KOMPAS.com - Para ibu hamil yang mengisap asap rokok atau bahkan merokok sendiri bisa menyebabkan bayi mereka kesulitan bangun saat berada di kandungan. Demikian penjelasan dari para ilmuwan Royal Children’s Hospital di Queensland, Australia.
"Gejala yang disebut Sudden Infant Death Syndrome ini bisa menyebabkan kematian pada bayi,” tutur Anne Chang, salah satu ilmuwan Royal Children dalam laporan yang disampaikannya dalam Journal Archives of Disease in Childhood tentang sindroma kematian bayi itu.
Sulitnya bayi menanggapi setiap rangsangan yang muncul dari luar, tampak pada saat bayi bangun dari tidurnya. Tidak hanya gerakan mata, reaksi fisik lain terlihat lambat dibanding bayi-bayi yang ibunya tidak mengisap rokok baik secara aktif maupun pasif.
Penelitian yang dilakukan Chang terhadap 20 bayi usia antara 8 sampai 12 minggu itu menunjukkan bahwa nikotin yang terkandung dalam tembakau itulah yang menyebabkan terganggunya sistem saraf. Karenanya, proses penerimaan rangsangan oleh bayi terhadap berubahnya kondisi di luar dirinya tampak lambat.
*otak manusia selalu dipenuhi oleh berbagai macam hal atau usaha bagaimana menyenangkan diri sendiri, dan mungkin untuk mencapai hal itu akan digunakan berbagai macam cara, baik cara menurutnya benar ataupun kalau perlu menggunakan cara yang sebetulnya ia mengetahui persis bahwa cara itu salah. Semua cara akan dibungkus oleh pembenaran – pembenaran yang dibuat sedemikian rupa agar bisa diterima oleh orang lain. Cara seperti ini akan secara turun temurun diturunkan, sehingga akan menjadi semacam budaya yang akan dianggap benar oleh keturunannya.
Contoh yang paling mudah di zaman sekarang adalah soal MEROKOK. Dorongan untuk MEROKOK sangat kuat karena diajarkan oleh lingkungan dan pergaulan, dan ketika sudah memulai, maka akan sangat sulit untuk menghentikannya.
Di dalam rokok ada zat-zat berbahaya yang membuat pemakainya menjadi merasa enak dan membuatnya ketagihan. Padahal semua perokok tahu persis, bahwa yang dilakukannya itu salah, dan rokok mengandung berbagai macam zat berbahaya yang akan merusaknya dalam waktu tidak seketika seperti KANKER, SERANGAN JANTUNG, IMPOTENSI, GANGGUAN KEHAMILAN dan GANGGUAN PADA JANIN.
Bahkan yang sebetulnya paling dirugikan adalah para perokok pasif. Mereka yang tidak merokok akan menghisap asap rokok dari hidung dan langsung ke paru-paru, dan itu secara lambat laun akan merusak kesehatan mereka, terutama pada anak-anak. Akan tetapi para perokok itu sama sekali tidak perduli, kesehatan mereka saja tidak diperdulikan, apalagi kesehatan orang lain.
Hanya satu dipikiran mereka , bagaimana caranya supaya enak. Berbagai macam pembenaran dilakukan seperti merokok itu gaul, merokok itu berselera tinggi dan elite, merokok itu membantu mereka yang bekerja di pabrik rokok, merokok itu menjernihkan pikiran, dan berbagai macam alasan menyedihkan lainnya. Padahal apabila menjawab dengan jujur, mereka akan berkata bahwa ROKOK ITU ADALAH RACUN*.
*Bahan dasar dari rokok adalah Tembakau. Bangsa ATLANTIS dahulu mengembangkan sebuah tanaman bernama UMBAKA yang merupakan singkatan dari UDERHA MONGULATUS BRODEA AGRETUS KEKRIVEROS AMATHEADUS atau diterjemahkan dengan UDARA MENGOTORI BADAN UNTUK MENG-AGRESI KEPALA DAN OTAK AGAR HILANG AMANAH DAN PIKIRAN.
UMBAKA ini atau yang sekarang dikenal sebagai Tembakau, memang dirancang agar manusia yang menghisapnya menjadi ketagihan, dengan demikian mutu darahnya menjadi tidak bagus, otomatis akan menambah jumlah KLAD di badan, sehingga kemampuan akan menjadi turun secara drastis. Pola pikir mereka menjadi terbatas, tidak akan mampu membaca alam secara baik dan benar.
Begitupun perokok pasif, mereka akan bernasib sama, bahkan lebih parah karena menghisap dari hidung. Hal itu sudah diperhitungkan oleh Bangsa pengembang agar hanya Bangsa mereka lah yang maju, dan bangsa lain hanya sebagai buruh-buruh dan robot-robot mereka. Terbukti, sekarang usaha mereka berhasil. Mereka berhasil mengembangkan UMBAKA ini ke seluruh dunia, dan berhasil pula menguasai dunia.
Pelajaran untuk menyenangkan diri sendiri ini sudah sangat mengakar di masyarakat zaman sekarang.
Rasulullah saw. bersabda, "Tidak boleh (menimbulkan) bahaya dan tidak boleh pula membahayakan orang lain." (HR. Ibnu Majah dari kitab Al-Ahkam 2340).
Allah SWT Berfirman , “Dihalalkan atas mereka apa-apa yang baik, dan diharamkan atas mereka apa-apa yang buruk .” (al-A’raf: 157).
"Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri dalam kebinasaan." (Al-Baqarah: 195)
"Dan janganlah kamu membunuh dirimu sendiri. Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepada mu." An-Nisa: 29
Showing posts with label bayi. Show all posts
Showing posts with label bayi. Show all posts
Friday, December 23, 2011
Thursday, December 8, 2011
Setelah Bayi Lahir, Segera Lakukan IMD
JAKARTA, KOMPAS.com - Inisiasi menyusui dini (IMD) merupakan langkah awal tumbuh kembang anak yang optimal. Oleh karena itu, bayi yang baru lahir harus segera diberikan kesempatan untuk mulai insiasi menyusu sendiri.
Dr. Utami Roesli, SpA, spesialis anak dari RS. St Carolus menerangkan cara melatih bayi untuk melakukan IMD adalah dengan membiarkan kontak kulit bayi dengan kulit ibu setidaknya satu jam atau lebih sampai menyusui awal selesai.
"Bayi yang lahir normal diletakan di perut ibu segera setelah lahir. Dengan kulit ibu melekat pada kulit bayi selama setidaknya 1 jam, dalam usia 20 menit bayi merangkak kearah payudara, dan pada 50 menit bayi tersebut akan menyusu," terang dr. Utami, di Hotel Borobudur, Jakarta, Minggu ( 21/6 ).
Jangan khawatir bayi akan kedinginan, karena kulit ibu mempunyai kemampuan untuk menyesuaikan suhunya dengan suhu yang dibutuhkan bayi.
Terdapat lima tahapan perilaku bayi sebelum menyusui. Dalam 30 menit pertama adalah istirahat siaga, bayi sesekali melihat ibunya dan menyesuaikan dengan lingkungan. Tahap kedua, 30 hingga 40 menit bayi akan mengeluarkan suara gerakan menghisap, memasukan tangan ke mulut. Selanjutnya, bayi akan mengeluarkan air liur. Setelah itu, kaki bayi akan menekan-nekan perut ibu untuk bergerak ke arah payudara.
Lalu, pada tahap akhir, bayi akan menjilat-jilat ibu, menyentuh puting dengan tangannya, menghentakan kepala ke dada ibu menoleh ke kanan dan ke kiri. "Setelah itu bayi akan menemukan puting, menjilat, mengulum puting susu, membuka mulut dan melekat dengan baik," terangnya.
Bila dalam satu jam menyusu awal belum juga terjadi, dekatkan bayi ke puting ibu. Namun jangan memasukan puting ke mulut bayi, beri waktu 30 menit atau 1 jam lagi. "Rawat juga ibu dan bayinya dalam satu ruangan, dalam jangkauan ibu selama 24 jam. Berikan ASI saja tanpa makanan lain tidak diberi dot atau empeng," kata dia.
Ia mengungkapkan, bayi yang lahir normal dan dipisahkan dari ibunya, 50 persen tidak bisa menyusu. Sementara bayi yang lahir dengan tindakan dan dipisahkan dari ibunya, 100 persen tidak bisa menyusu.
Meski IMD sangat dibutuhkan, lanjut dia, kondisi ibu dan bayi juga harus dalam keadaan stabil. "Jika terjadi pendarahan pada ibu, baik karena operasi atau apapun, segera hentikan IMD, karena hasilnya justru tidak akan maksimal," terangnya.
Dr. Utami Roesli, SpA, spesialis anak dari RS. St Carolus menerangkan cara melatih bayi untuk melakukan IMD adalah dengan membiarkan kontak kulit bayi dengan kulit ibu setidaknya satu jam atau lebih sampai menyusui awal selesai.
"Bayi yang lahir normal diletakan di perut ibu segera setelah lahir. Dengan kulit ibu melekat pada kulit bayi selama setidaknya 1 jam, dalam usia 20 menit bayi merangkak kearah payudara, dan pada 50 menit bayi tersebut akan menyusu," terang dr. Utami, di Hotel Borobudur, Jakarta, Minggu ( 21/6 ).
Jangan khawatir bayi akan kedinginan, karena kulit ibu mempunyai kemampuan untuk menyesuaikan suhunya dengan suhu yang dibutuhkan bayi.
Terdapat lima tahapan perilaku bayi sebelum menyusui. Dalam 30 menit pertama adalah istirahat siaga, bayi sesekali melihat ibunya dan menyesuaikan dengan lingkungan. Tahap kedua, 30 hingga 40 menit bayi akan mengeluarkan suara gerakan menghisap, memasukan tangan ke mulut. Selanjutnya, bayi akan mengeluarkan air liur. Setelah itu, kaki bayi akan menekan-nekan perut ibu untuk bergerak ke arah payudara.
Lalu, pada tahap akhir, bayi akan menjilat-jilat ibu, menyentuh puting dengan tangannya, menghentakan kepala ke dada ibu menoleh ke kanan dan ke kiri. "Setelah itu bayi akan menemukan puting, menjilat, mengulum puting susu, membuka mulut dan melekat dengan baik," terangnya.
Bila dalam satu jam menyusu awal belum juga terjadi, dekatkan bayi ke puting ibu. Namun jangan memasukan puting ke mulut bayi, beri waktu 30 menit atau 1 jam lagi. "Rawat juga ibu dan bayinya dalam satu ruangan, dalam jangkauan ibu selama 24 jam. Berikan ASI saja tanpa makanan lain tidak diberi dot atau empeng," kata dia.
Ia mengungkapkan, bayi yang lahir normal dan dipisahkan dari ibunya, 50 persen tidak bisa menyusu. Sementara bayi yang lahir dengan tindakan dan dipisahkan dari ibunya, 100 persen tidak bisa menyusu.
Meski IMD sangat dibutuhkan, lanjut dia, kondisi ibu dan bayi juga harus dalam keadaan stabil. "Jika terjadi pendarahan pada ibu, baik karena operasi atau apapun, segera hentikan IMD, karena hasilnya justru tidak akan maksimal," terangnya.
IMD, Hak Orangtua dan Bayi
KOMPAS.com - Inisiasi menyusui dini atau IMD, idealnya mengawali ASI eksklusif. Setelah itu dilanjutkan ASI eksklusif selama enam bulan. Jika memungkinkan, dilanjutkan hingga bayi berusia dua tahun. Namun banyak yang belum menyadari bahwa IMD adalah hak ibu, terutama bayi.
Ketua Umum Sentra Laktasi Indonesia—sekaligus dokter spesialis anak—Utami Roesli mengatakan, pemahaman mengenai IMD masih keliru. Memang, IMD masih relatif baru diperkenalkan di Indonesia. Padahal IMD penting, lanjutnya, dan menjadi hak bagi orangtua dan bayi.
"IMD adalah hak ibu dan bayi. Minta tenaga kesehatan untuk menjalankan IMD," tegas dr Utami dalam diskusi bersama Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) beberapa waktu lalu.
Karenanya, dr Utami menyarankan, orangtua perlu mencari informasi tepat mengenai IMD, dan rumah sakit yang mendukung IMD setelah proses melahirkan. IMD ini sendiri dilindungi undang-undang yakni UU No. 36/2009 tentang kesehatan. Disebutkan bahwa setiap bayi berhak mendapatkan ASI eksklusif selama enam bulan, kecuali ada indikasi medis. Tak hanya keluarga yang perlu mendukung, namun juga pemerintah. Setiap orang yang sengaja menghalangi program ASI eksklusif bahkan bisa dipidana, penjara satu tahun dan denda maksimal Rp 100 juta.
Peraturan ini menegaskan begitu pentingnya IMD bagi bayi. Sayangnya realitas yang ada menunjukkan, pemahaman tentang IMD ini masih belum maksimal.
"Penyuluhan tentang IMD, bekerjasama dengan NGO sudah dilakukan, namun belum menjangkau semua tenaga kesehatan dan masyarakat," jelas dr Utami, sambil menambahkan bahwa sikap aktif orangtua untuk memahami IMD menjadi kuncinya.
Sementara mengenai dukungan masyarakat dan pemerintah, sepertinya Indonesia masih perlu belajar dari negara lain seperti Swedia atau Norwegia.
Dr Utami mengatakan, Swedia misalnya, memberikan dukungan bagi orangtua untuk menjalani masa melahirkan dan menyusui lebih baik. Negara ini memberikan cuti bagi ibu bekerja selama 4 bulan pertama, lalu cuti ayah dua bulan kemudian. Cuti orangtua bahkan dibayarkan selama 16 bulan, dan juga cuti tidak dibayar 18 bulan. Pembayaran diberikan sebanyak 80 persen. Dari mana dananya? Perusahaan dan pemerintah bergandengan tangan untuk memberikan kehidupan ibu lebih baik.
Penulis: C1-10
Ketua Umum Sentra Laktasi Indonesia—sekaligus dokter spesialis anak—Utami Roesli mengatakan, pemahaman mengenai IMD masih keliru. Memang, IMD masih relatif baru diperkenalkan di Indonesia. Padahal IMD penting, lanjutnya, dan menjadi hak bagi orangtua dan bayi.
"IMD adalah hak ibu dan bayi. Minta tenaga kesehatan untuk menjalankan IMD," tegas dr Utami dalam diskusi bersama Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) beberapa waktu lalu.
Karenanya, dr Utami menyarankan, orangtua perlu mencari informasi tepat mengenai IMD, dan rumah sakit yang mendukung IMD setelah proses melahirkan. IMD ini sendiri dilindungi undang-undang yakni UU No. 36/2009 tentang kesehatan. Disebutkan bahwa setiap bayi berhak mendapatkan ASI eksklusif selama enam bulan, kecuali ada indikasi medis. Tak hanya keluarga yang perlu mendukung, namun juga pemerintah. Setiap orang yang sengaja menghalangi program ASI eksklusif bahkan bisa dipidana, penjara satu tahun dan denda maksimal Rp 100 juta.
Peraturan ini menegaskan begitu pentingnya IMD bagi bayi. Sayangnya realitas yang ada menunjukkan, pemahaman tentang IMD ini masih belum maksimal.
"Penyuluhan tentang IMD, bekerjasama dengan NGO sudah dilakukan, namun belum menjangkau semua tenaga kesehatan dan masyarakat," jelas dr Utami, sambil menambahkan bahwa sikap aktif orangtua untuk memahami IMD menjadi kuncinya.
Sementara mengenai dukungan masyarakat dan pemerintah, sepertinya Indonesia masih perlu belajar dari negara lain seperti Swedia atau Norwegia.
Dr Utami mengatakan, Swedia misalnya, memberikan dukungan bagi orangtua untuk menjalani masa melahirkan dan menyusui lebih baik. Negara ini memberikan cuti bagi ibu bekerja selama 4 bulan pertama, lalu cuti ayah dua bulan kemudian. Cuti orangtua bahkan dibayarkan selama 16 bulan, dan juga cuti tidak dibayar 18 bulan. Pembayaran diberikan sebanyak 80 persen. Dari mana dananya? Perusahaan dan pemerintah bergandengan tangan untuk memberikan kehidupan ibu lebih baik.
Penulis: C1-10
Apakah Balita Perlu Susu Formula Lanjutan?
JAKARTA, KOMPAS.com — Pemberian air susu ibu (ASI) selama dua tahun merupakan pondasi terbaik untuk kesehatan bayi. Enzim-enzim yang terdapat dalam air susu ibu (ASI) sangat dibutuhkan bayi, khususnya dalam dua tahun pertama perkembangannya.
Namun, setelah si kecil berusia di atas dua tahun, susu apa yang harus diberikan setelah ASI? Saat ini makin banyak pilihan produk dan merek susu formula lanjutan untuk bayi berusia di atas satu tahun. Meski begitu, sebaiknya orangtua harus ekstra hati-hati saat hendak memutuskan memilih susu formula lanjutan.
Menurut dr Asti Purborini, Sp A, dari Perkumpulan Perinatologi Indonesia Pusat, orangtua sebaiknya meneliti faktor keamanan pangan dari produk susu. "Sebaiknya pilih produk aman, misalnya yang tidak mengandung bahan pengawet. Karena itu, kalau untuk susu, pilihannya adalah susu segar atau susu UHT (ultra high temperature) dan pasteurisasi," katanya. Selain bebas pengawet, produk susu segar juga lebih murah.
Belajar dari kasus pencemaran susu, baik oleh bakteri enterobacter sakazaki maupun melamin, penting dipahami oleh para orangtua bahwa susu formula bayi bukanlah produk yang 100 persen steril. Karena itu, dalam penggunaan dan penyimpanannya diperlukan perhatian khusus.
Untuk anak berusia dua tahun, pemenuhan gizi anak sebenarnya bisa dioptimalkan lewat pemberian makanan seimbang. "Berikan anak makanan yang mengandung karbohidrat, vitamin, protein, dan mineral," kata Ida Ruslita Amir, SKM, M Kes, dari Persatuan Gizi Indonesia saat ditemui di acara peluncuran Silaturahmi Ramadhan yang diadakan oleh Frisian Flag, beberapa waktu lalu.
"Dalam piramida makanan yang dikeluarkan oleh WHO, susu adalah penyempurna. Jumlah yang dibutuhkan pun lebih kecil dibanding sayuran atau karbohidrat," papar Rini saat dihubungi Kompas.com. Karena itu, menurut Rini, orangtua tak perlu khawatir bila anak tak mau minum susu selama kebutuhan nutrisinya sudah terpenuhi dari makanan.
"Ibu-ibu zaman sekarang lebih panik bila anaknya tak mau minum susu, tapi tenang-tenang saja kalau anaknya susah makan sayur," kata Rini. Mengenai pemberian makanan kepada anak, Rini menyarankan agar para ibu membuat makanan sendiri. Selain lebih sehat, bergizi, dan higienis, tentu saja harganya lebih murah ketimbang membeli makanan instan buatan pabrik.
Penulis: AN
Namun, setelah si kecil berusia di atas dua tahun, susu apa yang harus diberikan setelah ASI? Saat ini makin banyak pilihan produk dan merek susu formula lanjutan untuk bayi berusia di atas satu tahun. Meski begitu, sebaiknya orangtua harus ekstra hati-hati saat hendak memutuskan memilih susu formula lanjutan.
Menurut dr Asti Purborini, Sp A, dari Perkumpulan Perinatologi Indonesia Pusat, orangtua sebaiknya meneliti faktor keamanan pangan dari produk susu. "Sebaiknya pilih produk aman, misalnya yang tidak mengandung bahan pengawet. Karena itu, kalau untuk susu, pilihannya adalah susu segar atau susu UHT (ultra high temperature) dan pasteurisasi," katanya. Selain bebas pengawet, produk susu segar juga lebih murah.
Belajar dari kasus pencemaran susu, baik oleh bakteri enterobacter sakazaki maupun melamin, penting dipahami oleh para orangtua bahwa susu formula bayi bukanlah produk yang 100 persen steril. Karena itu, dalam penggunaan dan penyimpanannya diperlukan perhatian khusus.
Untuk anak berusia dua tahun, pemenuhan gizi anak sebenarnya bisa dioptimalkan lewat pemberian makanan seimbang. "Berikan anak makanan yang mengandung karbohidrat, vitamin, protein, dan mineral," kata Ida Ruslita Amir, SKM, M Kes, dari Persatuan Gizi Indonesia saat ditemui di acara peluncuran Silaturahmi Ramadhan yang diadakan oleh Frisian Flag, beberapa waktu lalu.
"Dalam piramida makanan yang dikeluarkan oleh WHO, susu adalah penyempurna. Jumlah yang dibutuhkan pun lebih kecil dibanding sayuran atau karbohidrat," papar Rini saat dihubungi Kompas.com. Karena itu, menurut Rini, orangtua tak perlu khawatir bila anak tak mau minum susu selama kebutuhan nutrisinya sudah terpenuhi dari makanan.
"Ibu-ibu zaman sekarang lebih panik bila anaknya tak mau minum susu, tapi tenang-tenang saja kalau anaknya susah makan sayur," kata Rini. Mengenai pemberian makanan kepada anak, Rini menyarankan agar para ibu membuat makanan sendiri. Selain lebih sehat, bergizi, dan higienis, tentu saja harganya lebih murah ketimbang membeli makanan instan buatan pabrik.
Penulis: AN
Tahapan Bayi Belajar Berkomunikasi
Beginilah Tahapan Bayi Belajar Berkomunikasi
Senyuman merupakan salah satu cara bayi untuk berkomunikasi dengan orangtuanya.
KOMPAS.com - Tahun pertama bayi merupakan masa penuh perubahan yang cepat. Sekali waktu ia hanya bisa berbaring dan menangis, namun tak lama kemudian ia sudah belajar berjalan. Dari senyuman pertamanya, gumamannya, dan ucap kata pertamanya, hingga ia berusaha mengucapa "mama" atau "papa", itu merupakan pertanda usaha untuk berkomunikasi.
Sepanjang tahun pertamanya, Anda bisa mencoba untuk membantunya berusaha untuk melatih kemampuan komunikasinya. Caranya; Anda hanya perlu tersenyum, bicara, bernyanyi, dan membaca kepada si bayi.
Hal ini menjadi penting karena kemampuan berbicara dan berbahasa anak berhubungan dengan kesuksesan si kecil untuk membaca, menulis, dan kemampuan interpersonalnya, baik di masa kanak-kanaknya hingga ia dewasa nanti.
Cara dan kapan waktu bayi bisa mengucapkan kata pertamanya berbeda antara satu bayi dengan yang lain. Ada yang bisa mengucapkan beberapa kata di usia 12 bulan, namun, ada pula yang baru bisa mengucap kata pertamanya di usia 18 bulan. Namun, kira-kira rentang tahapan bayi berkomunikasi adalah sebagai berikut;
* 1-3 bulan: Bayi sudah mulai menyukai suara Anda dan mulai bisa tersenyum, tertawa, terdiam, dan bersemangat sambil mengibaskan tangan mereka ketika Anda bicara atau bernyanyi untuknya. Cara berkomunikasi dimulai dengan ia bergumam dan terlihat seperti bermain dengan air liurnya, berucap "uuu", di usia sekitar 2 bulanan.
Tak pernah terlalu cepat untuk mulai membaca kepada bayi Anda. Dibacakan cerita membantu menstimulasi otak yang berkembang. Banyak bayi yang merasa nyaman ketika diperdengarkan musik, dan mulai mengenali lagu-lagu ringan dengan bereaksi lewat senyuman, bergumam, dan mengayunkan lengan serta kaki.
* 4-7 bulan: Bayi mulai menyadari akan adanya dampak dari berbicara dengan orangtuanya. Mereka akan bergumam dan melihat adanya timbal balik reaksi dari orangtuanya. Bayi akan mulai banyak bereksperimen dengan suara dan intonasi. Mereka akan mulai mencoba menaik-turunkan tinggi suaranya seiring ia bergumam, sama seperti ketika ia mendengar orang dewasa bertanya atau menaikkan nada suara.
Di usia ini, Anda bisa mulai mengangkat benda dan menyebutkan namanya. Bacakan buku-buku dengan gambar-gambar kepada bayi Anda. Tunjukkan gambar-gambar tersebut dan mulai sebut nama-nama yang mudah dan singkat. Hal ini akan membantunya membangun kemampuan berbahasa dan membaca. Berlatihlah menggunakan kata-kata singkat, kemudian berhenti. Ini akan memberikan kesempatan si kecil untuk merespon dengan bahasanya, sekaligus melatih interaksi yang kemudian akan ia perlukan di masa dewasa.
* 8-12 bulan: Merupakan keriaan tersendiri bagi para orangtua ketika mendengar si bayi memanggil Anda dengan "mama" atau "papa" untuk pertama kalinya. Namun kali pertama bisa saja terucap tanpa sengaja. Di usia ini bayi umumnya akan mencoba mengucap kata "ga-ga", da-da", atau "ba-ba".
Jangan bosan untuk mengajarnya dan mengulang kata-kata yang mudah sambil sesekali diselip senyuman pada wajah Anda. Ini akan membantu si kecil menyimpan memori itu dan mengerti arti dan nama dari benda-benda yang Anda perkenalkan padanya. Di tahapan ini, si kecil akan senang untuk berinteraksi satu lawan satu dengan Anda. Si kecil juga suka bermain dan menyanyikan lagu-lagu mudah untuk anak-anak.
Senyuman merupakan salah satu cara bayi untuk berkomunikasi dengan orangtuanya.
KOMPAS.com - Tahun pertama bayi merupakan masa penuh perubahan yang cepat. Sekali waktu ia hanya bisa berbaring dan menangis, namun tak lama kemudian ia sudah belajar berjalan. Dari senyuman pertamanya, gumamannya, dan ucap kata pertamanya, hingga ia berusaha mengucapa "mama" atau "papa", itu merupakan pertanda usaha untuk berkomunikasi.
Sepanjang tahun pertamanya, Anda bisa mencoba untuk membantunya berusaha untuk melatih kemampuan komunikasinya. Caranya; Anda hanya perlu tersenyum, bicara, bernyanyi, dan membaca kepada si bayi.
Hal ini menjadi penting karena kemampuan berbicara dan berbahasa anak berhubungan dengan kesuksesan si kecil untuk membaca, menulis, dan kemampuan interpersonalnya, baik di masa kanak-kanaknya hingga ia dewasa nanti.
Cara dan kapan waktu bayi bisa mengucapkan kata pertamanya berbeda antara satu bayi dengan yang lain. Ada yang bisa mengucapkan beberapa kata di usia 12 bulan, namun, ada pula yang baru bisa mengucap kata pertamanya di usia 18 bulan. Namun, kira-kira rentang tahapan bayi berkomunikasi adalah sebagai berikut;
* 1-3 bulan: Bayi sudah mulai menyukai suara Anda dan mulai bisa tersenyum, tertawa, terdiam, dan bersemangat sambil mengibaskan tangan mereka ketika Anda bicara atau bernyanyi untuknya. Cara berkomunikasi dimulai dengan ia bergumam dan terlihat seperti bermain dengan air liurnya, berucap "uuu", di usia sekitar 2 bulanan.
Tak pernah terlalu cepat untuk mulai membaca kepada bayi Anda. Dibacakan cerita membantu menstimulasi otak yang berkembang. Banyak bayi yang merasa nyaman ketika diperdengarkan musik, dan mulai mengenali lagu-lagu ringan dengan bereaksi lewat senyuman, bergumam, dan mengayunkan lengan serta kaki.
* 4-7 bulan: Bayi mulai menyadari akan adanya dampak dari berbicara dengan orangtuanya. Mereka akan bergumam dan melihat adanya timbal balik reaksi dari orangtuanya. Bayi akan mulai banyak bereksperimen dengan suara dan intonasi. Mereka akan mulai mencoba menaik-turunkan tinggi suaranya seiring ia bergumam, sama seperti ketika ia mendengar orang dewasa bertanya atau menaikkan nada suara.
Di usia ini, Anda bisa mulai mengangkat benda dan menyebutkan namanya. Bacakan buku-buku dengan gambar-gambar kepada bayi Anda. Tunjukkan gambar-gambar tersebut dan mulai sebut nama-nama yang mudah dan singkat. Hal ini akan membantunya membangun kemampuan berbahasa dan membaca. Berlatihlah menggunakan kata-kata singkat, kemudian berhenti. Ini akan memberikan kesempatan si kecil untuk merespon dengan bahasanya, sekaligus melatih interaksi yang kemudian akan ia perlukan di masa dewasa.
* 8-12 bulan: Merupakan keriaan tersendiri bagi para orangtua ketika mendengar si bayi memanggil Anda dengan "mama" atau "papa" untuk pertama kalinya. Namun kali pertama bisa saja terucap tanpa sengaja. Di usia ini bayi umumnya akan mencoba mengucap kata "ga-ga", da-da", atau "ba-ba".
Jangan bosan untuk mengajarnya dan mengulang kata-kata yang mudah sambil sesekali diselip senyuman pada wajah Anda. Ini akan membantu si kecil menyimpan memori itu dan mengerti arti dan nama dari benda-benda yang Anda perkenalkan padanya. Di tahapan ini, si kecil akan senang untuk berinteraksi satu lawan satu dengan Anda. Si kecil juga suka bermain dan menyanyikan lagu-lagu mudah untuk anak-anak.
Junk Food Membahayakan Bayi
MENGONSUMSI makanan tak sehat seperti junk food selama masa hamil atau menyusui tidak hanya berpotensi merugikan kesehatan ibu. Suatu riset terhadap binatang mengindikasikan, konsumsi makanan tak sehat selama hamil dan menyusui juga dapat menimbulkan kerugian jangka panjang pada bayi.
Hasil penelitian para ahli dari Royal Veterinary College dan London's Wellcome Trust menunjukkan, keturunan tikus yang diberi makanan olahan berlemak ternyata mengalami penumpukan lemak pada pembuluh darah dan organ-organ penting lainnya, bahkan hingga mereka menginjak dewasa. Alhasil, tikus ini memiliki risiko tinggi mengidap diabetes, bahkan kalau mereka diberi diet yang sehat.
Sejumlah riset sebelumnya oleh tim yang sama juga menunjukkan bahwa tikus lahir dari ibu yang diberi junk food selama hamil dan menyusui cenderung ketagihan jenis makanan yang sama. Namun begitu, perkembangan barunya adalah ketika mereka lepas dari diet tak sehat, kerusakan sudah kadung terjadi.
"Tampaknya kebiasan diet ibu selama hamil dan menyusui sangat penting bagi kesehatan anak untuk jangka panjang. Kami selalu mengatakan 'You are what you eat', namun pada faktanya mungkin ada benarnya bahwa Anda sekarang ini adalah apa yang Ibu Anda makan," ungkap pimpinan riset, Dr Stephanie Bayol yang mempublikasikan temuannya dalam Journal of Physiology.
Hal lain yang menjadi perhatian adalah lemak yang terkumpul dalam organ-organ penting, yang tentunya berimplikasi pada perkembangan penyakit diabetes tipe II. Tikus-tikus yang lahir dari ibu yang tak sehat cenderung mengalami hal ini, meskipun mereka terbebas dari kebiasaan mengonsumi junk food.
Temuan lain yang menarik adalah adanya perbedaan dalam hal jenis kelamin, di mana tikus jantan dari keturunan ibu yang tak sehat memiliki kadar insulin yang lebih tinggi dan kadar gula darah normal. Sedangkan kebalikannya terjadi pada tikus betina, yang juga cenderung lebih gemuk.
Professor Neil Stickland, salah seorang peneliti lain, menyatakan bahwa prinsip yang sama mungkin juga bisa berlaku pada manusia.
"Manusia dan tikus memiliki sejumlah sistem biologis fundamental yang sama, oleh karena itu ada alasan yang baik untuk mengasumsikan bahwa dampak yang kita lihat pada tikus mungkin akan terjadi pada manusia," tegasnya.
Ia juga mengatakan bahwa sejumlah riset lain pada manusia telah menemukan adanya hubungan antara berat badan orang tua dengan berat badan anak-anaknya.
sumber : kompas
Hasil penelitian para ahli dari Royal Veterinary College dan London's Wellcome Trust menunjukkan, keturunan tikus yang diberi makanan olahan berlemak ternyata mengalami penumpukan lemak pada pembuluh darah dan organ-organ penting lainnya, bahkan hingga mereka menginjak dewasa. Alhasil, tikus ini memiliki risiko tinggi mengidap diabetes, bahkan kalau mereka diberi diet yang sehat.
Sejumlah riset sebelumnya oleh tim yang sama juga menunjukkan bahwa tikus lahir dari ibu yang diberi junk food selama hamil dan menyusui cenderung ketagihan jenis makanan yang sama. Namun begitu, perkembangan barunya adalah ketika mereka lepas dari diet tak sehat, kerusakan sudah kadung terjadi.
"Tampaknya kebiasan diet ibu selama hamil dan menyusui sangat penting bagi kesehatan anak untuk jangka panjang. Kami selalu mengatakan 'You are what you eat', namun pada faktanya mungkin ada benarnya bahwa Anda sekarang ini adalah apa yang Ibu Anda makan," ungkap pimpinan riset, Dr Stephanie Bayol yang mempublikasikan temuannya dalam Journal of Physiology.
Hal lain yang menjadi perhatian adalah lemak yang terkumpul dalam organ-organ penting, yang tentunya berimplikasi pada perkembangan penyakit diabetes tipe II. Tikus-tikus yang lahir dari ibu yang tak sehat cenderung mengalami hal ini, meskipun mereka terbebas dari kebiasaan mengonsumi junk food.
Temuan lain yang menarik adalah adanya perbedaan dalam hal jenis kelamin, di mana tikus jantan dari keturunan ibu yang tak sehat memiliki kadar insulin yang lebih tinggi dan kadar gula darah normal. Sedangkan kebalikannya terjadi pada tikus betina, yang juga cenderung lebih gemuk.
Professor Neil Stickland, salah seorang peneliti lain, menyatakan bahwa prinsip yang sama mungkin juga bisa berlaku pada manusia.
"Manusia dan tikus memiliki sejumlah sistem biologis fundamental yang sama, oleh karena itu ada alasan yang baik untuk mengasumsikan bahwa dampak yang kita lihat pada tikus mungkin akan terjadi pada manusia," tegasnya.
Ia juga mengatakan bahwa sejumlah riset lain pada manusia telah menemukan adanya hubungan antara berat badan orang tua dengan berat badan anak-anaknya.
sumber : kompas
Tuesday, November 15, 2011
Susu Formula Sebabkan Bayi Berpayudara?
BEIJING, KOMPAS.com — Pemerintah China memerintahkan aparat keamanan pangan di Provinsi Hubei untuk menyelidiki sangkaan bahwa susu bubuk telah menyebabkan bayi perempuan yang baru lahir memiliki payudara.
"Departemen kesehatan memberi perhatian khusus terhadap isu penting ini," kata juru bicara Departemen Kesehatan China, Deng Haihua, dalam sebuah konferensi pers, Selasa, sebagaimana dikutip AFP.
Para pejabat China sudah mulai menguji susu formula bayi itu setelah orangtua dan dokter menyatakan kekhawatiran mereka bahwa hormon dalam susu bubuk yang diproduksi Synutra, yang terdaftar di bursa NASDAQ, telah menyebabkan payudara bayi mengembang sebelum waktunya. Menurut laporan media pemerintah, otoritas keamanan makanan lokal sebelumnya menolak permintaan para orangtua untuk menyelidiki susu formula produksi Synutra, yang berbasis di kota Qingdao, itu dengan alasan bahwa mereka tidak dapat melakukan tes atas permintaan konsumen.
China Daily, Senin (9/8/2010), melaporkan, tes medis menunjukkan, kadar hormon dalam tubuh tiga bayi perempuan berusia antara 4 dan 15 bulan yang diberi susu itu melebihi level rata-rata wanita dewasa. Departemen Kesehatan mengatakan, para ahli medis juga membantu penyelidikan medis terpisah untuk menyelidiki kondisi bayi-bayi itu.
Synutra melalui sebuah pernyataan berkeras bahwa produknya aman dan tidak mengandung hormon buatan atau tambahan zat ilegal dalam proses produksi. Walau demikian, saham perusahaan itu langsung anjlok 27 persen di bursa New York, Senin.
Tahun 2008, China digegerkan kasus susu yang dicampur zat kimia melamin. Dalam kasus ini, 6 bayi tewas dan 300.000 lainnya sakit.
Penulis: Egidius Patnistik
"Departemen kesehatan memberi perhatian khusus terhadap isu penting ini," kata juru bicara Departemen Kesehatan China, Deng Haihua, dalam sebuah konferensi pers, Selasa, sebagaimana dikutip AFP.
Para pejabat China sudah mulai menguji susu formula bayi itu setelah orangtua dan dokter menyatakan kekhawatiran mereka bahwa hormon dalam susu bubuk yang diproduksi Synutra, yang terdaftar di bursa NASDAQ, telah menyebabkan payudara bayi mengembang sebelum waktunya. Menurut laporan media pemerintah, otoritas keamanan makanan lokal sebelumnya menolak permintaan para orangtua untuk menyelidiki susu formula produksi Synutra, yang berbasis di kota Qingdao, itu dengan alasan bahwa mereka tidak dapat melakukan tes atas permintaan konsumen.
China Daily, Senin (9/8/2010), melaporkan, tes medis menunjukkan, kadar hormon dalam tubuh tiga bayi perempuan berusia antara 4 dan 15 bulan yang diberi susu itu melebihi level rata-rata wanita dewasa. Departemen Kesehatan mengatakan, para ahli medis juga membantu penyelidikan medis terpisah untuk menyelidiki kondisi bayi-bayi itu.
Synutra melalui sebuah pernyataan berkeras bahwa produknya aman dan tidak mengandung hormon buatan atau tambahan zat ilegal dalam proses produksi. Walau demikian, saham perusahaan itu langsung anjlok 27 persen di bursa New York, Senin.
Tahun 2008, China digegerkan kasus susu yang dicampur zat kimia melamin. Dalam kasus ini, 6 bayi tewas dan 300.000 lainnya sakit.
Penulis: Egidius Patnistik
Wednesday, November 9, 2011
Bayi Terlahir Autis Terus Meningkat
Jakarta, Kompas - Peluang bayi terlahir autis di Indonesia meningkat drastis, yakni 1 kasus dari 165 kelahiran bayi. Orangtua diimbau waspada mengenali gejala autisme anak sejak dini agar memudahkan penanganannya.
Itu diungkapkan dokter sekaligus motivator anak berkebutuhan khusus, Kresno Mulyadi SpKJ, pada peluncuran bukunya berjudul Autism is Treatable, Minggu (10/7) di Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi The London School, Jakarta.
Satu setengah dasawarsa lalu, lanjut dia, jumlah autisme sekitar 4 kasus dari 10.000 kelahiran. Namun, jumlah itu kini melonjak. Versi Kementerian Pendidikan Nasional, 1 berbanding 500 kelahiran. Kresno memakai definisi autisme secara lebih luas, yaitu gangguan spektrum autis.
”Gangguan ini sifatnya luas, mulai yang ringan hingga berat. Gangguan ringan biasanya lolos dari deteksi (orangtua) pada usia di bawah 5 tahun. Namun, mulai menimbulkan masalah serius saat anak mulai sekolah, misalnya di kelas 4 SD. Ia jadi fobia sekolah,” ujar dia.
Hingga kini, penyebab pasti autisme belum ditemukan. Berdasarkan sejumlah riset, diketahui sejumlah faktor memengaruhi munculnya autisme. ”Misalnya, saat trimester (kehamilan) pertama, ibu mengalami pendarahan sehingga pasokan oksigen ke otak bayi tak optimal,” ucapnya.
Faktor lain inveksi virus semacam toksoplasma dan herpes. Lalu, kontaminasi logam berat, seperti timbal, merkuri, dan kadmium. Pencemaran udara atau makanan laut tercemar juga potensi memicu autisme atau gangguan otak lain pada janin.
Gejala autisme anak bisa dikenali sejak usia 1-2 tahun. ”Ada beberapa gejala, misalnya emosi tak stabil, anak suka jalan berjinjit, menjatuhkan atau melukai diri sendiri, lompat-lompat di tempat tidur atau mudah asyik dengan mainannya sendiri,” kata Kresno.
Dengan mengenali gejala sejak dini, autisme lebih mudah ditangani. Meskipun autisme belum bisa disembuhkan, dengan penanganan baik, misalnya terapi, gejala autisme penderitanya bisa dikurangi. ”Misalnya, kecenderungan repetisi (mengulang perbuatan) bisa berkurang, komunikasi lebih baik,” ucapnya.
Perhatian pemerintah
Menurut Praptono dari Direktorat Pembinaan Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus Kementerian Pendidikan Nasional, autisme kini menjadi perhatian khusus pemerintah. Sebab, prevelansi kasusnya terus meningkat. Kini kasus autis tak lagi didominasi kalangan mampu.
”Selama ini yang dikeluhkan layanan terapi (autis) masih sangat mahal. Untuk itu, kami akan membangun autis center, pusat penanganan dan rehabilitasi autisme di lima daerah, akhir tahun ini. Setiap daerah mendapat bantuan Rp 5 miliar untuk pembangunannya sehingga pelayanannya (terapi) murah” ujarnya.
Namun, ia enggan menyebut daerah mana saja yang akan berdiri pusat penanganan anak autis. Penentuan daerah bergantung populasi anak autis di daerah dan kesiapan pemda.
Itu diungkapkan dokter sekaligus motivator anak berkebutuhan khusus, Kresno Mulyadi SpKJ, pada peluncuran bukunya berjudul Autism is Treatable, Minggu (10/7) di Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi The London School, Jakarta.
Satu setengah dasawarsa lalu, lanjut dia, jumlah autisme sekitar 4 kasus dari 10.000 kelahiran. Namun, jumlah itu kini melonjak. Versi Kementerian Pendidikan Nasional, 1 berbanding 500 kelahiran. Kresno memakai definisi autisme secara lebih luas, yaitu gangguan spektrum autis.
”Gangguan ini sifatnya luas, mulai yang ringan hingga berat. Gangguan ringan biasanya lolos dari deteksi (orangtua) pada usia di bawah 5 tahun. Namun, mulai menimbulkan masalah serius saat anak mulai sekolah, misalnya di kelas 4 SD. Ia jadi fobia sekolah,” ujar dia.
Hingga kini, penyebab pasti autisme belum ditemukan. Berdasarkan sejumlah riset, diketahui sejumlah faktor memengaruhi munculnya autisme. ”Misalnya, saat trimester (kehamilan) pertama, ibu mengalami pendarahan sehingga pasokan oksigen ke otak bayi tak optimal,” ucapnya.
Faktor lain inveksi virus semacam toksoplasma dan herpes. Lalu, kontaminasi logam berat, seperti timbal, merkuri, dan kadmium. Pencemaran udara atau makanan laut tercemar juga potensi memicu autisme atau gangguan otak lain pada janin.
Gejala autisme anak bisa dikenali sejak usia 1-2 tahun. ”Ada beberapa gejala, misalnya emosi tak stabil, anak suka jalan berjinjit, menjatuhkan atau melukai diri sendiri, lompat-lompat di tempat tidur atau mudah asyik dengan mainannya sendiri,” kata Kresno.
Dengan mengenali gejala sejak dini, autisme lebih mudah ditangani. Meskipun autisme belum bisa disembuhkan, dengan penanganan baik, misalnya terapi, gejala autisme penderitanya bisa dikurangi. ”Misalnya, kecenderungan repetisi (mengulang perbuatan) bisa berkurang, komunikasi lebih baik,” ucapnya.
Perhatian pemerintah
Menurut Praptono dari Direktorat Pembinaan Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus Kementerian Pendidikan Nasional, autisme kini menjadi perhatian khusus pemerintah. Sebab, prevelansi kasusnya terus meningkat. Kini kasus autis tak lagi didominasi kalangan mampu.
”Selama ini yang dikeluhkan layanan terapi (autis) masih sangat mahal. Untuk itu, kami akan membangun autis center, pusat penanganan dan rehabilitasi autisme di lima daerah, akhir tahun ini. Setiap daerah mendapat bantuan Rp 5 miliar untuk pembangunannya sehingga pelayanannya (terapi) murah” ujarnya.
Namun, ia enggan menyebut daerah mana saja yang akan berdiri pusat penanganan anak autis. Penentuan daerah bergantung populasi anak autis di daerah dan kesiapan pemda.
Thursday, November 3, 2011
Hanya ASI Satu-satunya Makanan untuk Bayi
PARA IBU HENDAKLAH MENYUSUKAN ANAK - ANAKNYA SELAMA DUA TAHUN PENUH , YAITU BAGI YANG INGIN MENYEMPURNAKAN PENYUSUAN...
AL - BAQARAH : 233
Jakarta, Pemberian Air Susu Ibu (ASI) seringkali digabung dengan susu formula sejak bayi lahir. Tapi hal ini tidak dapat dibenarkan, karena ASI adalah satu-satunya pilihan yang harus diberikan sejak bayi lahir hingga 6 bulan ke depan.
Maraknya iklan susu formula yang terdapat di televisi, internet, koran maupun di pinggir-pinggir jalan cukup memberikan pengaruh yang besar terhadap keberhasilan ASI eksklusif pada masyarakat.
"Tingkat menyusui di Indonesia memang diakui masih rendah. Bahkan negara Afganistan yang sering terjadi konflik tingkat menyusuinya masih lebih tinggi dari kita," ujar Mia Sutanto, ketua Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) dalam acara coffee morning AIMI di Restoran Sambara, Jakarta, Senin (21/12/2009).
Lebih lanjut Mia mengungkapkan sekitar 50 persen permasalahan yang terjadi di Indonesia adalah akibat pemasaran iklan susu formula. Jika produsen susu formula tidak boleh membuat iklan di semua sektor, maka setengah dari permasalahan menyusui di Indonesia bisa teratasi. Sehingga pemerintah dan masyarakat tinggal mendukung gerakan ASI eksklusif, meluruskan mitos-mitos yang ada tentang menyusui dan memberikan edukasi seputar menyusui.
Salah satu konsistensi AIMI dalam hal mengkampanyekan pemberian ASI adalah dengan bergabung bersama lembaga dan masyarakat peduli ASI untuk menolak RUU kesehatan terkait dengan adanya kata-kata susu formula dalam RUU tersebut. Hingga akhirnya AIMI dan pihak lain berhasil mendesak para wakil rakyat untuk menghapuskan kata susu formula serta memberikan pasal sanksi bagi semua pihak yang menghalangi pemberian ASI.
Susu formula selama ini diklaim sebagai produk steril, tapi menurut Mia, siapa yang bisa menjamin bahwa produk tersebut benar-benar steril. Karena dalam prosesnya harus melalui berbagai tahapan hingga akhirnya bisa dijual, ada banyak kemungkinan kontaminasi seperti saat proses di pabrik, proses pengiriman serta saat membuat susu formula, apakah botol dan airnya sudah steril.
"Saat bayi baru lahir, ususnya masih berbentuk bolong-bolong dan hanya bisa tertutup sempurna oleh kolostrum yang terdapat di ASI. Lalu apa jadinya jika usus yang bolong tersebut diisi oleh zat asing seperti susu formula, hal ini justru sangat berisiko," ungkap Mia Sutanto.
ASI sebenarnya sudah terbentuk sejak usia kehamilan 16 hingga 22 minggu dan saat plasenta bayi sudah keluar maka dengan sendirinya hormon kehamilan akan menurun sedangkan hormon menyusui akan meningkat. Saat 1-3 hari setelah melahirkan, ASI cenderung akan bertambah banyak dan semakin sering ASI disedot oleh bayi maka produksinya akan semakin banyak.
Pada intinya tidak ada alasan bagi ibu untuk tidak memberikan ASI pada bayinya, karena semua zat yang diperlukan oleh bayi saat baru lahir sudah terdapat di dalam ASI. Diperkirakan hanya 1 dari 1.000 ibu yang tidak bisa menyusui anaknya karena ada kelainan di payudara sang ibu dan kelainan ini sudah bisa terdeteksi sejak masa kehamilan.
Diketahui jelas Mia, sebenarnya banyak risiko yang bisa ditimbulkan jika ibu tidak memberikan ASI dan hanya memberikan susu formula saja. Salah satunya adalah kemungkinan terkontaminasi bakteri dari luar, daya tahan tubuh bayi tidak terlalu kuat serta bisa merusak gigi bayi nantinya akibat penggunaan botol susu.
"Bagi ibu yang menyusui dukungan dari suami, orangtua dan juga sang mertua sangat diperlukan agar si ibu lebih percaya diri. Maka diharapkan tahun 2010 tingkat ibu menyusui di Indonesia bisa meningkat," ujar Nia Umar, wakil ketua dari AIMI.
Banyak cara yang bisa dilakukan oleh ibu untuk tetap memberikan ASI pada anaknya termasuk bagi ibu yang bekerja atau sedang bepergian. Misalnya dengan memompa ASI dan menyimpannya di kulkas atau jika sedang di luar bisa dengan cara menggunakan pakaian berkancing depan dan menutupinya dengan selendang atau pasmina.
"Maka ASI bukanlah yang terbaik tapi the only option (satu-satunya pilihan) susu bagi bayi," ungkap Mia.
Vera Farah Bararah - detikHealth
AL - BAQARAH : 233
Jakarta, Pemberian Air Susu Ibu (ASI) seringkali digabung dengan susu formula sejak bayi lahir. Tapi hal ini tidak dapat dibenarkan, karena ASI adalah satu-satunya pilihan yang harus diberikan sejak bayi lahir hingga 6 bulan ke depan.
Maraknya iklan susu formula yang terdapat di televisi, internet, koran maupun di pinggir-pinggir jalan cukup memberikan pengaruh yang besar terhadap keberhasilan ASI eksklusif pada masyarakat.
"Tingkat menyusui di Indonesia memang diakui masih rendah. Bahkan negara Afganistan yang sering terjadi konflik tingkat menyusuinya masih lebih tinggi dari kita," ujar Mia Sutanto, ketua Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) dalam acara coffee morning AIMI di Restoran Sambara, Jakarta, Senin (21/12/2009).
Lebih lanjut Mia mengungkapkan sekitar 50 persen permasalahan yang terjadi di Indonesia adalah akibat pemasaran iklan susu formula. Jika produsen susu formula tidak boleh membuat iklan di semua sektor, maka setengah dari permasalahan menyusui di Indonesia bisa teratasi. Sehingga pemerintah dan masyarakat tinggal mendukung gerakan ASI eksklusif, meluruskan mitos-mitos yang ada tentang menyusui dan memberikan edukasi seputar menyusui.
Salah satu konsistensi AIMI dalam hal mengkampanyekan pemberian ASI adalah dengan bergabung bersama lembaga dan masyarakat peduli ASI untuk menolak RUU kesehatan terkait dengan adanya kata-kata susu formula dalam RUU tersebut. Hingga akhirnya AIMI dan pihak lain berhasil mendesak para wakil rakyat untuk menghapuskan kata susu formula serta memberikan pasal sanksi bagi semua pihak yang menghalangi pemberian ASI.
Susu formula selama ini diklaim sebagai produk steril, tapi menurut Mia, siapa yang bisa menjamin bahwa produk tersebut benar-benar steril. Karena dalam prosesnya harus melalui berbagai tahapan hingga akhirnya bisa dijual, ada banyak kemungkinan kontaminasi seperti saat proses di pabrik, proses pengiriman serta saat membuat susu formula, apakah botol dan airnya sudah steril.
"Saat bayi baru lahir, ususnya masih berbentuk bolong-bolong dan hanya bisa tertutup sempurna oleh kolostrum yang terdapat di ASI. Lalu apa jadinya jika usus yang bolong tersebut diisi oleh zat asing seperti susu formula, hal ini justru sangat berisiko," ungkap Mia Sutanto.
ASI sebenarnya sudah terbentuk sejak usia kehamilan 16 hingga 22 minggu dan saat plasenta bayi sudah keluar maka dengan sendirinya hormon kehamilan akan menurun sedangkan hormon menyusui akan meningkat. Saat 1-3 hari setelah melahirkan, ASI cenderung akan bertambah banyak dan semakin sering ASI disedot oleh bayi maka produksinya akan semakin banyak.
Pada intinya tidak ada alasan bagi ibu untuk tidak memberikan ASI pada bayinya, karena semua zat yang diperlukan oleh bayi saat baru lahir sudah terdapat di dalam ASI. Diperkirakan hanya 1 dari 1.000 ibu yang tidak bisa menyusui anaknya karena ada kelainan di payudara sang ibu dan kelainan ini sudah bisa terdeteksi sejak masa kehamilan.
Diketahui jelas Mia, sebenarnya banyak risiko yang bisa ditimbulkan jika ibu tidak memberikan ASI dan hanya memberikan susu formula saja. Salah satunya adalah kemungkinan terkontaminasi bakteri dari luar, daya tahan tubuh bayi tidak terlalu kuat serta bisa merusak gigi bayi nantinya akibat penggunaan botol susu.
"Bagi ibu yang menyusui dukungan dari suami, orangtua dan juga sang mertua sangat diperlukan agar si ibu lebih percaya diri. Maka diharapkan tahun 2010 tingkat ibu menyusui di Indonesia bisa meningkat," ujar Nia Umar, wakil ketua dari AIMI.
Banyak cara yang bisa dilakukan oleh ibu untuk tetap memberikan ASI pada anaknya termasuk bagi ibu yang bekerja atau sedang bepergian. Misalnya dengan memompa ASI dan menyimpannya di kulkas atau jika sedang di luar bisa dengan cara menggunakan pakaian berkancing depan dan menutupinya dengan selendang atau pasmina.
"Maka ASI bukanlah yang terbaik tapi the only option (satu-satunya pilihan) susu bagi bayi," ungkap Mia.
Vera Farah Bararah - detikHealth
Asap Rokok Bikin Bayi Hipertensi
KOMPAS.com - Anda sedang hamil namun membandel tetap merokok? Ini adalah pertanda buruk bagi janin yang sedang Anda kandung. Selain mengganggu perkembangan saraf dan kecerdasan, studi terbaru menunjukkan tekanan darah bayi juga ikut terganggu.
Penelitian yang dilakukan peneliti senior dari Karolinska Institute, Stockhlom, menunjukkan bayi yang lahir dari ibu perokok memiliki masalah tekanan darah hingga mereka berusia satu tahun. "Gangguan tekanan darah ini bukannya menghilang namun terus memburuk seiring bertambahnya usia bayi," kata Gary Cohen, ketua peneliti.
Penelitian dilakukan dengan membandingkan balita dari ibu bukan perokok dengan balita yang ibunya merokok sampai 15 batang meski saat sedang hamil. Di usia satu minggu, dua persen bayi dari kelompok ibu perokok mengalami peningkatan tekanan darah dan 10 persennya di usia setahun.
Pola gangguan tekanan darah ini terjadi pada bayi berusia seminggu dan pada saat mereka berusia setahun. Selain itu, bayi yang lahir dari ibu perokok juga mengalami gangguan denyut jantung. Gangguan-gangguan tersebut diyakini akan membawa masalah kesehatan jangka panjang. Demikian tulis Cohen dalam jurnal kesehatan Hypertension.
Cohen menjelaskan, asap rokok akan merusak struktur dan fungsi pembuluh darah, terutama endotel, lapisan pelindung pembuluh darah. Namun ia tidak bisa menjawab apakah kerusakan ini bersifat permanen. "Kami hanya mengamati gangguan ini selama 12 bulan, namun berencana untuk melakukan penelitian lanjutan," katanya.
Hasil penelitian para ahli dari Karolinska ini senada dengan hasil studi yang meneliti kesehatan bayi yang lahir dari ibu pengguna narkoba. "Bayi-bayi itu bisa mengalami gangguan sirkuit otak," kata Barry M.Lester, dokter anak dari Brown Medical School yang telah meneliti efek jangka panjang dari ibu hamil pengguna narkoba. "Para pengguna narkoba biasanya juga merokok," tambahnya.
"Efek asap rokok pada fungsi saraf janin mirip dengan efek kokain dan methaphetamin," kata Lester.
Berbagai hasil studi membuktikan gangguan kesehatan yang dialami janin terkait dengan produksi berlebihan hormon kortisol atau hormon stres yang berperan penting untuk mengatur tekanan darah dan sistem imun. Bila diproduksi berlebihan, kortisol bisa merusak sistem kekebalan tubuh sehingga bayi lebih rentan infeksi.
Asap rokok yang mengancam kesehatan janin bukan hanya berasal dari ibu yang merokok saat hamil tapi juga termasuk calon ayah yang kecanduan merokok sehingga janin menjadi perokok pasif.
*otak manusia selalu dipenuhi oleh berbagai macam hal atau usaha bagaimana menyenangkan diri sendiri, dan mungkin untuk mencapai hal itu akan digunakan berbagai macam cara, baik cara menurutnya benar ataupun kalau perlu menggunakan cara yang sebetulnya ia mengetahui persis bahwa cara itu salah. Semua cara akan dibungkus oleh pembenaran – pembenaran yang dibuat sedemikian rupa agar bisa diterima oleh orang lain. Cara seperti ini akan secara turun temurun diturunkan, sehingga akan menjadi semacam budaya yang akan dianggap benar oleh keturunannya.
Contoh yang paling mudah di zaman sekarang adalah soal MEROKOK. Dorongan untuk MEROKOK sangat kuat karena diajarkan oleh lingkungan dan pergaulan, dan ketika sudah memulai, maka akan sangat sulit untuk menghentikannya.
Di dalam rokok ada zat-zat berbahaya yang membuat pemakainya menjadi merasa enak dan membuatnya ketagihan. Padahal semua perokok tahu persis, bahwa yang dilakukannya itu salah, dan rokok mengandung berbagai macam zat berbahaya yang akan merusaknya dalam waktu tidak seketika seperti KANKER, SERANGAN JANTUNG, IMPOTENSI, GANGGUAN KEHAMILAN dan GANGGUAN PADA JANIN.
Bahkan yang sebetulnya paling dirugikan adalah para perokok pasif. Mereka yang tidak merokok akan menghisap asap rokok dari hidung dan langsung ke paru-paru, dan itu secara lambat laun akan merusak kesehatan mereka, terutama pada anak-anak. Akan tetapi para perokok itu sama sekali tidak perduli, kesehatan mereka saja tidak diperdulikan, apalagi kesehatan orang lain.
Hanya satu dipikiran mereka , bagaimana caranya supaya enak. Berbagai macam pembenaran dilakukan seperti merokok itu gaul, merokok itu berselera tinggi dan elite, merokok itu membantu mereka yang bekerja di pabrik rokok, merokok itu menjernihkan pikiran, dan berbagai macam alasan menyedihkan lainnya. Padahal apabila menjawab dengan jujur, mereka akan berkata bahwa ROKOK ITU ADALAH RACUN*.
*Bahan dasar dari rokok adalah Tembakau. Bangsa ATLANTIS dahulu mengembangkan sebuah tanaman bernama UMBAKA yang merupakan singkatan dari UDERHA MONGULATUS BRODEA AGRETUS KEKRIVEROS AMATHEADUS atau diterjemahkan dengan UDARA MENGOTORI BADAN UNTUK MENG-AGRESI KEPALA DAN OTAK AGAR HILANG AMANAH DAN PIKIRAN.
UMBAKA ini atau yang sekarang dikenal sebagai Tembakau, memang dirancang agar manusia yang menghisapnya menjadi ketagihan, dengan demikian mutu darahnya menjadi tidak bagus, otomatis akan menambah jumlah KLAD di badan, sehingga kemampuan akan menjadi turun secara drastis. Pola pikir mereka menjadi terbatas, tidak akan mampu membaca alam secara baik dan benar.
Begitupun perokok pasif, mereka akan bernasib sama, bahkan lebih parah karena menghisap dari hidung. Hal itu sudah diperhitungkan oleh Bangsa pengembang agar hanya Bangsa mereka lah yang maju, dan bangsa lain hanya sebagai buruh-buruh dan robot-robot mereka. Terbukti, sekarang usaha mereka berhasil. Mereka berhasil mengembangkan UMBAKA ini ke seluruh dunia, dan berhasil pula menguasai dunia.
Pelajaran untuk menyenangkan diri sendiri ini sudah sangat mengakar di masyarakat zaman sekarang.
Rasulullah saw. bersabda, "Tidak boleh (menimbulkan) bahaya dan tidak boleh pula membahayakan orang lain." (HR. Ibnu Majah dari kitab Al-Ahkam 2340).
Allah SWT Berfirman , “Dihalalkan atas mereka apa-apa yang baik, dan diharamkan atas mereka apa-apa yang buruk .” (al-A’raf: 157).
"Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri dalam kebinasaan." (Al-Baqarah: 195)
"Dan janganlah kamu membunuh dirimu sendiri. Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepada mu." An-Nisa: 29
Penelitian yang dilakukan peneliti senior dari Karolinska Institute, Stockhlom, menunjukkan bayi yang lahir dari ibu perokok memiliki masalah tekanan darah hingga mereka berusia satu tahun. "Gangguan tekanan darah ini bukannya menghilang namun terus memburuk seiring bertambahnya usia bayi," kata Gary Cohen, ketua peneliti.
Penelitian dilakukan dengan membandingkan balita dari ibu bukan perokok dengan balita yang ibunya merokok sampai 15 batang meski saat sedang hamil. Di usia satu minggu, dua persen bayi dari kelompok ibu perokok mengalami peningkatan tekanan darah dan 10 persennya di usia setahun.
Pola gangguan tekanan darah ini terjadi pada bayi berusia seminggu dan pada saat mereka berusia setahun. Selain itu, bayi yang lahir dari ibu perokok juga mengalami gangguan denyut jantung. Gangguan-gangguan tersebut diyakini akan membawa masalah kesehatan jangka panjang. Demikian tulis Cohen dalam jurnal kesehatan Hypertension.
Cohen menjelaskan, asap rokok akan merusak struktur dan fungsi pembuluh darah, terutama endotel, lapisan pelindung pembuluh darah. Namun ia tidak bisa menjawab apakah kerusakan ini bersifat permanen. "Kami hanya mengamati gangguan ini selama 12 bulan, namun berencana untuk melakukan penelitian lanjutan," katanya.
Hasil penelitian para ahli dari Karolinska ini senada dengan hasil studi yang meneliti kesehatan bayi yang lahir dari ibu pengguna narkoba. "Bayi-bayi itu bisa mengalami gangguan sirkuit otak," kata Barry M.Lester, dokter anak dari Brown Medical School yang telah meneliti efek jangka panjang dari ibu hamil pengguna narkoba. "Para pengguna narkoba biasanya juga merokok," tambahnya.
"Efek asap rokok pada fungsi saraf janin mirip dengan efek kokain dan methaphetamin," kata Lester.
Berbagai hasil studi membuktikan gangguan kesehatan yang dialami janin terkait dengan produksi berlebihan hormon kortisol atau hormon stres yang berperan penting untuk mengatur tekanan darah dan sistem imun. Bila diproduksi berlebihan, kortisol bisa merusak sistem kekebalan tubuh sehingga bayi lebih rentan infeksi.
Asap rokok yang mengancam kesehatan janin bukan hanya berasal dari ibu yang merokok saat hamil tapi juga termasuk calon ayah yang kecanduan merokok sehingga janin menjadi perokok pasif.
*otak manusia selalu dipenuhi oleh berbagai macam hal atau usaha bagaimana menyenangkan diri sendiri, dan mungkin untuk mencapai hal itu akan digunakan berbagai macam cara, baik cara menurutnya benar ataupun kalau perlu menggunakan cara yang sebetulnya ia mengetahui persis bahwa cara itu salah. Semua cara akan dibungkus oleh pembenaran – pembenaran yang dibuat sedemikian rupa agar bisa diterima oleh orang lain. Cara seperti ini akan secara turun temurun diturunkan, sehingga akan menjadi semacam budaya yang akan dianggap benar oleh keturunannya.
Contoh yang paling mudah di zaman sekarang adalah soal MEROKOK. Dorongan untuk MEROKOK sangat kuat karena diajarkan oleh lingkungan dan pergaulan, dan ketika sudah memulai, maka akan sangat sulit untuk menghentikannya.
Di dalam rokok ada zat-zat berbahaya yang membuat pemakainya menjadi merasa enak dan membuatnya ketagihan. Padahal semua perokok tahu persis, bahwa yang dilakukannya itu salah, dan rokok mengandung berbagai macam zat berbahaya yang akan merusaknya dalam waktu tidak seketika seperti KANKER, SERANGAN JANTUNG, IMPOTENSI, GANGGUAN KEHAMILAN dan GANGGUAN PADA JANIN.
Bahkan yang sebetulnya paling dirugikan adalah para perokok pasif. Mereka yang tidak merokok akan menghisap asap rokok dari hidung dan langsung ke paru-paru, dan itu secara lambat laun akan merusak kesehatan mereka, terutama pada anak-anak. Akan tetapi para perokok itu sama sekali tidak perduli, kesehatan mereka saja tidak diperdulikan, apalagi kesehatan orang lain.
Hanya satu dipikiran mereka , bagaimana caranya supaya enak. Berbagai macam pembenaran dilakukan seperti merokok itu gaul, merokok itu berselera tinggi dan elite, merokok itu membantu mereka yang bekerja di pabrik rokok, merokok itu menjernihkan pikiran, dan berbagai macam alasan menyedihkan lainnya. Padahal apabila menjawab dengan jujur, mereka akan berkata bahwa ROKOK ITU ADALAH RACUN*.
*Bahan dasar dari rokok adalah Tembakau. Bangsa ATLANTIS dahulu mengembangkan sebuah tanaman bernama UMBAKA yang merupakan singkatan dari UDERHA MONGULATUS BRODEA AGRETUS KEKRIVEROS AMATHEADUS atau diterjemahkan dengan UDARA MENGOTORI BADAN UNTUK MENG-AGRESI KEPALA DAN OTAK AGAR HILANG AMANAH DAN PIKIRAN.
UMBAKA ini atau yang sekarang dikenal sebagai Tembakau, memang dirancang agar manusia yang menghisapnya menjadi ketagihan, dengan demikian mutu darahnya menjadi tidak bagus, otomatis akan menambah jumlah KLAD di badan, sehingga kemampuan akan menjadi turun secara drastis. Pola pikir mereka menjadi terbatas, tidak akan mampu membaca alam secara baik dan benar.
Begitupun perokok pasif, mereka akan bernasib sama, bahkan lebih parah karena menghisap dari hidung. Hal itu sudah diperhitungkan oleh Bangsa pengembang agar hanya Bangsa mereka lah yang maju, dan bangsa lain hanya sebagai buruh-buruh dan robot-robot mereka. Terbukti, sekarang usaha mereka berhasil. Mereka berhasil mengembangkan UMBAKA ini ke seluruh dunia, dan berhasil pula menguasai dunia.
Pelajaran untuk menyenangkan diri sendiri ini sudah sangat mengakar di masyarakat zaman sekarang.
Rasulullah saw. bersabda, "Tidak boleh (menimbulkan) bahaya dan tidak boleh pula membahayakan orang lain." (HR. Ibnu Majah dari kitab Al-Ahkam 2340).
Allah SWT Berfirman , “Dihalalkan atas mereka apa-apa yang baik, dan diharamkan atas mereka apa-apa yang buruk .” (al-A’raf: 157).
"Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri dalam kebinasaan." (Al-Baqarah: 195)
"Dan janganlah kamu membunuh dirimu sendiri. Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepada mu." An-Nisa: 29
ASI Lindungi dan Sehatkan Bayi Anda
PARA IBU HENDAKLAH MENYUSUKAN ANAK - ANAKNYA SELAMA DUA TAHUN PENUH , YAITU BAGI YANG INGIN MENYEMPURNAKAN PENYUSUAN...
AL - BAQARAH : 233
KOMPAS.com - Air Susu Ibu (ASI) kaya akan berbagai nutrisi penting juga faktor-faktor yang memperkuat imun tubuh yang dibutuhkan bayi untuk bertumbuh dan berkembang.
Pemberian air susu ibu secara eksklusif yang diberikan enam bulan pertama menyusui menurut dokter spesialis anak dr Jeanne Roos Tikoalu akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan optimal bayi di masa berikutnya.
Selain memberikan perlindungan terhadap infeksi dan alergi, ASI juga akan merangsang pertumbuhan sistem kekebalan tubuh bayi, mengandung komponen anti inflamasi dan antioksidan. Karena itu, dengan memberikan ASI, ibu memberikan yang terbaik untuk kekebalan dan kesehatan si kecil.
Laporan wartawan KOMPAS Evy Rachmawati
AL - BAQARAH : 233
KOMPAS.com - Air Susu Ibu (ASI) kaya akan berbagai nutrisi penting juga faktor-faktor yang memperkuat imun tubuh yang dibutuhkan bayi untuk bertumbuh dan berkembang.
Pemberian air susu ibu secara eksklusif yang diberikan enam bulan pertama menyusui menurut dokter spesialis anak dr Jeanne Roos Tikoalu akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan optimal bayi di masa berikutnya.
Selain memberikan perlindungan terhadap infeksi dan alergi, ASI juga akan merangsang pertumbuhan sistem kekebalan tubuh bayi, mengandung komponen anti inflamasi dan antioksidan. Karena itu, dengan memberikan ASI, ibu memberikan yang terbaik untuk kekebalan dan kesehatan si kecil.
Laporan wartawan KOMPAS Evy Rachmawati
ASI Satu Jam Pertama Selamatkan Bayi
PARA IBU HENDAKLAH MENYUSUKAN ANAK - ANAKNYA SELAMA DUA TAHUN PENUH , YAITU BAGI YANG INGIN MENYEMPURNAKAN PENYUSUAN...
AL - BAQARAH : 233
YOGYAKARTA, KOMPAS.COM SABTU - Konselor air susu ibu (ASI) Dinas Kesehatan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Amiruddin mengatakan, pemberian ASI pada satu jam pertama setelah persalinan akan membantu memastikan keselamatan bayi yang dilahirkan.
"Berdasarkan penelitian, menyusui pada satu jam pertama kehidupan menyelamatkan lebih dari satu juta bayi, karena itu masyarakat perlu digerakkan untuk memberikan ASI pada satu jam pertama agar dapat menyelamatkan bayi," ungkapnya pada acara sosialsiasi desa siaga di Yogyakarta, Sabtu (29/11).
Selain itu, masyarakat dianjurkan untuk melakukan kontak kulit dengan bayi segera setelah lahir, kemudian dilanjutkan dengan menyusui pada satu jam pertama.
"Setiap institusi yang berkaitan dengan kesehatan dianjurkan untuk menjadikan program menyusui pada satu jam pertama sebagai tindakan preventif serta memastikan keluarga dan masyarakat betapa pentingnya menyusui pada satu jam pertama," ujarnya.
Mereka harus aktif menganjurkan dan memastikan bayinya diberi kesempatan mendapat ASI pada satu jam pertama. Ia mengatakan, strategi yang harus dilakukan untuk menempuh progam itu adalah mengembangkan dan menerapkan legislasi yang melindungi perilaku pemberian ASI pada satu jam pertama menyusui.
Selanjutnya, kata dia, meningkatkan kepedulian para pengambil keputusan, tokoh masyarakat, masyarakat luas dan keluarga tentang pentingnya menyusui pada satu jam pertama.
"Selain itu , mengupayakan agar semua petugas dan sarana pelayanan kesehatan mendukung perilaku menyusui yang optimal," ujarnya.
Sementara pihak rumah sakit atau sarana kesehatan lainnya diharapkan menilai tempat persalinan dan hambatan pelaksanaan menyusui pada satu jam pertama, serta menganjurkan semua pihak untuk mencatat dilaksanakan atau tidak tindakan mulai menyusui pada satu jam pertama.
"Yang juga penting adalah monitoring dan evaluasi pelaksanaan program menyusui pada satu jam pertama, sedangkan petugas kesehatan perlu pendidikan dan latihan tentang bagaimana membantu tindakan menyusui pada satu jam pertama," katanya.
Ia mengingatkan, para pengambil kebijakan perlu menganjurkan sarana persalinan dan institusi kesehatan terkait lainnya untuk memasukkan program menyusui pada satu jam pertama sebagai indikator kualitas layanan ibu dan bayi yang terbaik," tandasnya.
AL - BAQARAH : 233
YOGYAKARTA, KOMPAS.COM SABTU - Konselor air susu ibu (ASI) Dinas Kesehatan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Amiruddin mengatakan, pemberian ASI pada satu jam pertama setelah persalinan akan membantu memastikan keselamatan bayi yang dilahirkan.
"Berdasarkan penelitian, menyusui pada satu jam pertama kehidupan menyelamatkan lebih dari satu juta bayi, karena itu masyarakat perlu digerakkan untuk memberikan ASI pada satu jam pertama agar dapat menyelamatkan bayi," ungkapnya pada acara sosialsiasi desa siaga di Yogyakarta, Sabtu (29/11).
Selain itu, masyarakat dianjurkan untuk melakukan kontak kulit dengan bayi segera setelah lahir, kemudian dilanjutkan dengan menyusui pada satu jam pertama.
"Setiap institusi yang berkaitan dengan kesehatan dianjurkan untuk menjadikan program menyusui pada satu jam pertama sebagai tindakan preventif serta memastikan keluarga dan masyarakat betapa pentingnya menyusui pada satu jam pertama," ujarnya.
Mereka harus aktif menganjurkan dan memastikan bayinya diberi kesempatan mendapat ASI pada satu jam pertama. Ia mengatakan, strategi yang harus dilakukan untuk menempuh progam itu adalah mengembangkan dan menerapkan legislasi yang melindungi perilaku pemberian ASI pada satu jam pertama menyusui.
Selanjutnya, kata dia, meningkatkan kepedulian para pengambil keputusan, tokoh masyarakat, masyarakat luas dan keluarga tentang pentingnya menyusui pada satu jam pertama.
"Selain itu , mengupayakan agar semua petugas dan sarana pelayanan kesehatan mendukung perilaku menyusui yang optimal," ujarnya.
Sementara pihak rumah sakit atau sarana kesehatan lainnya diharapkan menilai tempat persalinan dan hambatan pelaksanaan menyusui pada satu jam pertama, serta menganjurkan semua pihak untuk mencatat dilaksanakan atau tidak tindakan mulai menyusui pada satu jam pertama.
"Yang juga penting adalah monitoring dan evaluasi pelaksanaan program menyusui pada satu jam pertama, sedangkan petugas kesehatan perlu pendidikan dan latihan tentang bagaimana membantu tindakan menyusui pada satu jam pertama," katanya.
Ia mengingatkan, para pengambil kebijakan perlu menganjurkan sarana persalinan dan institusi kesehatan terkait lainnya untuk memasukkan program menyusui pada satu jam pertama sebagai indikator kualitas layanan ibu dan bayi yang terbaik," tandasnya.
ASI Dongkrak IQ Bayi
PARA IBU HENDAKLAH MENYUSUKAN ANAK - ANAKNYA SELAMA DUA TAHUN PENUH , YAITU BAGI YANG INGIN MENYEMPURNAKAN PENYUSUAN...
AL - BAQARAH : 233
INGIN memiliki buah hati cerdas? Berikanlah ASI sejak lahir karena bayi yang mendapat air susu ibu terbukti memiliki kecerdasan lebih tinggi ketimbang mereka yang hanya diberi susu formula.
Besarnya manfaat ASI bagi kecerdasan bayi diungkapkan para peneliti dari McGill University di Kanada. Hasil riset mereka menyimpulkan bahwa bayi peminum AS menunjukkan hasil tes IQ yang lebih baik pada usia enam tahun.
Namun begitu, para peneliti tidak dapat memastikan apakah tingginya IQ tersebut disebabkan air susu atau pengaruh dari aktivitas menyusui . Riset yang melibatkan 14 ribu anak ini adalah bukti terbaru dari sekian banyak laporan tentang pengaruh positif ASI terhadap kecerdasan.
Masalah yang kerap dihadapi penelitian sebelumnya adalah kesulitan menentukan apakah hasil temuan berkaitan dengan fakta bahwa ibu dari kalangan elit cenderung mau memberi ASI, serta beragam faktor lain yang berhubungan dengan keadaan keluarga yang mempengaruhi kecerdasan.
Namun riset terbaru yang juga dimuat Archives of General Psychiatry ini mencoba memperhitungkan masalah tersebut dengan memantau perkembangan anak sejak lahir di beberapa rumah sakit di Belarusia. Beberapa rumah sakit di negara ini merekomendasikan para ibu untuk menyusui bayi dengan ASI.
Dari riset terungkap bahwa anak yang mendapat ASI ekslusif selama 3 bulan pertama - dan kebanyakan juga berlanjut hingga setahun - mencatat rata-rata 5,9 poin lebih besar dalam tes IQ pada usia 6 tahun.
Para guru juga merata-ratakan anak penerima ASI secara signifikan memiliki kemampuan akademis lebih tinggi, baik dalam membaca dan menulis.
"Pemberian ASI ekslusif jangka panjang tampaknya memperbaiki perkembangan kognitif anak-anak," ujar pimpinan riset Profesor Michael Kramer.
Menurut analisa riset, beragam asam lemak yang terkandung dalam ASI diyakini mampu meningkatkan kecerdasan. Selain itu, aspek fisik dan emosional dalam proses menyusui dapat menciptakan perubahan permanen pada perkembangan otak anak.
Para peneliti juga mengindikasikan kegiatan pemberian ASI meningkatkan interaksi verbal antara ibu dan anak, yang pada gilirannya membantu perkembangan mereka.
KOMPAS.COM
AL - BAQARAH : 233
INGIN memiliki buah hati cerdas? Berikanlah ASI sejak lahir karena bayi yang mendapat air susu ibu terbukti memiliki kecerdasan lebih tinggi ketimbang mereka yang hanya diberi susu formula.
Besarnya manfaat ASI bagi kecerdasan bayi diungkapkan para peneliti dari McGill University di Kanada. Hasil riset mereka menyimpulkan bahwa bayi peminum AS menunjukkan hasil tes IQ yang lebih baik pada usia enam tahun.
Namun begitu, para peneliti tidak dapat memastikan apakah tingginya IQ tersebut disebabkan air susu atau pengaruh dari aktivitas menyusui . Riset yang melibatkan 14 ribu anak ini adalah bukti terbaru dari sekian banyak laporan tentang pengaruh positif ASI terhadap kecerdasan.
Masalah yang kerap dihadapi penelitian sebelumnya adalah kesulitan menentukan apakah hasil temuan berkaitan dengan fakta bahwa ibu dari kalangan elit cenderung mau memberi ASI, serta beragam faktor lain yang berhubungan dengan keadaan keluarga yang mempengaruhi kecerdasan.
Namun riset terbaru yang juga dimuat Archives of General Psychiatry ini mencoba memperhitungkan masalah tersebut dengan memantau perkembangan anak sejak lahir di beberapa rumah sakit di Belarusia. Beberapa rumah sakit di negara ini merekomendasikan para ibu untuk menyusui bayi dengan ASI.
Dari riset terungkap bahwa anak yang mendapat ASI ekslusif selama 3 bulan pertama - dan kebanyakan juga berlanjut hingga setahun - mencatat rata-rata 5,9 poin lebih besar dalam tes IQ pada usia 6 tahun.
Para guru juga merata-ratakan anak penerima ASI secara signifikan memiliki kemampuan akademis lebih tinggi, baik dalam membaca dan menulis.
"Pemberian ASI ekslusif jangka panjang tampaknya memperbaiki perkembangan kognitif anak-anak," ujar pimpinan riset Profesor Michael Kramer.
Menurut analisa riset, beragam asam lemak yang terkandung dalam ASI diyakini mampu meningkatkan kecerdasan. Selain itu, aspek fisik dan emosional dalam proses menyusui dapat menciptakan perubahan permanen pada perkembangan otak anak.
Para peneliti juga mengindikasikan kegiatan pemberian ASI meningkatkan interaksi verbal antara ibu dan anak, yang pada gilirannya membantu perkembangan mereka.
KOMPAS.COM
Aktivitas Selama Hamil Bikin Jantung Bayi Sehat
SEMUA orang tahu olahraga merupakan cara yang baik untuk memelihara stamina tubuh. Tak hanya itu, tubuh bahkan bisa lebih langsing dan tampak bagus.
Ternyata, bagi wanita hamil, olahraga juga punya manfaat. Sebuah penelitian baru mengungkapkan bahwa saat seorang calon ibu bekerja keras atau melakukan aktivitas fisik, janinnya akan mendapatkan efeknya, yakni jantung si janin makin kuat dan sehat. Setidaknya irama jantung tidak berdetak kencang melainkan melambat teratur. Demikian diungkapkan dalam pertemuan tahunan Experimental Biology 2008 di San Diego.
"Penelitian ini menyatakan bahwa seorang ibu yang melakukan aktivitas fisik tidak hanya mendapatkan manfaat bagi jantungnya sendiri, tetapi juga bermanfaat bagi jantung si janin. Seperti hasil penelitian rintisan yang sudah dilakukan, kami berencana akan melanjutkan penelitian yang melibatkan banyak lagi wanita hamil," ujar Linda E. May, dari Department of Anatomy di Kansas City University of Medicine and Biosciences.
10 orang wanita berpartisipasi dalam penelitian ini, separuhnya melakukan aktivitas fisik yang lain tidak. Gerakan janin seperti bernapas, gerak tubuh dan mulut dimonitor dan direkam selama 24 minggu.
Para peneliti menemukan melambatnya irama jantung secara berarti yang terjadi selama para ibu ini melakukan aktivitas fisik. Sementara irama jantung janin pada para ibu yang tidak banyak beraktivitas justru lebih tinggi.
Source: HealthyDay News
Ternyata, bagi wanita hamil, olahraga juga punya manfaat. Sebuah penelitian baru mengungkapkan bahwa saat seorang calon ibu bekerja keras atau melakukan aktivitas fisik, janinnya akan mendapatkan efeknya, yakni jantung si janin makin kuat dan sehat. Setidaknya irama jantung tidak berdetak kencang melainkan melambat teratur. Demikian diungkapkan dalam pertemuan tahunan Experimental Biology 2008 di San Diego.
"Penelitian ini menyatakan bahwa seorang ibu yang melakukan aktivitas fisik tidak hanya mendapatkan manfaat bagi jantungnya sendiri, tetapi juga bermanfaat bagi jantung si janin. Seperti hasil penelitian rintisan yang sudah dilakukan, kami berencana akan melanjutkan penelitian yang melibatkan banyak lagi wanita hamil," ujar Linda E. May, dari Department of Anatomy di Kansas City University of Medicine and Biosciences.
10 orang wanita berpartisipasi dalam penelitian ini, separuhnya melakukan aktivitas fisik yang lain tidak. Gerakan janin seperti bernapas, gerak tubuh dan mulut dimonitor dan direkam selama 24 minggu.
Para peneliti menemukan melambatnya irama jantung secara berarti yang terjadi selama para ibu ini melakukan aktivitas fisik. Sementara irama jantung janin pada para ibu yang tidak banyak beraktivitas justru lebih tinggi.
Source: HealthyDay News
Memerah ASI, Membantu Ibu dan Bayi
KOMPAS.com — Selamat bagi ibu bekerja yang memilih menyusui meski sering kali terkendala fasilitas. Meski terpisah jarak dan waktu dengan bayi, ibu yang berkomitmen menyusui bisa mengakali kondisi dengan memerah ASI.
Dukungan suami dan keluarga sangat diperlukan agar penyaluran ASI tetap lancar karena ibu harus tetap tenang dan rileks saat memerah ASI, tak hanya saat menyusui. Akan lebih menenangkan jika ibu memahami manfaat memerah ASI. Tak sekadar memenuhi kebutuhan bayi, memerah ASI juga bisa mengurangi bengkak dan perih pada payudara.
"Pabrik ASI akan terus berproduksi, bahkan sejak masa kehamilan usia 13 minggu. Saluran ASI pada payudara juga bukan untuk menyimpan ASI, melainkan untuk disalurkan. Jadi, payudara harus dikosongkan dengan menyusui atau memerah ASI," papar Farahdiba Tenrilemba Jafar, Sekretaris Jendral Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI), saat workshop bertema "Breastfeeding Tips for Working Moms" di Jakarta beberapa waktu lalu.
Memerah ASI membantu ibu
Dengan kondisi tertentu, karena bekerja atau bayi lahir prematur, ibu tak bisa menyusui. Memerah ASI menjadi solusinya karena bagaimanapun ASI tetap diproduksi dan tersedia di pabrik ASI, yakni payudara. Jika ASI tidak disalurkan, maka payudara bisa bengkak. Adapun puting dan areola menjadi kering, lalu menimbulkan rasa perih.
"Puting perih karena luka dan lecet. Teteskan ASI dan oleskan pada area puting dan areola untuk mengatasi perih," kata Diba.
Selain itu, dengan memerah ASI, ibu bisa mengurangi sumbatan atau stasis ASI. Ibu juga akan lebih tenang meninggalkan bayi untuk bekerja, jika sudah mempersiapkan pasokan ASI dengan memerahnya. Bahkan, pasokan ASI perah ini sangat berguna ketika ibu atau bayi sakit.
Problem paling umum bagi ibu pasca-melahirkan di antaranya ASI yang menetes. Jadi, sebaiknya sempatkan waktu sesuai kebiasaan dan kebutuhan untuk memerah ASI agar ASI tidak menetes terus-menerus.
Memerah ASI membantu bayi
ASI menjadi asupan gizi paling alami dari ibu. Bekerja tak lantas menjadi kendala untuk memberikan ASI. Dengan memerah ASI, ibu bisa memenuhi kebutuhan bayi.
Di sisi lain, ASI perah dibutuhkan untuk beberapa kondisi bayi, seperti bayi lahir prematur atau bayi berat lahir rendah (BBLR) yang tidak bisa menyusu atau bayi yang kesulitan menghisap payudara.
Selalu ada cara memberi ASI pada bayi dengan kebutuhan khusus ini bukan? Misalnya dengan memerah ASI dan memberikannya menggunakan teknik yang tepat dan bukan dengan dot.
WAF
Dukungan suami dan keluarga sangat diperlukan agar penyaluran ASI tetap lancar karena ibu harus tetap tenang dan rileks saat memerah ASI, tak hanya saat menyusui. Akan lebih menenangkan jika ibu memahami manfaat memerah ASI. Tak sekadar memenuhi kebutuhan bayi, memerah ASI juga bisa mengurangi bengkak dan perih pada payudara.
"Pabrik ASI akan terus berproduksi, bahkan sejak masa kehamilan usia 13 minggu. Saluran ASI pada payudara juga bukan untuk menyimpan ASI, melainkan untuk disalurkan. Jadi, payudara harus dikosongkan dengan menyusui atau memerah ASI," papar Farahdiba Tenrilemba Jafar, Sekretaris Jendral Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI), saat workshop bertema "Breastfeeding Tips for Working Moms" di Jakarta beberapa waktu lalu.
Memerah ASI membantu ibu
Dengan kondisi tertentu, karena bekerja atau bayi lahir prematur, ibu tak bisa menyusui. Memerah ASI menjadi solusinya karena bagaimanapun ASI tetap diproduksi dan tersedia di pabrik ASI, yakni payudara. Jika ASI tidak disalurkan, maka payudara bisa bengkak. Adapun puting dan areola menjadi kering, lalu menimbulkan rasa perih.
"Puting perih karena luka dan lecet. Teteskan ASI dan oleskan pada area puting dan areola untuk mengatasi perih," kata Diba.
Selain itu, dengan memerah ASI, ibu bisa mengurangi sumbatan atau stasis ASI. Ibu juga akan lebih tenang meninggalkan bayi untuk bekerja, jika sudah mempersiapkan pasokan ASI dengan memerahnya. Bahkan, pasokan ASI perah ini sangat berguna ketika ibu atau bayi sakit.
Problem paling umum bagi ibu pasca-melahirkan di antaranya ASI yang menetes. Jadi, sebaiknya sempatkan waktu sesuai kebiasaan dan kebutuhan untuk memerah ASI agar ASI tidak menetes terus-menerus.
Memerah ASI membantu bayi
ASI menjadi asupan gizi paling alami dari ibu. Bekerja tak lantas menjadi kendala untuk memberikan ASI. Dengan memerah ASI, ibu bisa memenuhi kebutuhan bayi.
Di sisi lain, ASI perah dibutuhkan untuk beberapa kondisi bayi, seperti bayi lahir prematur atau bayi berat lahir rendah (BBLR) yang tidak bisa menyusu atau bayi yang kesulitan menghisap payudara.
Selalu ada cara memberi ASI pada bayi dengan kebutuhan khusus ini bukan? Misalnya dengan memerah ASI dan memberikannya menggunakan teknik yang tepat dan bukan dengan dot.
WAF
Wednesday, November 2, 2011
Awas, Bahaya Zat Kimia Mengancam Bayi Anda
Shampo, lotion dan bedak ternyata berpotensi membuat bayi tidak terlindungi dari zat-zat kimia yang diduga dapat menimbulkan masalah reproduksi, ungkap sebuah studi berskala kecil.
Zat-zat kimia yang disebut Phthalate itu dapat ditemukan pada banyak produk umum termasuk kosmetik, mainan, lantai vinil dan obat-obatan. Phthalate digunakan untuk menstabilkan aroma dan membuat plastik menjadi lentur.
Dalam studi tersebut, kandungan Phthalate cukup tinggi ditemukan pada air seni sejumlah bayi usai mereka menggunakan produk shampo, lotion atau bedak khusus.
Phthalate mendapat perhatian khusus dari beberapa kelompok pecinta lingkungan hidup, namun para ahli masih belum mengetahui pasti bahaya potensial seperti apa yang dapat ditimbulkan oleh Phthalate - jika memang ada. Berbeda dengan pemerintah federal, California dan beberapa negara telah membatasi penggunaan Phthalate.
Dari sejumlah studi terhadap hewan, disimpulkan bahwa Phthalate dapat menyebabkan cacat kelahiran turunan. Selain itu, beberapa aktivis percaya jika Phthalate dapat menimbulkan masalah reproduksi pada anak laki-laki dan pubertas dini pada anak perempuan.
Meski begitu, tidak banyak bukti ilmiah yang kuat untuk mendukung dugaan tersebut. Studi kali ini juga tidak dapat membuktikan secara langsung bahwa produk yang digunakan para bayi mengandung Phthalate, dan tidak ada bukti bahwa Phthalate pada air seni bayi dapat menimbulkan gangguan. Namun tetap saja kelompok lingkungan hidup yang mendukung pembatasan Phthalate merasa khawatir atas temuan studi itu.
"Pembentukan undang-undang untuk menekan industri kecantikan guna membereskan masalah ini adalah hal yang cukup penting," ujar Stacy Malkan dari Health Care Without Harm.
Dr Sheela Sathyanarayana, penulis utama studi sekaligus seorang dokter anak dari University of Washington, menyebutkan, "Intinya adalah zat-zat kimia tersebut agaknya memang ada di dalam produk-produk bayi yang kerap kini gunakan untuk anak-anak kita dan zat-zat kimia itu dapat berdampak terhadap kesehatan."
Bayi umumnya tidak membutuhkan lotion atau bedak khusus. Air atau sedikit shampo sudah cukup untuk membersihkan rambut bayi, jela Sathyanarayana.
Para orangtua yang khawatir dapat mencari produk-produk berlabel "bebas-Phthalate," atau mencari produk yang mengandung Phthalate umum, termasuk DEP dan DEHP.
Namun zat-zat kimia biasanya tidak dimuat di label produk, sebab produk eceran tidak diharuskan untuk mencatumkan bahan-bahan pengharum - sumber utama phthalate - satu persatu.
Administrasi Obat dan Makanan tidak memiliki bukti kuat bahwa phthalate dapat menimbulkan risiko keselamatan jika digunakan pada kosmetik, ungkap jurubicara bernama Stephanie Kwisnek. "Begitu data baru muncul, maka kami akan menginformasikannya kepada masyarakat dan juga produsen."
Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (CDC) federal menyebutkan, dampak kesehatan pada manusia masih belum jelas.
"Walaupun beberapa studi telah meneliti hubungan phthalate dengan dampak perkembangan dan reproduksi (kualitas cairan semen, perkembangan alat kelamin pada anak laki-laki, berkurangnya masa kehamilan dan perkembangan payudara dini pada anak perempuan), namun masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut," ungkap laporan CDC 2005.
Studi baru yang diterbitkan pada jurnal Pediatrics keluaran Februari itu melibatkan 163 bayi. Sebagian besarnya bayi kulit putih berusia 2 hingga 28 bulan dan tinggal di California, Minnesota dan Missouri.
Untuk mengetahui tingkat zat phthalate pada air seni bayi, para peneliti memanfaatkan popok bayi-bayi tersebut. Mereka juga menanyai para ibu apakah mereka menggunakan produk-produk bayi termasuk lotion, bedak dan lain-lain dalam 24 jam terakhir.
Seluruh sampel air seni bayi tersebut mengandung sedikitnya satu phthalate yang dapat terdeteksi. Tingkat phthalate tertinggi ditemukan pada air seni bayi yang menggunakan shampo, lotion dan bedak, dan umumnya pada bayi berusia di bawah 8 bulan.
Oleh : Harian Global
Tuesday, November 1, 2011
Merokok Saat Hamil, Lahirkan Bayi Residivis, Percaya?
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Kalangan medis sudah mewanti-wanti para ibu untuk tidak merokok saat hamil. Peringatan itu didasari atas efek negatif akibat merokok tidak sebatas menimpa ibu melainkan anak yang dikandungnya. Hasil riset terbaru mengungkap selain dampak kesehatan secara fisik, kesehatan psikis si kecil juga terancam akibat ibu yang merokok disaat kehamilan. Journal of Epidemilogy and Community Health bahkan menyebutkan adanya hubungan antara merokok saat kehamilan dengan kuantitas tindak kriminalitas anak-anak remaja.
"Prevalensi masalah sikap sangat tinggi ketika si kecil memasuki usia dewasa," papar Angela Paradis, peneliti dari Havard School of Public Health seperti dikutip dari time.com, Jum'at (19/11). Menurutnya, ada dua kelompok sikap remaja yang merupakan hasil bentukan efek negatif merokok. Kelompok pertama merupakan kelompok yang boleh dibilang 'berandalan' sedangkan kelompok kedua merupakan kelompok yang berada pada level masih mencari-cari. Melihat dari dua gejala tadi, peneliti hanya memfokuskan riset pada kelompok dewasa 'berandalan'.
Sebelumnya, peneliti menggunakan data dari 3.766 peserta dalam Collaborative Perinatal Project yang berbasis di Providence, RI, untuk belajar tentang kebiasaan merokok ibu hamil di daerah tersebut. Oleh peneliti, para ibu diwawancarai tentang kebiasan merokok mereka pada rentang tahun 1959-1966. Peneliti memilih rentang waktu itu dikarenakan era tersebut merokok dianggap tidak membahayakan kesehatan janin. Selain wawancara, peneliti juga mengambil contoh darah para ibu dan dianalisis untuk memperkuat bukti bahwa para relawan yang bersangkutan merokok. Pada tahun 1999 dan 2000 ketika semua anak yang lahir dari para relawan ini telah mencapai dewasa, peneliti segera memeriksa catatan kriminal mereka.
Berangkat dari hasil eksplorasi terhadap relawan, peneliti mencatat bahwa akibat negatif merokok saat kehamilan, para ibu telah melahirkan generasi kriminal. Pasalnya, 30 persen ibu yang merokok berat saat hamil (20 batang perhari), anak-anak mereka mendekam dalam penjara. "Meskipun kami tidak dapat secara pasti menyimpulkan bahwa merokok ibu selama kehamilan (terutama merokok berat) merupakan faktor risiko penyebab tindak kriminal saat dewasa, temuan riset melihat adanya hubungan itu," pungkas Paradis.
*otak manusia selalu dipenuhi oleh berbagai macam hal atau usaha bagaimana menyenangkan diri sendiri, dan mungkin untuk mencapai hal itu akan digunakan berbagai macam cara, baik cara menurutnya benar ataupun kalau perlu menggunakan cara yang sebetulnya ia mengetahui persis bahwa cara itu salah. Semua cara akan dibungkus oleh pembenaran – pembenaran yang dibuat sedemikian rupa agar bisa diterima oleh orang lain. Cara seperti ini akan secara turun temurun diturunkan, sehingga akan menjadi semacam budaya yang akan dianggap benar oleh keturunannya.
Contoh yang paling mudah di zaman sekarang adalah soal MEROKOK. Dorongan untuk MEROKOK sangat kuat karena diajarkan oleh lingkungan dan pergaulan, dan ketika sudah memulai, maka akan sangat sulit untuk menghentikannya.
Di dalam rokok ada zat-zat berbahaya yang membuat pemakainya menjadi merasa enak dan membuatnya ketagihan. Padahal semua perokok tahu persis, bahwa yang dilakukannya itu salah, dan rokok mengandung berbagai macam zat berbahaya yang akan merusaknya dalam waktu tidak seketika seperti KANKER, SERANGAN JANTUNG, IMPOTENSI, GANGGUAN KEHAMILAN dan GANGGUAN PADA JANIN.
Bahkan yang sebetulnya paling dirugikan adalah para perokok pasif. Mereka yang tidak merokok akan menghisap asap rokok dari hidung dan langsung ke paru-paru, dan itu secara lambat laun akan merusak kesehatan mereka, terutama pada anak-anak. Akan tetapi para perokok itu sama sekali tidak perduli, kesehatan mereka saja tidak diperdulikan, apalagi kesehatan orang lain.
Hanya satu dipikiran mereka , bagaimana caranya supaya enak. Berbagai macam pembenaran dilakukan seperti merokok itu gaul, merokok itu berselera tinggi dan elite, merokok itu membantu mereka yang bekerja di pabrik rokok, merokok itu menjernihkan pikiran, dan berbagai macam alasan menyedihkan lainnya. Padahal apabila menjawab dengan jujur, mereka akan berkata bahwa ROKOK ITU ADALAH RACUN*.
*Bahan dasar dari rokok adalah Tembakau. Bangsa ATLANTIS dahulu mengembangkan sebuah tanaman bernama UMBAKA yang merupakan singkatan dari UDERHA MONGULATUS BRODEA AGRETUS KEKRIVEROS AMATHEADUS atau diterjemahkan dengan UDARA MENGOTORI BADAN UNTUK MENG-AGRESI KEPALA DAN OTAK AGAR HILANG AMANAH DAN PIKIRAN.
UMBAKA ini atau yang sekarang dikenal sebagai Tembakau, memang dirancang agar manusia yang menghisapnya menjadi ketagihan, dengan demikian mutu darahnya menjadi tidak bagus, otomatis akan menambah jumlah KLAD di badan, sehingga kemampuan akan menjadi turun secara drastis. Pola pikir mereka menjadi terbatas, tidak akan mampu membaca alam secara baik dan benar.
Begitupun perokok pasif, mereka akan bernasib sama, bahkan lebih parah karena menghisap dari hidung. Hal itu sudah diperhitungkan oleh Bangsa pengembang agar hanya Bangsa mereka lah yang maju, dan bangsa lain hanya sebagai buruh-buruh dan robot-robot mereka. Terbukti, sekarang usaha mereka berhasil. Mereka berhasil mengembangkan UMBAKA ini ke seluruh dunia, dan berhasil pula menguasai dunia.
Pelajaran untuk menyenangkan diri sendiri ini sudah sangat mengakar di masyarakat zaman sekarang.
Rasulullah saw. bersabda, "Tidak boleh (menimbulkan) bahaya dan tidak boleh pula membahayakan orang lain." (HR. Ibnu Majah dari kitab Al-Ahkam 2340).
Allah SWT Berfirman , “Dihalalkan atas mereka apa-apa yang baik, dan diharamkan atas mereka apa-apa yang buruk .” (al-A’raf: 157).
"Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri dalam kebinasaan." (Al-Baqarah: 195)
"Dan janganlah kamu membunuh dirimu sendiri. Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepada mu." An-Nisa: 29
"Prevalensi masalah sikap sangat tinggi ketika si kecil memasuki usia dewasa," papar Angela Paradis, peneliti dari Havard School of Public Health seperti dikutip dari time.com, Jum'at (19/11). Menurutnya, ada dua kelompok sikap remaja yang merupakan hasil bentukan efek negatif merokok. Kelompok pertama merupakan kelompok yang boleh dibilang 'berandalan' sedangkan kelompok kedua merupakan kelompok yang berada pada level masih mencari-cari. Melihat dari dua gejala tadi, peneliti hanya memfokuskan riset pada kelompok dewasa 'berandalan'.
Sebelumnya, peneliti menggunakan data dari 3.766 peserta dalam Collaborative Perinatal Project yang berbasis di Providence, RI, untuk belajar tentang kebiasaan merokok ibu hamil di daerah tersebut. Oleh peneliti, para ibu diwawancarai tentang kebiasan merokok mereka pada rentang tahun 1959-1966. Peneliti memilih rentang waktu itu dikarenakan era tersebut merokok dianggap tidak membahayakan kesehatan janin. Selain wawancara, peneliti juga mengambil contoh darah para ibu dan dianalisis untuk memperkuat bukti bahwa para relawan yang bersangkutan merokok. Pada tahun 1999 dan 2000 ketika semua anak yang lahir dari para relawan ini telah mencapai dewasa, peneliti segera memeriksa catatan kriminal mereka.
Berangkat dari hasil eksplorasi terhadap relawan, peneliti mencatat bahwa akibat negatif merokok saat kehamilan, para ibu telah melahirkan generasi kriminal. Pasalnya, 30 persen ibu yang merokok berat saat hamil (20 batang perhari), anak-anak mereka mendekam dalam penjara. "Meskipun kami tidak dapat secara pasti menyimpulkan bahwa merokok ibu selama kehamilan (terutama merokok berat) merupakan faktor risiko penyebab tindak kriminal saat dewasa, temuan riset melihat adanya hubungan itu," pungkas Paradis.
*otak manusia selalu dipenuhi oleh berbagai macam hal atau usaha bagaimana menyenangkan diri sendiri, dan mungkin untuk mencapai hal itu akan digunakan berbagai macam cara, baik cara menurutnya benar ataupun kalau perlu menggunakan cara yang sebetulnya ia mengetahui persis bahwa cara itu salah. Semua cara akan dibungkus oleh pembenaran – pembenaran yang dibuat sedemikian rupa agar bisa diterima oleh orang lain. Cara seperti ini akan secara turun temurun diturunkan, sehingga akan menjadi semacam budaya yang akan dianggap benar oleh keturunannya.
Contoh yang paling mudah di zaman sekarang adalah soal MEROKOK. Dorongan untuk MEROKOK sangat kuat karena diajarkan oleh lingkungan dan pergaulan, dan ketika sudah memulai, maka akan sangat sulit untuk menghentikannya.
Di dalam rokok ada zat-zat berbahaya yang membuat pemakainya menjadi merasa enak dan membuatnya ketagihan. Padahal semua perokok tahu persis, bahwa yang dilakukannya itu salah, dan rokok mengandung berbagai macam zat berbahaya yang akan merusaknya dalam waktu tidak seketika seperti KANKER, SERANGAN JANTUNG, IMPOTENSI, GANGGUAN KEHAMILAN dan GANGGUAN PADA JANIN.
Bahkan yang sebetulnya paling dirugikan adalah para perokok pasif. Mereka yang tidak merokok akan menghisap asap rokok dari hidung dan langsung ke paru-paru, dan itu secara lambat laun akan merusak kesehatan mereka, terutama pada anak-anak. Akan tetapi para perokok itu sama sekali tidak perduli, kesehatan mereka saja tidak diperdulikan, apalagi kesehatan orang lain.
Hanya satu dipikiran mereka , bagaimana caranya supaya enak. Berbagai macam pembenaran dilakukan seperti merokok itu gaul, merokok itu berselera tinggi dan elite, merokok itu membantu mereka yang bekerja di pabrik rokok, merokok itu menjernihkan pikiran, dan berbagai macam alasan menyedihkan lainnya. Padahal apabila menjawab dengan jujur, mereka akan berkata bahwa ROKOK ITU ADALAH RACUN*.
*Bahan dasar dari rokok adalah Tembakau. Bangsa ATLANTIS dahulu mengembangkan sebuah tanaman bernama UMBAKA yang merupakan singkatan dari UDERHA MONGULATUS BRODEA AGRETUS KEKRIVEROS AMATHEADUS atau diterjemahkan dengan UDARA MENGOTORI BADAN UNTUK MENG-AGRESI KEPALA DAN OTAK AGAR HILANG AMANAH DAN PIKIRAN.
UMBAKA ini atau yang sekarang dikenal sebagai Tembakau, memang dirancang agar manusia yang menghisapnya menjadi ketagihan, dengan demikian mutu darahnya menjadi tidak bagus, otomatis akan menambah jumlah KLAD di badan, sehingga kemampuan akan menjadi turun secara drastis. Pola pikir mereka menjadi terbatas, tidak akan mampu membaca alam secara baik dan benar.
Begitupun perokok pasif, mereka akan bernasib sama, bahkan lebih parah karena menghisap dari hidung. Hal itu sudah diperhitungkan oleh Bangsa pengembang agar hanya Bangsa mereka lah yang maju, dan bangsa lain hanya sebagai buruh-buruh dan robot-robot mereka. Terbukti, sekarang usaha mereka berhasil. Mereka berhasil mengembangkan UMBAKA ini ke seluruh dunia, dan berhasil pula menguasai dunia.
Pelajaran untuk menyenangkan diri sendiri ini sudah sangat mengakar di masyarakat zaman sekarang.
Rasulullah saw. bersabda, "Tidak boleh (menimbulkan) bahaya dan tidak boleh pula membahayakan orang lain." (HR. Ibnu Majah dari kitab Al-Ahkam 2340).
Allah SWT Berfirman , “Dihalalkan atas mereka apa-apa yang baik, dan diharamkan atas mereka apa-apa yang buruk .” (al-A’raf: 157).
"Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri dalam kebinasaan." (Al-Baqarah: 195)
"Dan janganlah kamu membunuh dirimu sendiri. Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepada mu." An-Nisa: 29
Belajar Saat Tidur? Cuma Bayi yang Bisa
REPUBLIKA.CO.ID, LONDON--Bayi yang baru lahir mungkin hanya terjaga beberapa jam setiap hari, namun otak mereka tetap bekerja sepanjang waktu. Para peneliti meyakini, otak secara konstan menyesuaikan dengan keadaan di sekitarnya.
Studi dilakukan terhadap bayi-bayi berusia satu dan dua hari menunjukkan, kemampuan mereka untuk bersikap seperti spons data dengan menyerap informasi mengenai kondisi di sekitar mereka tak pernah berhenti.
Hasil studi yang dilakukan para ahli dari University of Florida itu berhasil diungkap setelah percobaan sederhana melibatkan 26 bayi yang sedang tidur.
Peneliti memainkan sebuah nada untuk mereka kemudian diikuti dengan tiupan lembut di sekitar kelopak mata. Setelah 20 menit, percobaan itu diulang. Sebanyak 24 bayi telah belajar mengantisipasi tiupan tersebut dengan menutup mata mereka.
Gelombang otak bayi juga diketahui berubah.
Seorang Psikolog, Dana Byrd mengatakan, ia menemukan bentuk dasar dari proses belajar pada bayi yang baru lahir. "Jenis pembelajaran yang mungkin tidak akan tampak pada orang dewasa yang tertidur," ujarnya.
"Bayi-bayi itu adalah pembelajar yang lebih baik, penyerap data yang lebih baik dibanding yang kita tahu. Studi sebelumnya mengungkap, kemampuan belajar tersebut ketika mereka terjaga, maka studi ini merupakan yang pertama mengetahui kemampuan itu juga dimiliki bayi yang sedang tidur," paparnya.
Studi yang dipublikasikan pada journal Proceedings of the National Academy of Sciences itu kemudian dapat digunakan untuk mengidentifikasi bayi yang tidak berkembang dengan normal seperti yang berisiko disleksia atau autis.
Studi dilakukan terhadap bayi-bayi berusia satu dan dua hari menunjukkan, kemampuan mereka untuk bersikap seperti spons data dengan menyerap informasi mengenai kondisi di sekitar mereka tak pernah berhenti.
Hasil studi yang dilakukan para ahli dari University of Florida itu berhasil diungkap setelah percobaan sederhana melibatkan 26 bayi yang sedang tidur.
Peneliti memainkan sebuah nada untuk mereka kemudian diikuti dengan tiupan lembut di sekitar kelopak mata. Setelah 20 menit, percobaan itu diulang. Sebanyak 24 bayi telah belajar mengantisipasi tiupan tersebut dengan menutup mata mereka.
Gelombang otak bayi juga diketahui berubah.
Seorang Psikolog, Dana Byrd mengatakan, ia menemukan bentuk dasar dari proses belajar pada bayi yang baru lahir. "Jenis pembelajaran yang mungkin tidak akan tampak pada orang dewasa yang tertidur," ujarnya.
"Bayi-bayi itu adalah pembelajar yang lebih baik, penyerap data yang lebih baik dibanding yang kita tahu. Studi sebelumnya mengungkap, kemampuan belajar tersebut ketika mereka terjaga, maka studi ini merupakan yang pertama mengetahui kemampuan itu juga dimiliki bayi yang sedang tidur," paparnya.
Studi yang dipublikasikan pada journal Proceedings of the National Academy of Sciences itu kemudian dapat digunakan untuk mengidentifikasi bayi yang tidak berkembang dengan normal seperti yang berisiko disleksia atau autis.
Indera Penciuman Bayi Dipengaruhi Makanan Ibu
Colorado, Makanan dan minuman yang dikonsumsi ibu hamil sangat mempengaruhi perkembangan janin di dalam kandungannya. Studi terbaru menemukan perkembangan indera penciuman bayi secara fisik dipengaruhi makanan dari ibu.
Banyak teori yang menyatakan bahwa apa yang ibu makan saat hamil akan menentukan seperti apa anaknya kelak.
Para ahli biologi di Colorado University melakukan penelitian untuk membuktikan dan menemukan penyebab mengapa hal tersebut terjadi, serta bagaimana makanan dapat mempengaruhi perkembangan fisik indera penciuman pada bayi.
Peneliti menuturkan bahwa paparan bau dari makanan yang dikonsumsi ibu saat hamil dapat memicu pertumbuhan glomeruli tertentu, yaitu struktur bola pada indera penciuman yang menghubungkan bau dari rongga hidung ke otak.
Selain bau makanan, penelitian juga menemukan bahwa bau yang paling kuat yang dirasakan janin selama dalam kandungan adalah bau dari ibunya sendiri.
"Sistem perkembangan ini sangat penting, karena hal tersebut memungkinkan bayi yang baru lahir langsung bisa mengenali bau ibunya saat baru dilahirkan," ujar Dr Josephine Todrank, pemimpin penelitian, seperti dilansir Telegraph, Kamis (2/12/2010).
Hasil penelitian ini telah dipublikasikan pada hari Rabu kemarin dalam jurnal Proceedings of The Royal Society B.
Merry Wahyuningsih - detikHealth
Bayi yang Belum Lahir Bisa Stres Juga Lho...
TILBURG--Universitas Tilburg, Belanda Senin (03/05) membuka babylab atau laboratorium bayi guna meneliti efek stres pada anak-anak yang belum lahir. Seperempat perempuan mengalami stres berlebihan selama kehamilan.
Risiko stres, menurut universitas, sama besarnya dengan risiko merokok selama kehamilan. Isu ini bukan hanya masalah bagi wanita hamil dan pasangannya, ujar Bea Van den Bergh.
Bea dikukuhkan Senin kemarin sebagai guru besar psikologi perkembangan biologi di Universitas Tilburg. Dalam pidatonya dia menyebutkan "stres sudah menjadi masalah sosial struktural. Harapan yang ditumpukan pada keluarga cukup tinggi.''
Hasil penelitian menunjukkan faktor risiko seperti kegelisahan, stres dan obesitas pada wanita hamil ikut berperan dalam menentukan masalah perilaku pada anak-anak seperti ADHD, depresi dan juga penyakit seperti kanker dan diabetes.
"Pertumbuhan sehat dimulai dari rahim, begitu juga dengan pertumbuhan setelahnya,'' tambah Van den Bergh. Oleh karenanya, penting untuk memantau faktor risiko pada masalah kesehatan dan perilaku selama kehamilan. Laboratorium bayi berperan di dalamnya.
Sumber: radio netherland
Risiko stres, menurut universitas, sama besarnya dengan risiko merokok selama kehamilan. Isu ini bukan hanya masalah bagi wanita hamil dan pasangannya, ujar Bea Van den Bergh.
Bea dikukuhkan Senin kemarin sebagai guru besar psikologi perkembangan biologi di Universitas Tilburg. Dalam pidatonya dia menyebutkan "stres sudah menjadi masalah sosial struktural. Harapan yang ditumpukan pada keluarga cukup tinggi.''
Hasil penelitian menunjukkan faktor risiko seperti kegelisahan, stres dan obesitas pada wanita hamil ikut berperan dalam menentukan masalah perilaku pada anak-anak seperti ADHD, depresi dan juga penyakit seperti kanker dan diabetes.
"Pertumbuhan sehat dimulai dari rahim, begitu juga dengan pertumbuhan setelahnya,'' tambah Van den Bergh. Oleh karenanya, penting untuk memantau faktor risiko pada masalah kesehatan dan perilaku selama kehamilan. Laboratorium bayi berperan di dalamnya.
Sumber: radio netherland
Subscribe to:
Posts (Atom)