan anak yang mainan alat (mobil-mobilan atau boneka). Namun, kualitas respon ibu lebih tinggi ketika anak-anak mereka membaca buku dan bermain dibandingkan menonton TV.

Para peneliti menemukan bahwa ketika orang tua dan anak membaca sebuah buku, mereka akan menggunakan gaya komunikasi yang lebih aktif, mengarahkan anak untuk mempelajari setiap huruf dan kata, dengan demikian meningkatkan perbendaharaan kosakata mereka dan pengetahuan tata bahasa. Sebaliknya pada kelompok ibu dan anak yang menonton TV, hanya sedikit komunikasi yang terjalin.

"Hal ini penting bagi kita untuk membatasi waktu menonton TV pada anak. Hilangnya komunikasi anak dengan orang tua akan berdampak buruk bagi perkembangan anak. Kami mendorong agar para orang tua mencari hiburan di luar TV," kata peneliti.

Sumber :www.esciencenews.com

Pendekatan Orangtua Kunci Sembuhkan Depresi Anak

JAKARTA, KOMPAS.com — Masalah depresi pada anak bukanlah masalah yang tidak dapat diatasi. Pendekatan orangtua terhadap anak adalah cara ampuh untuk mengurangi depresi pada anak. Oleh karena itu, Anda harus lebih banyak meluangkan waktu untuk mendengarkan keluhan-keluhan sang anak.

Pendekatan pada anak juga bisa dilakukan dengan cara menemani anak melakukan kegiatan yang disukainya, misalnya mengajak anak berjalan jalan, berenang, atau pergi ke tempat yang mereka senangi.

Yang penting ciptakan suasana santai sehingga Anda bisa leluasa mendengarkan keluhan-keluhan sang anak. Dengan begitu, Anda pun akan tahu apa yang menyebabkan mereka berubah.

Selain pendekatan orangtua pada anak, pengobatan pada anak yang mengalami depresi juga perlu dilakukan dengan menggandeng pihak lain, antara lain psikiater dan pihak sekolah atau guru. Pengobatan ini sering disebut sebagai psikoterapi atau terapi holistik. "Psikoterapi yang banyak dilakukan adalah berupa CBT (cognitive-behavioral therapy)," ujar Chatarina W Moeljadi, psikolog Sanggar Kreativitas Bobo.

Psikolog Inna Mutmainnah menambahkan, selain keterlibatan berbagai pihak, peran keluarga dan lingkungan sangat penting dalam keberhasilan penanganan depresi pada anak.

Inna mengatakan, langkah penanganan depresi pada anak harus dimulai dengan mengatasi pencetusnya. "Misalnya anak depresi karena masalah dengan orangtua, maka yang harus diperbaiki adalah pola komunikasi antara anak dan orangtua," ungkapnya.

Jadi, yang diterapi tidak saja si anak, tetapi bisa jadi juga orangtuanya. Selain terapi secara psikologis, anak depresi juga bisa diberikan terapi dengan obat atau yang dikenal dengan terapi farmakologis.

Dokter spesialis Anak dari Rumah Sakit Cikarang Hospital, Naomi Esthernita, mengatakan, terapi obat ini hanya digunakan sebagai penunjang psikoterapi. "Itu pun kalau dibutuhkan," ujar Naomi.

Ada beberapa obat antidepresan yang bisa diberikan pada anak penderita depresi. Di antaranya adalah fluoksetin dan sertralin yang bekerja spesifik untuk menghambat ambilan serotinin. Serotinin adalah zat di dalam otak yang bisa membuat perasaan menjadi lebih tenang dan rileks.

Obat litium karbonat juga bisa digunakan untuk pengobatan anak dan remaja yang mengalami depresi. "Tapi, terapi obat tidak banyak berpengaruh tanpa ada terapi psikologi," kata Inna.

Bagi para orangtua, sebaiknya jangan pernah menganggap remeh depresi pada anak sebab kalau dibiarkan selama 7 sampai 12 bulan, sewaktu-waktu penyakit ini berpotensi kambuh lagi. (Herlina Kartika Dewi)